Buku dairy itu…dibaca Mom…

Dulu ketika masih kecil, saya suka menulis di buku dairy. Buku dairy pertama yang saya ingat adalah buku kecil berwarna merah bergambar beruang yang sagat imut. Itu buku yang dibelikan Mom untuk saya. Saya mulai menulis beberapa di sana. Awalnya sayang buku itu jika dipakai, saya lebih sayang dengan gambar beruang lucu di tiap lembarnya. Namun suatu ketika saya mendapati secarik kertas berwarna biru muda. Saya menuliskan perasaan saya kala itu.

Isinya, saya suka dengan seseorang….

Konyol jika di ingat-ingat. Saya pun malu jika suatu ketika teringat apa yang saya tulis. Hihihi saya jadi ingin terkikik. Awalnya saya takut kalau isi hati saya dibaca oleh Mom lewat tulisan itu, saya takut tulisan itu ditemukan. Selesai menulis, saya selipkan ditengah-tengah buku dairy baru itu. Lalu saya masukkan ke dalam tas pink di bagian anak tasnya. Lalu saya berangkat ke sekolah.

Waktu itu saya masih duduk di bangku kelas 6 SD. Jalanan menuju sekolah itu sangat terjal, terlebih jika musim kemarau panasnya sungguh membakar. Sampai-sampai rambut saya merah merona (pirang maksudnya). Namun saya tetap cantik kala itu.

Anak yang saya suka itu tidak bersekolah di tempat yang sama. Dia setahun lebih tua dari saya, tepatnya dia kakak kelas saya. Dulu sering bertemu ketika ada ivent yang melibatkan saya dan dia karena secara kebetulan saya punya kesamaan dengan dia. Di sanalah peristiwa cinta monyet itu terjadi. Setiap kali bertemu rasanya jantung ini berdetak kencang sekali. Begitu kencangnya sampai rasanya sesak sekali. Oh….

Sepulang sekolah saya mendapati resleting tas bagian depan saya lepas. Saya bicara kepada Mom supaya diperbaiki. Saya lupa jika di tempat itulah saya menyimpan buku dairy beserta secarik kertas biru ungkapan hati saya. kekhawatiran saya menjadi nyata. Esoknya sebelum berangkat ke sekolah, buku itu ditemukan Mom dalam keadaan tertutup. Namun buku itu dibuka-buka, dalam hati mom pasti bicara “ini anak kenapa bawa buku seperti ini ke sekolah?”. Mom pun menemukan kertas itu. Dan apa yang selanjutya terjadi? Jangan bertanya lagi, jawabannya tentu tulisan itu dibacanya tanpa rasa dosa. Hiks…

Saya pun dipangilnya dalam keadaan tegang, tangan sudah dingin. “Mom jangan marah…”. Doa saya tidak terkabul. Mom marah karena saya yang masih kecil sudah suka dengan lawan jenis. Sontak saya pu patah hati. Tidak adil, Mom tidak punya hati. Aku kan hanya suka, kenapa suka tidak boleh?, ucap saya dalam hati yang sakit. Tulisan itu saya robek kecil-kecil dan saya tebarkan di tanah seraya berlari menuju ke sekolah. Berangkat sekolah sambil terisak dan menyimpan sakit, tidak enak sekali.

Mulai dari peristiwa itu saya tidak pernah lagi menulis apapun kecuali tugas dari sekolah yang memaksa saya mengarang bebas sebanyak-banyaknya. Huh…saya kesal. Namun saya tetap enjoy dengan karangan-karangan itu. Pernah suatu ketika guru saya pusing ketika menerima tulisan saya. Karangan itu panjang sekali, berlembar-lembar dan menurut guru tulisan itu bagus. Namun saya dituduh mencontek karya orang. Jengkel, sudah capek-capek nulis, dikira mencontek. Pada akhirnya pembelaan saya diterima.

Bakat menulis saya memang sempat tersendat, namun saya bertekad untuk terus belajar menulis agar kelak bisa mempublikasikan tulisan yang berkualitas. Tentu saja saya ingin menjadi penulis buku yang berkualitas seperti penulis-penulis terkenal di seruh dunia yang mendapatkan banyak penghargaan atas jerih payahnya seperti JK.Rowling, Eileen Brown, Enid Blyton dan masih banyak lagi. Sungguh merupakan kepuasan tersendiri jika dapat menulis yang berkualitas. Terutama karena saya ingin memberikan karya terbaik saya untuk anak-anak di negeri ini melalui tulisan, buku dengan ilustrator saya sendiri, lagu yang saya ciptakan sendiri dan karya-karya lainnya yang bisa saya berikan untuk mereka belajar. Saya diberi kemampuan oleh sang Pencipta untuk bisa mendengar, melihat dan bicara. Juga merasakan. Saya merasakan perasaan anak-anak, saya mendengar setiap ucapannya, juga bicaranya. Saya ingin memberikan apa yang tidak bisa mereka dengar, tidak bisa mereka rasakan, tidak bisa mereka ucapkan di setiap harinya seperti yang saya dapatkan.

We are all needy, and, if we are lucky and any good, we grow old using others and getting used up. Tears fall in our lives like leaves from a tree. Our finitude is not something to be regretted or despised, however, it is what makes giving and receiving possible.

 Bismillahirrahmanirrahim….

Advertisements

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s