Dampak monopoli perdagangan

Kemunculan jenis pasar monopoli yang belakangan ini muncul, salah satunya di Jakarta, merupakan tantangan baru bagi pemilik pasar lain yang berbasis bukan monopoli seperti pemilik warung makan dan pedagang kaki lima yang berlokasi tak jauh dari lokasi pasar. Setelah Alfa dan Indo sempat booming karena pendiriannya yang tersebar hampir diseluruh wilayah ini, 7eleven  turut muncul  melebarkan sayapnya yang belakangan ini saya ketahui sejumlah 2 bangunan baru yang letaknya juga tak berjauhan bertuliskan 7eleven sudah diresmikan dan mulai aktif.

Kemunculannya tentu saja membawa dampak positif dan negatif bagi sejumlah masyarakat. Positifnya, konsumen dengan sifat konsumerismenya juga dipermudah urusan belanjanya karena 7eleven berfungsi tempat belanja. Berdirinya usaha ini juga membantu agenda penertiban pedagang kali lima serta area parkir yang selama ini dijalankan petugas satpol pp seperti yang diinginkan pemerintah. Namun negatifnya, pemilik usaha menengah kebawah yang ada disekitar tempat itu terpaksa moving dan bahkan gulung tikar.

Pada kenyataannya, pemilik usaha menengah kebawah yang berada di sekitar itu tidak memiliki surat izin yang melegalkan mereka membuka usaha di tempat itu. Berbeda dengan pemilik 7eleven yang memiliki kuasa penuh atas kelegalan usahanya, jadi tak ada kekhawatiran akan digusur. Namun bagaimana nasib pedagang yang telah kehilangan pangsa pasarnya itu?

Secara bisnis mereka sudah kalah jauh meskipun usahanya sudah bertahun-tahun lamanya jika dibandingkan degan pasar baru yang baru saja berdiri itu. Dari segi pasar, baik lokasi pasar maupun konsumen mereka kehilangan sepenuhnya karena dengan merelokasi usahanya berarti memulai usaha dari awal lagi. Mereka harus berkenalan dengan tempat dan konsumen baru agar usahanya paling tidak bisa sama dengan kondisi semula. Dan lagi, pelanggan yang semula biasa mendatangi tempat itu karena harganya yang terjangkau harus mencari tempat lain untuk menghemat.

Menurut saya, munculnya monopoli perdagangan ini seakan mengajak kita kembali ke beberapa abad yang lalu disaat Belanda, Portugis dan Spanyol masih memonopoli perdagangan di Indonesia. Bedanya kali ini gaya monopolinya terselubung. Seakan tidak terjadi apa-apa, namun sebenarnya pedagang kecil sangatlah dirugikan.

Bagaimana solusinya? Yang sudah belajar banyak pasti lebih tau daripada saya. Kalau saya, untuk menciptakan sebuah solusi mutakhir harus belajar dulu yang banyak, baru bisa membantu pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah seperti itu.

Advertisements

2 thoughts on “Dampak monopoli perdagangan

  1. Harmony Magazine

    Untuk mengatasi hal seperti ini tentu saja harus pakai sistem ekonomi kerakyatan. Pedagang kecil dilindungi, ijin mall/minimarket dibatasi. Ini sudah diterapkan di Solo. 🙂

    *bukan iklan lho ya, cuma ngasi fakta aja, saya menyaksikan sendiri perkembangan Solo dari tahun ke tahun*

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s