Kisah seekor kucing dan si tunawisma

Ada sebuah kisah unik yang saya lihat 2 kali minggu ini. Cerita ini sungguh memainkan emosi saya ketika dihadapkan oleh rasa perasa saya yang seringkali memaksa saya untuk peduli. Namun, apa bentuk kepedulian yang bisa saya berikan?

Banyaknya penghuni bawah jembatan-jembatan besar yang tersebar di Jakarta memang bukan hal aneh lagi. Gelandangan yang berstatus tunawisma itu memang banyak dijumpai disana tatkala beristirahat sedari mengamen dan mengemis. Serupa dengan tunawisma yang saya jumpai sebelumnya, sesosok tunawisma berjenis kelamin laki-laki ini juga berumah di bawah jembatan, tepatnya dibawah by pass. Teduh memang, namun seperti itulah kondisinya. Sudah hampir dua tahun saya mengenal tempat itu, sampai sekarang masih saja seperti itu. Agaknya pemerintah memang belum banyak bertindak mengenai para tunawisma di ibukota. Lalu apakah yang membuat saya dilanda emosi yang tidak karuan rasanya?

Pagi itu, di perjalanan menuju lokasi belajar, tak sengaja saya menempatkan pandangan mata saya ke arah si tunawisma yang sudah berumur itu. Awalnya saya tidak begitu memperhatikan, saya sudah sering melihat fenomena seperti ini di ibukota, namun begitu saya melihat benda bergerak di tangannya saya langsung memicingkan mata untuk melihatnya dengan jelas. Yang ditangannya itu adalah seekor anak kucing berwarna hitam yang entah induknya dimana. Seharusnya kucing sekecil itu masih disusui oleh induknya, tetapi siapa yang perduli dengan kucing mengeong-ngeong ditengah hiruk pikuk kendaraan seperti ini?

Saya menghentikan langkah, lama. Saya terus mengamati apa yang saya lihat kala itu. Sang tunawisma itu berbagi minuman dengan sang kucing. Hal serupa yang saya lakukan saat masih duduk di bangku sekolah dasar, saya suka menyuapi kucing. Saya menganggap kucing itu layaknya manusia yang makan dan minum sama seperti manusia. Bapak ini dengan upayanya memasukkan kepala si kucing ke gelas air mineral agar mau minum. Mungkin sama seperti yang saya pikirkan, kucing ini haus dan seharusnya minum.

Dalam pikiran saya saat itu terbayang, setelah ini apa yang akan terjadi dengan sang kucing? akankah dia merangkak ke jalanan? oh tidak, itu tidak aman. Akankah dia tinggal di sana? Makan apa? oh saya pusing dibuatnya.

Hari berikutnya, Rabu yang diselimuti cahaya menyilaukan dari sang mentari. Saya kembali terpaku melihat kedua tokoh dalam cerita ini. Saya memang tidak sepenuhnya yakin, laki-laki ini, dia waras ataukah gila? Saya tidak bisa memastikan hal itu. Hal ini saya tafsirkan dari aktivitasnya selama ditempat itu. Lelaki tua itu tampak membangun sebuah bangunan mirip bangunan candi berbahan potongan-potongan keramik dan batu tambang yang kebetulan lokasi itu dekat dengan agen bahan tambang yang biasa digunakan untuk menghias taman. Di situ terlihat dua tumpukan berbentuk persegi yang susunannya sangat rapi, benar-benar sangat rapi.

Saking kagumnya saya sampai enggan segera menyeberang dan masih saja menonton. Sampai akhirnya rasa penasaran saya mengajak saya untuk melintas di dekatnya, jalan yang bukan biasanya saya lewati. Saya kembali terkagum namun juga kasihan dan iba. Di tempat itu apa 4 kotak tumpukan batu. Dua berukuran kecil setinggi lutut, satu berbentuk memanjang beralaskan karung (disinilah laki-laki ini tinggal/tidur) dan sebuah lagi disebelahnya, berbentuk seperti kotak bayi yang ternyata ini tempat khusus si kucing kecil. Sungguh kasihan sekali kedua tokoh ini. 😦 😦

Dengan emosi yang entah apa namanya, saya meninggalkan tempat itu. What should I do? What can I do? What can I give to them? Inilah yang membuat saya sedih, saya tidak tau harus melakukan apa. Saya rasa justru mereka berdualah yang telah memberikan sesuatu yang berharga kepada saya.

Sesempit apapun, semiskin apapun, setidak berdaya apapun, ketika masih bisa berbagi dan mau berbagi dengan  sesama maka dialah sesungguhnya yang kaya. Kaya karena berkah dan nikmat setiap mahkluk telah diatur oleh sang Penciptanya. Maha besar Allah, semoga nikmatmu selalu bersama kami. Aamiin…

Advertisements

One thought on “Kisah seekor kucing dan si tunawisma

  1. Evi

    Saya juga begitu Tin, suka mix feelling ketemu yg beginian..Memeras emosi banget..Yang bisa dibantuk paling2 kasih sedekah..Dan saya tahu banget itu tak membantu sama sekali 😦

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s