Pergilah ke dokter sebelum membeli obat di apotek

“Lebih baik lolos UI tapi sakit kan daripada ngga lolos tapi sehat,” kata teman di blog sebelah. Ya ya sebenarnya siapa yang mau sakit, tapi kalau disuruh memilih pastinya lebih baik sakit daripada mengorbankan ambisi selama 2 tahun ini.

Selang 1 malam setelah pengumuman SNMPTN  serak-serak di tenggorokan saya mulai parah dengan datangnya dahak bercampur darah disertai demam tinggi. Setelah benar-benar tidak berdaya akhirnya saya diomeli agar segera ke dokter. Tak mudah meluluhkan keras hati saya yang enggan mencari pertolongan medis dan segera makan, namun anak UI yang baru ini harus segera sembuh. Akhirnya saya memutuskan untuk ke apotek terdekat.

Setelah memberikan paparan singkat mengenai sakit yang saya derita, saya langsung meminta rekomendasi obat kepada sang apoteker, kira-kira obat apa yang bisa menyembuhkan radang dan demam saya. Namun sang apoteker menolak memberikan obat, dia justru merujuk saya untuk melakukan medical check up dengan dokter di puskesmas terdekat agar tau obat apa yang harus diminum. Sang apoteker berkata bahwa dia tidak berani memberikan obat dengan alasan obat yang diberikan tanpa resep dokter dapat membahayakan saya terutama berkaitan dengan pita suara.

Beruntung sekali saya dilayani apoteker yang bijak seperti ini. Bagaimana kalau sedetik yang lalu saya diberi obat yang justru akan membahayakan keselamatan saya? Beruntungnya saya bertemu dengan apoteker yang baik.

Ternyata dokter dan yang berkaitan dengannya tidak membuat saya takut hari ini. Dokter yang melayani saya cantik untuk ukuran dokter. Well, In fact I really wish that the doctor is a hansome guy, but everyting is ok. Medical check up-nya berjalan mudah tanpa harus melalui tahap suntik menyuntik. #noway Saya hanya disuruh minum 4 jenis obat (cefadroxil, dextromethorphan, noza dan beberapa pil hitam untuk mengobati pendarahan tenggorokan), stop makan makanan pedas, kasar dan berminyak.

Begitu mudah berobat di sini, itulah kesan singkat saya. Selain harganya terjangkau, pelayanannya bagus. Saya hanya perlu mengeluarkan uang 10 ribu untuk 4 jenis obat dan medical check up bersama dokter tadi. Masih terbayang keluhan tetangga-tetangga tentang biaya pengobatan yang sangat mahal. Tentunya tak semua tempat berobat di Indonesia memberikan harga yang murah untuk sebuah kesehatan.

Hari ini obat dari dokter sudah saya minum 2 kali. Progresnya bagus, demam saya turun dan batuk saya berkurang jauh lebih banyak dari hari sebelum saya minum obat. Harus saya akui, meskipun saya tidak suka dengan obat dan dokter, paksaan dari teman dan anjuran dari si apoteker memang bagus. Andaikan saya menunda untuk ke dokter atau sedetik yang lalu si apoteker memberikan obat yang salah, pasti saya akan sembuh lebih lama. Beruntunglah saya bertemu dengan orang yang tepat.

Pastikan pergi ke dokter sebelum membeli obat di apotek jika Anda bukan ahli medis.

Advertisements

3 thoughts on “Pergilah ke dokter sebelum membeli obat di apotek

  1. Lidya

    semoga lekas sembuh ya Tina, sebnaiknya sih tidak sembarangan minum obat . wong aku ke dokter aja bisa salah dapet obat hehehe karena tidak kuat dengansalah satu jenis obat

    Like

    Reply
  2. Cahya

    Untuk kasus yang berat, ya obat tertentu memerlukan resep dokter. Tapi ada kan obat yang dijual bebas untuk kasus-kasus lainnya, misalnya flu ringan, sehingga penderita tidak perlu mengantre lagi di ruang periksa dokter.

    Dan untuk kasus ini, apoteker itu tepat menyarankan demikian.

    Semoga lekas baikan ya.

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s