Senja di atas menara

Pemandangan yang saya lihat memang tidak seindah senja di batas kota yang saya tulis di . Juga tidak seindah senja milik mas Mabruri: saya ingin disini saja. Namun yang dilihat mata coklat saya adalah…

atap ratusan rumah dibawah lebatnya awan yang menyelimuti kota dimana saya berpijak, tidak ada hijaunya rumput, semilirnya angin, atau semburat jinga di ujung cakrawala senja...

atap ratusan rumah dibawah lebatnya awan yang menyelimuti kota dimana saya berpijak, tidak ada hijaunya rumput, semilirnya angin, atau semburat jinga di ujung cakrawala senja...

 

pemuda-pemuda pecinta burung merpati ini terpaksa memanjat rumahnya sendiri untuk melatih burung-burung kesayangannya, mau hingap di mana burun-burung itu? pohon saja tidak ada...

pemuda-pemuda pecinta burung merpati ini terpaksa memanjat rumahnya sendiri untuk melatih burung-burung kesayangannya, mau hingap di mana burun-burung itu? pohon saja tidak ada...

atap rumah dijadikan tempat buang air kucing karena tanah yan tersisa untuk digali kucin tidak ada lagi, tertutup ubin dan batu...

atap rumah dijadikan tempat buang air kucing karena tanah yan tersisa untuk digali kucin tidak ada lagi, tertutup ubin dan batu...

 

Jauh memandang ke arah datangnya suara-suara tanda mulai Maghrib du berbagai penjuru, ternyata banyak menara-menara yang dibangun untuk menyerukan panggilan ibadah…

Menara masjid pertama yang saya lihat...

Menara masjid pertama yang saya lihat...

 

menara masjid ke dua...

menara masjid ke dua...

 

menara masjid ke tiga

menara masjid ke tiga

Setidaknya ada lima menara yan saya lihat di senja itu. Cukup lega melihat perbandingan bangunan yan tidak karuan ini masih berdiri beberapa menara yang menggemakan takbir dan panggilan untuk beribadah. Senja kali ini memang tidak seindah senja di pulau Bali beberapa tahun yang lalu, namun kali ini saya bersyukur masih dapat melihat senja, berdiri di atas menara masjid menunggu shalat Maghrib.

 

Advertisements

17 thoughts on “Senja di atas menara

    1. Chita

      Iya, karna dikotaku cuma ada satu. Dan karna disini budayanya adalah tidak mengganggu kenyamanan orang lain dengan memasang musik atau suara keras, maka adzan salah satunya yang tidak bisa disuarakan keras-keras sebebas di Indonesia. ๐Ÿ™‚

      Like

      Reply
      1. Tina Latief Post author

        ah i see….
        semoga bisa berkesempatan melihat kampung saya yang banyak suara dan bisikan indah seperti ini….

        Like

  1. Evi

    Walau pemanddangannya kurang menarik, tapi cari Tina mengambil sudut pandang atap dan menara itu sangat menarik. Butuh kecerdasan tertentu untuk sampai disini ๐Ÿ™‚ Like it very much ๐Ÿ™‚

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      kalau dibndingkan dengan foto-foto bunda saya malu…jelek, kameranya juga tidak mendukung…foto bunda bagus semuaaaaaaa…fotografer gitu loh…kerenn
      tetapi setelah dikasih koment begini saya malah semangat untuk terus potret-potret…kira-kira sampai berapa ribu foto ya bun untuk dapat gambar yang bagus??

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s