Trans-Jakarta, Saatnya wanita diutamakan.

karcis Trans-Jakarta

karcis Trans-Jakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terakhir kali saya naik Trans-J itu ketika berbarengan dengan adanya Pesta Blogger  di Rasuna bulan lalu. Hari itu saya naik bus Trans pulang dan pergi ke suatu tempat. Kemudian saya baru naik lagi hari Minggu kemarin tepat sesudah ulang tahun saya yang ke-20. Kira-kira pukul 8.30 saya beli tiket. Harganya masih sama untuk di atas pukul 07.00 adalah Rp.3.500,00. Mungkin tarif di bawah pukul tujuh masih sama, Rp 2.000,00, saya tidak tahu.
Beberapa menit kemudian saya mendapat bus. Hari Minggu itu arus ke arah Selatan tidak padat di jam-jam itu. Saya menyadari ada sesuatu yang berbeda di dalam bus. Di beberapa sudut bus tertempel  sticker baru yang bertuliskan Ladie’s Area berwarna merah muda. Oh, jadi wanita itu pink….

 

new pink sticker

new pink sticker

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sticker itu ditempel di dekat saya duduk, sebelah kanan saya, dibelakang pak supir. Nyaman karena saya mendapat tempat duduk dan saat itu belum terlalu penuh. Ini gambar beberapa penumpang yang tidak mendapat tempat duduk.

beberapa penumpang tidak mendapat tempat duduk

beberapa penumpang tidak mendapat tempat duduk

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk mencapai tujuan, saya harus transit dulu di Grogol shelter, di sini tampak sangat ramai, sesak dan seperti biasa terlihat banyaknya penumpang yang antre untuk melanjutkan perjalanan ke arah Utara.

antrean penumpang di Grogol shelter

antrean penumpang di Grogol shelter

arus penumpang turun untuk transit ke tujuan selanjutnya.

arus penumpang turun untuk transit ke tujuan selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Inilah kondisi saat di halte Grogol. Arus ke Utara dari dulu tidak berubah, selalu padat. Begitu juga hari Minggu ini. Mungkin karena hari Natal sehingga banyak yang melakukan perjalanan. Terlebih Senin libur. Banyak orang yang tidak mau menyiakan waktu libur bulan ini. Termasuk saya, saya juga mau jalan-jalan.

jalan di depan kampus Trisakti tampak sepi

jalan di depan kampus Trisakti tampak sepi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berbeda dengan kondisi di jalan depan kampus Trisakti yang di depannya sekaligus halte Grogol tempat saya berdiri pagi tadi. Jalanan sangat lenggang, tidak banyak kendaraan di sana. Padahal biasanya padat merayap. Bahkan dulu sempat ada container yang hampir saja merobohkan halte Grogol. Container itu menyerobot busway, namun karena ketinggian container melebihi shelter, sebagian besar badan container menghantam badan dan atap shelter hingga ringsek. Suaranya menggelegar seperti petir dan mengejutkan banyak orang termasuk saya yang saat itu masih aktif memakai Trans-Jakarta.

Jakarta Selatan diguyur hujan

Jakarta Selatan diguyur hujan

sisi Utara Jakarta

sisi Utara Jakarta

hujan memicu kendaraan untuk menyerobot jalur Trans-J

hujan memicu kendaraan untuk menyerobot jalur Trans-J

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jakarta Selatan diguyur hujan. Banyak sekali kendaraan bermotor yangmeneduhkan diri di bawah halte dan warung-warung terdekat. Ada yang benar-benar berteduh menunggu hujan reda, namun ada juga yang  hanya sekedar berteduh untuk mengenakan jas hujan. Jalanan menjadi sedikit padat, banyak bunyi klakson yang dibunyikan. “Minggir-minggir saya mau lewat”,katanya. Padahal jalan sudah padat. Hujan seperti itu mengakibatkan banyak pengendara yang sering menyerobot jalur bus Trans-Jakarta.

Puas melakukan perjalanan, saya putuskan untuk pulang. Dari taman, langit tampak mendung di sebelah Selatan, saya pun bergegas membeli tiket Trans untuk kembali ke Utara. Setelah tiket disobek, pertama kali yang saya lihat adalah tempat duduk yang kosong. Aneh jika mengingat Jakarta yang selalu ramai tiba-tiba sepi. Tatapan ke dua saya terpaku pada poster baru berwarna merah muda yang terpampang di papan informasi.

new poster

woman area

woman area

agar wanita nyaman

agar wanita nyaman

saatnya wanita jadi yang utama, saatnya jadi wanita yang utama :)

saatnya wanita jadi yang utama, saatnya jadi wanita yang utama 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saatnya wanita jadi yang utama. Begitulah kata si poster cantik itu. Memang semenjak bus Trans over capacity, banyak sekali wanita yang mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Banyak pelecehan seksual yang terjadi di dalam bus yang penuh sesak itu. Jika bus penuh sesak, wanita dan pria sangat mungkin untuk bersinggungan satu sama lain. Terlebih jika keadaan macet dan sopir banyak melakukan pengereman sehingga membuat bus oleng ke depan dan belakang. Saya pun hampir mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan di bus ini. Namun kesigapan saya menggagalkan si pelaku.
Mungkin inilah salah satu alasan adanya Program pelayanan baru dari pihak bus Trans-Jakarta. Wanita dan pria di pisah dalam sisi bus yang berbeda. Selain wanita hamil, penumpang berkebutuhan khusus  dan wanita membawa anak diberikan keutamaan, kini semua wanita diprogramkan untuk diutamakan. Namun apakah ini akan berhasil?
Di halte, saya duduk sendiri saja. Halte tempat saya duduk memang sepi seperti biasanya, namun bus yang datang selalu penuh. Bus yang selalu penuh membuat saya selalu mengurungkan diri untuk ikut berdesakan di sana. Untuk itu saya menunggu sampai ada bus yang ruangnya masih dapat saya gunakan tanpa terlalu berdesakan. Sambil menunggu, saya mengamati sekeliling ruang halte itu. Dari atas ke bawah, kemudian memandang lurus, lalu terpaku pada beberapa benda yang familier.

plang tujuan dan kipas berdebu

plang tujuan dan kipas berdebu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saya melihat plang arah tujuan berwarna hijau bertuliskan warna putih, kemudian ada sebuah kipas besar yang warnanya sudah berubah menjadi hitam legam berdebu tebal. Sepertinya petugas kebersihan tidak pernah menyentuh kipas ini. Ketika panas, inilah satu-satunya yang membuat pengantre merasa lebih nyaman. Itupun jika berfungsi.

turunnya di sebelah sini...

turunnya di sebelah sini...

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di bawah, saya melihat ada 2 pasang anak panah yang berhadapan di muka pintu. Maksudnya penumpang yang turun datang dari kedua pintu itu, kanan dan kiri. Saya sering salah berdiri. Karena dekat dengan tempat duduk, ketika dari jauh bus sudah tampak saya suka beranjak dan berdiri di pintu yang salah, akibatnya bus yang seharusnya membawa penumpang itu tetap saja melaju meskipun ada penumpang yang ingin masuk. Karena saya berdiri di pintu yang salah.

memandang kedepan, tampak petugas tiket termagu sendiri

memandang kedepan, tampak petugas tiket termagu sendiri

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saya memandang jauh ke depan, tidak tampak seorangpun di depan saya kecuali petugas penyobek tiket. Jika ramai, petugas yang satu ini tidak bisa duduk seperti yang saya lihat seperti hari ini (kem arin). Halte tampak bersih, kaca di  sepanjang tubuh halte juga bersih. Sepertinya petugas baru saja membersihkannya. Pemandangan ini sangat tidak cocok jika saya kembali memandang kipas yang benar-benar usang itu.

Kejadian terulang kembali. Saya berdiri di pintu yang salah. Lagi-lagi tidak cermat. Akibatnya saya ditinggal bus yang baru saja berhenti di depan saya. kemudian saa berfikir, mengapa bus ini tidak membawa saya? barulah saya tahu kalau saya berdiri di pintu yang salah. Oh my….
Saya menunggu lagi.

Merasakan kembali moment-moment menjadi penumpang yang berdiri di tengah-tengah padatnya penumpang lainnya membuat saya kelelahan. Pengap dan oh, kaki saya yang tertumpu pada sepatu hak tinggi terpelintir ke sana kemari mengikuti topografi jalan yang bergelombang serta permainan rem dari pak sopir. Ketika tidak mendapat tempat duduk seperti ini saya selalu berdoa, “berikan aku tempat duduk”. Dan saya pun mendapatkannnya setelah beberapa saat bertahan dalam kondisi terayun-ayun. Hehehehe.

at Harmoni Shelter

at Harmoni Shelter

beraneka ragasm manusia berkumpul

beraneka ragam manusia berkumpul

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perjalanan yang sangat menguji kesabaran saya ketika berada di Harmoni shelter. Halte yang dibangun di atas aliran sungai Ciliwung itu selalu penuh sesak. Beraneka ragam kepentingan dan manusia berkumpul di sana. Keadaan perlu dimaklumi jika halte Harmoni memang difungsikan sebagai sentralnya halte-halte yang lain. Namun kondisinya yang sangat berjubel membut calon penumpang banyak kehilangan simpati dan toleransi. Semua ingin menjadi yang pertama, semua ingin mendapat tempat duduk. Perkelahianpun tidak dapat dihindarkan, seperti peristiwa perkelahian yang saya saksikan beberapa waktu yang lalu.

duduk dulu saja, biarkan mereka duluan..

duduk dulu saja, biarkan mereka duluan..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Calon penumpang yang menyerah dengan kondisi padatnya haltepun memutuskan untuk duduk saja di bangku yang tersedia. Seperti saya sekarang (kemarin), malah asyik mengambil gambar-gambar aneka manusia di sini. Hehehehe

sang ibu duduk berdampingan (satu kursi berdua) dengan pemuda di sebelahnya. Sang pacar tampak di belakang sang pemuda

sang ibu duduk berdampingan (satu kursi berdua) dengan pemuda di sebelahnya. Sang pacar tampak di belakang sang pemuda

Perjalanan pulang saya lanjutkan setelah mendapat bus yang kosong. Perjalanan kali ini membuahkan jawaban atas pertanyaan saya. Saatnya wanita jadi yang utama, ternyata tidak juga. Di depan saya ada kejadian yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Ada seorang ibu dengan anaknya yang masih kecil tidak mendapat tempat duduk. Petugas meminta salah seorang pria yang duduk untuk menggantikan posisi si ibu. Namun, si pria tidak beranjak, dia hanya bergeser untuk memberi sedikit tempat pada sang ibu. Setelah saya amati beberapa saat, sang pria tidak mau beranjak karena di sampingnya ada sang pacar. Di bagian depan untuk area wanita pun terisi oleh beberapa laki-laki yang tidak mengindahkan sticker yang sudah ditempel. Atau sosok bertubuh laki-laki ini wanita? hihihi

Perjalanan bus Trans-Jakarta terus berlangsung. Di Gambir dan sekitar Monas sudah sudah sangat ramai. Entah acara apa yang sedang berlangsung. Menurut kabar dari salah penumpang Trans,lokasi syuting sebuah film sedang berlangsung di sana.Entahlah, saya telah sampai di tujuan.

Advertisements

2 thoughts on “Trans-Jakarta, Saatnya wanita diutamakan.

  1. Tina Latief Post author

    iya, semoga semuanya SLAMET (engga pake tux :))
    semoga Trans-J bisa kasih cerita yang lebih bagus lagi….

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s