Menilik sisi kehidupan masyarakat Dusun Gerjo

RINDU dengan atmosfer sejuk daerah perdesaan, saya iseng membuka foto-foto lama yang saya kumpulkan beberapa tahun yang lalu di sebuah desa. Nama desa itu adalah Desa Grogol, desa yang merupakan bagian dari Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, dan terdiri atas 6 dusun yakni dusun Karangmojo A, Dusun Karangmojo B, Dusun Tungu, Dusun Grogol, dan Dusun Gerjo.

Dibandingkan dengan dusun lainnya, Dusun Gerjo terletak paling barat yang langsung berbatasan dengan hutan kayu putih milik pemerintah. Tidak hanya hutan, wilayah Dusun Gerjo juga berbatasan langsung dengan sungai yang mengalir hampir ke setengah wilayahnya.

Mata pencaharian sehari-hari masyarakat dusun Gerjo mayoritas adalah bertani. Bukan alasan untuk tidak menjalankan ibadah meskipun masih di ladang.

Mayoritas penduduk Dusun Gerjo beragama Islam dan bertani

Mayoritas penduduk Dusun Gerjo beragama Islam dan bekerja sebagai petani. Petaninya pun terdiri dari beberapa jenis yakni petani pemilik lahan, petani penggarap, dan petani penyewa lahan. Meskipun demikian, petani-petani di Dusun Gerjo tidak lagi seperti petani di jaman dulu yang masih kental dengan stratifikasi sosialnya. Dengan dibukanya lahan hutan kayu putih untuk ditanami masyrakat, perlahan-lahan stratifikasi tersebut memudar. Tidak ada perbedaan yang begitu kentara antara pemilik lahan atau ataupun petani penggarap.

Warga dusun Gerjo bergotong roong dalam rangka membangun jalan (cor blok)

Warga dusun Gerjo bergotong royong dalam rangka membangun jalan (cor blok)

Ulet, rajin dan tekun adalah gambaran masyarakat Dusun Gerjo. Pagi-pagi sekali, seperti yang menjadi budaya masyarakat di sana, para orang tua berangkat ke ladang untuk menggarap lahan dan mencari pakan ternak. Tidak ketinggalan para remaja dan anak-anak, merekapun telah diajarkan nilai-nilai tekun dan rajin semenjak usia dini. Tatkala pulang sekolah, biasanya mereka membantu di ladang. Mencari pakan ternak, menyiangi rumput atau mencari kayu bakar sudah menjadi pekerjaan yang biasa.

Anak-anak dusun Gerjo sedang membuat maket bunga

Anak-anak dusun Gerjo sedang membuat maket bunga

Ini adalah gambaran remaja dan anak-anak di Dusun Gerjo. Sebagian besar anak-anaknya telah bersekolah dari jenjang taman kanak-kanak, SD, SMP, hingga SMA/SMK. Teramat jarang untuk bisa menemukan anak yang menempuh pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Setamatnya dari SMK, kebanyakan dari mereka biasanya akan melakukan urbanisasi ke daerah-daerah padat karya seperti Bekasi dan Jakarta. Mereka mengikuti jejak para orang tua sebelumnya yakni merantau dan mencari penghidupan di kota.

Ini pemuda-pemuda dusun Gerjo

Remaja berkreasi dengan bilah bambu

Merantau memang telah menjadi budaya masyarakat Dusun Gerjo. Semenjak pertanian tidak lagi menjanjikan, tidak ada jalan lain selain mengadu nasip ke kota. Modernisasi di bidang pertanian serta pemberlakuan program Revolusi Hijau terbukti menyebabkan sharing poverty jalan di tempat. Akibatnya masyarakat petani penggarap tersisihkan. Arus besar urbanisasi ke kota menjadi fenomena yang konkret atas akibat dari pengangguran yang melanda wilayah perdesaan.

the age of teenager

Pemuda-pemuda Dusun Gerjo

l

Ibu-ibu arisan Dusun Gerjo

Urbanisasi dari desa ke kota jelas menyebabkan kekosongan di desa. Dampaknya begitu terasa ketika pemuda-pemuda di dusun ini satu persatu meninggalkan tempatnya kelahirannya menyisakan penduduk berusia tua. Dusun menjadi sangat sepi, banyak kegiatan keremajaan dan karangtaruna yang bahkan mandek total. Tak jarang masjid di sana kehilangan jamaahnya. Untuk mendapatkan seorang muadzin mereka begitu kesusahan.

Rumah salah seorang warga dusun Gerjo yang bergaya rumah adat Yogyakarta, kebanyakan dindingnya terbuat dari anyaman bambu

Rumah salah seorang warga dusun Gerjo yang bergaya rumah adat Yogyakarta, kebanyakan dindingnya terbuat dari anyaman bambu

Beralih pada budaya setempat, masyarakat Dusun Gerjo tak ubahnya seperti masyarakat Jogja pada umumnya. Masih ada nilai-nilai yang masih dipegang teguh oleh masyarakatnya seperti misalnya budaya gotong royong dan pelaksanaan ritual-ritual adat. Rumah adatnya pun tak luput untuk terus dipertahankan. Meskipun perkembangan saat ini orang cenderung menggemari rumah-rumah gedung (loji), rumah yang mereka bangun saat ini masih menyimpan corak rumah joglo (rumah adat Jogja) yakni rumah berbentuk limas dan lengkap dengan dinding dari anyaman bambu.

Hewan peliharaan warga kebanyakan adalah sapi dan kambing. Sapi dewasa bisa digunakan untuk membantu petani dalam membajak sawah.

Hewan peliharaan warga kebanyakan adalah sapi dan kambing. Sapi dewasa bisa digunakan untuk membantu petani dalam membajak sawah.

Seraya bertani, masyarakat Dusun Gerjo juga masih memanfaatkan kehadiran binatang ternak seperti sapi, kambing, dan ayam. Meskipun tak lagi digunakan untuk membajak sawah, sapi, kambing dan ayam dipelihara untuk menunjang perekonomian keluarga tatkala hasil pertanian tak mampu lagi menyokong kebutuhan. Masih ada sistem gaduh di sini, yakni memelihara ternak dengan sistem bagi hasil. Hal ini dilakukan oleh orang yang membutuhkan akibat tidak memiliki binatang ternak.

Matahari senja telah menghiasi langit di sebelah Barat tanda waktu memasuki malam

Matahari senja menghiasi langit Barat tanda waktu memasuki malam

Apakah masyarakat Gerjo mengenal pesta? Tentu saja. Ada ritual yang unik di dusun Gerjo. Namanya Gumbreg.

Gumbreg adalah ritual yang dijalankan untuk memberkati hewan peliharaan yang telah dipelihara sejak lama oleh masyarakat di dusun Gerjo. Syaratnya mudah yaitu nasi tumpeng dengan bermacam-macam sayuran rebus (gudangan) dilengkapi dengan telur rebus dan ketupat. Setiap rumah yang memiliki binatang ternak seperti sapi dan kambing diwajibkan ikut serta dan membuat makaan ini kemudian membagikannya kepada anak-anak yang surak (bagian dari ritual gumbreg yaitu semacam meneriakkan pantun doa atau ledekan kepada teman).
Seperti inilah pestanya…

Ritual budaya "Gumbreg" yang dilaksanakan untuk memberkati hewan peliharaan masyarakat dusun Gerjo.

Ritual budaya “Gumbreg” yang dilaksanakan untuk memberkati hewan peliharaan masyarakat dusun Gerjo.

Anak-anak membawa bakul atau panci untuk digunakan sebagai tempat nasi. Setiap kali melintasi rumah peserta gumbreg, mereka akan mampir untuk menerima bagian tumpeng.

Tidak lupa mereka akan dengan sangat meneriakkan pantunnya. Seperti misalnya seperti ini:

“Mbang turi, Mba Tina njaluk rabi” SURAK SURAK YOOOO…!
(kembang/bunga Turi, Mba Tina minta dinikahin, SORAK-SORAK yukkkk…)

Biasanya yang kena pantun ini adalah gadis-gadis desa yang banyak penggemarnya atau anak yang biasanya sangat nakal.

Tumpeng dibagikan merata kepada setiap anak pembawa bakul

Tumpeng dibagikan merata kepada setiap anak pembawa bakul

Makanan ini tampak sederhana dan biasa saja. Bahkan tatkala usai menerima bakul yang sudah terisi penuh itu, anak-anak biasanya tidak akan makan hasil surak mereka.

Yang membuat ritual ini seru dan digemari anak-anak maupun dewasa adalah karena kebersamaan di setiap detiknya. Sungguh dulu saya iri sekali ketika anak-anak ini berkeliling sambil berteriak surak. Saya ingin mencoba namun sayang tidak punya binatang ternak.

Nah, ini adalah sekelumit cerita tentang Dusun Gerjo, tempat di mana saya dulu sering bermain bersama teman-teman. Memang hanya sebuah cerita yang dikisahkan oleh beberapa buah foto usang beberapa tahun silam. Namun kenangan akan masa-masa indah seperti ini tidak akan pernah tergantikan.

Setidaknya cerita-cerita ini memberikan nafas segar pada raga yang tengah sesak di tengah Ibu Kota.

©Tina Latief 2012

Advertisements

22 thoughts on “Menilik sisi kehidupan masyarakat Dusun Gerjo

  1. misstitisari

    jiyeeee Tina minta dinikahin :))
    tepatnya di daerah mana Tina dusun Gerjo ini?

    saya haru liat foto warga desa yang gotong royong membuat jalan itu, mengingatkan saya sama kenangan masa kecil setiap berlibur ke tempat Papa, namanya dusun Lipursari di kabupaten Wonosobo. dulu saya suka nontonin warga di sana yang gotong royong bikin saluran air, maklum namanya juga dusun yang adanya di puncak bukit. pernah juga waktu saya ke sana mereka gotong royong, bahu membahu membangun jembatan. mana bisa kita menemukan pemandangan ini di kota?

    Like

    Reply
    1. tina latief

      hahaha, belum saya masih anak-anak mba…
      ini adalah dusun gerjo yang terketaj di Gunung Kidul, Yogyakarta…
      di sana masih saling bantu membantu dengan sukarela mba, semua dikerjakan tanpa pamrih…
      iya, dikota mana ada yang seperti ini..

      Like

      Reply
      1. rizalean

        iya lah. diriku cuma bercanda. dan sebagai insan yang tak pernah mengalami kehidupan pedesaan yang seperti ini, kecemburuan menyeruak di dalam dada. live in harmony banget. memang gotong royong juga ada di kota, saling berbagi juga ada. malah 200 meter dari rumahku di Cimahi, masih ada sawah. tapi gak pernah denger tuh anak2 yang surak-surak 🙂

        Like

      2. Tina Latief Post author

        mungkin yang ada cuma di Desa ini saja mas, saya juga belum pernah dengar daerah lai ada yang surak-surak..
        iya mas, semua tampak harmonis, kadang kalau membangun rumah, juga dikerjakan bersama-sama tanpa upah…

        Like

  2. Supriratno

    Baca tulisan ini mengingatkan kembali pada masa masa yg saya jalani didusun ini (gerjo), slm knl saya jg berasal dr gerjo, kok nggak ada foto bolavoli sentanamudanya ya? Mbak tina ini tinggal di gerjonya sblhmana ya?

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Saya engga punya mas, itu kan sudah lama sekali, sedangkan usia saya sekarang…..hehehe
      ketika mas masih aktif voli saya masih anak kecil yang belum kenal internet…
      saya dulu di tempatnya mbah pudjo, cucunya ini…

      Like

      Reply
    1. Tina Latief Post author

      ya Ni, itu rumah aslinya dindingnya bambu yang dianyam, kalau panas angin akan mudah masuk, tetapi kalau malam dingin ya dingin sekali…

      Like

      Reply
  3. Evi

    Wah dusun dengan tradisi yang unik, gumbreg..Mengingat jawa dulunya adalah kerajaan hindu yg besar, tradisi ini sisa peninggalan budaya itu kali ya Tina? Walau tak ikutan Gumbreg yg penting kan bisa menikmati suasananya. Jangan sedih ya..

    Mengenai pemuda2 yg meninggalkan desa, ini mah dilema seluruh desa di Indonesia. Pembangunan dan beredarnya uang dalam jumlah besar, ibarat cahaya dalam mata laron, menarik. Apa boleh buat, sistem pendidikan sekolah kita masih berorientasi mencari kerja ketimbang menciptakan lapangan kerja. Begitu beranjak dewasa para pemuda hanya berpikir “mencari” kerja dan bukan “membuat kerja”

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      ya itu bunda, saya kurang tau, soalnya pakai didoakan secara islam juga..
      kebanyakan yang menjadi followers tidak mau mengambil resiko dan berfikir bagaimana menjadi sosok leader, jadinya yang ada mencari dan melamar, bukan menemukan dan merekrut…

      Like

      Reply
    1. Tina Latief Post author

      modernisasi pasti mulai terlihat dampaknya di masyarakat pedesaan, tapi bagaimanapun juga mereka masyarakat desa. Masih kental masyarakat desanya, terutama dari cara-cara hidupnya..

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s