Bayi tabung dan perzinaan

Apakah yang dimaksud dengan perzinaan itu?

Kalau perzinaan itu berarti perbuatan bersanggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan (perkawinan), dan bersanggama berarti  melakukan hubungan kelamin atau bersetubuh (kbbi), maka mungkin dimasukkannya sperma laki-laki yang bukan suami ke dalam rahim seorang wanita oleh seorang dokter yang nantinya bakal menjadi zigot bukanlah hasil perzinaan. Untuk menanggapi kasus ini,  definisi perzinaan itu sendiri saya rasa kurang jelas. Saya bisa saja setuju dengan teman dari Biologi dan Kriminologi, kalau seandainya perbuatan itu dikategorikan sebagai perzinaan maka tentu saja tidak boleh dilakukan.

Pada masyarakat yang menganut sistem pernikahan untuk menghasilkan keturunan atau asset, keturunan adalah komponen penting dalam keluarga untuk meneruskan silsilah keluarga dan harta warisan dengan berbagai wujud.  Pernahkah Anda melihat diskriminasi wanita yang belum bisa memberikan keturunan? Seperti apa masyarakat sekitar memperlakukannya? Dan bagaimanakah sikap kaum laki-laki terhadapnya? Padahal kita tau bahwa masalah berada pada posisi kedua belah pihak, si wanita dan si pria. Namun yang sering menerima perlakuan tidak menyenangkan selalu di pihak wanita. Menurut saya, bayi tabung adalah suatu wujud rekayasa manusia atas protes dari kalangan yang menerima perlakuan tidak adil di masyarakat. Bisa dibayangkan stereotipe yang muncul di masyarakat kepada wanita yang belum bisa hamil akan seperti apa. Dari stereotipe menjadi label. Dalam hal ini, bayi tabung bisa saja menjadi pilihan.

Ki Sanak, bolehkah kiranya saya diberi petunjuk… Apa wangsit hari Senin ini? 🙂

Advertisements

25 thoughts on “Bayi tabung dan perzinaan

  1. petapemikiran

    rada berat pembahasannya.. hmm setelah googling di yahoo, sya menarik kesimpulan kalau bayi tabung itu mubah (boleh), tapi bs diharamkan misal sperma yg digunakan ternyata bukan sperma suami, atau apabila rahim yg digunakan bukan rahim istri (wanita lain) mk itu jg diharamkan..

    Like

    Reply
    1. Ely Meyer

      hati hati pak kalau berkomentar, ada beberapa blogger yg pernah memposting ttg usaha mereka mendapatkan anak melalui proses bayi tabung, posisikan dulu sbg mereka sebelum berkomentar dan mengatakan ego merekayasa suatu kehidupan !

      Like

      Reply
      1. bensdoing

        sntai aja mb…nmanya jga cma opini…aplgi mslh ini mmg mngndung pro-kntra….apa pndpt hrs slalu sma…klo mo bropini pro, silahkan sja…dn sya tdk akn mlrng…

        Like

      2. Ely Meyer

        santai saja ? anda sudah punya anak 3 jadi bisa berkata begitu ya ? coba andai ada di posisi blogger yang pernah saya baca postingannya itu, yang matia matian berusaha punya anak bahkan dengan usaha bayi tabung juga, apa anda juga akan berkata begitu ? saya masih punya link blogger tsb, kalau anda berani bilang langsung ke mereka bahwa mereka ego dan merekayasa suatu kehidupan

        saya juga tak melarang komentar yg kontra , masih ada cara lain yg lebih bijakasana dlm berkomentar drpd langsung menuduh blogger bloger tersebut ! komentar anda adalah cerminan karakter anda pak, belajar sedikit bertenggang rasa dgn para blogger tersebut,

        Andai anda tidak punya anak 3 sekarang dan masih kesusahan punya anak, apa anda juga akan berkomentar serupa ?

        Like

      1. Ely Meyer

        anda tak mampu menjawab maka bilang begitu betapa terlihat kerdilnya pikiran anda ck ckc ck
        lain waktu pikir beratus ratus dulu pak kalau mau nulis komentar biar jika nggak mampu menyanggah seperti ini nggak akan malu dan mengganggap itu sbg debat kusir !!!!

        Like

  2. JNYnita

    Menurutku, seorang wanita yang akhirnya memutuskan punya anak melalui bayi tabung, mayoritas alasannya pasti bukan karena stereotipe masyarakat, tapi ya karena dirinya sendiri mau dan merasa butuh untuk punya anak. Punya anak itu investasi lho, untuk di dunia & akhirat asal dibesarkan dengan benar.

    Jika sudah berusaha dengan berbagai cara, menurutku sah-sah saja untuk membuat bayi tabung, asal sumber sperma berasal dari suaminya. Karena bisa saja sel dari istri atau suami tidak cukup kuat melalui jalur konvensional, sehingga butuh proses bayi tabung supaya berhasil pembuahannya..

    Hhm, jangan2 ini materi MPKT ya?
    masih ada gak sih? Hehehe..

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      nah kalau kasusnya spermanya berasal dari lain suami bagaimana mba Nita?
      hehe, ini sebanrnya hanya obrolan dengan anak-anak di asrama, saat ini materi MPKT-A baru sampai pada bangsa, negara, dan pancasila.. 🙂
      wah kalau mahasiswa belum protes karena mata kuliah itu sepertinya masih dipertahankan mba 😀
      saya kira mba nita malah ngga dapet..

      Like

      Reply
      1. JNYnita

        Itu masuk ke ranah norma & nilai yang setiap orang pegang, kalau mempertanyakan ini pada per-individu ya bakal berbeda-beda tergantung norma & nilai yang mereka pegang. Jadi jangan diperdebatkan siapa yang lebih benar. Kalau dari sperma orang lain, yang kubaca sih gak boleh karena hubungan sel itu gak sah, hahaha…

        ada hal yang aku suka dari belajar agama, kita dilarang ini dan itu, jadi gak perlu mempertanyakan ini dan itu tersebut, hal yang menyederhanakan hidup.

        Entah MPKT dr angkatan berapa, penting gak penting sih, bagusnya membentuk pola pikir kritis, melihat dari berbagai sisi dan debat yang baik.

        Like

      2. Tina Latief Post author

        uhm, sebenarnya justru saya tidak memperdebatkan siapa yang benar. Yang ingin saya ketahui sebenarnya adalah mengapa seseorang memilih bayi tabung, tentunya dibalik dari keinginan memiliki keturunan. Hehehe, mau perbandingan aja sih mba Nit..
        apakah sistem MPKT yang dulu dengan yang sekarang masih sama atau sudah ada perbedaan yang dalam artian sudah lebih mengena. Betul, dari materi logika, berfikir kritis dan sbg yang terangkum di modol pertama memang bermanfaat sekali.

        Like

  3. Harmony Magazine

    Berhubung saya Islam, pendapat pribadi berdasarkan beberapa kajian Islam. Selama sperma berasal dari pasangan sah, saya rasa mo bayi tabung kek, kotak kek, bola kek atau apalah itu, pasti boleh. Toh kalo ga dikasi sama Allah ya ga bakalan jadi, kan? 😀

    Tapi kalo sperma dari orang lain, saya rasa tidak boleh dilakukan karena dalam Islam, nasab atau keturunan itu penting. Dasarnya adalah memanggil anak angkat saja harus dengan nama bapak kandung. Secara tidak langsung ini menunjukkan bahwa nasab itu penting. Nah, bisa dikatakan bagi suami yang “tidak ikut membuahi”, si anak kan jadi anak angkat tuh, tapi diakui anak kandung. Padahal jelas dan tegas dilarang lho.

    “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; Itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, Maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.” (QS. Al Ahzab [33] : 5)

    Btw, study menunjukkan bahwa stigma masyarakat kita salah lho. Kemandulan “lebih banyak” disebabkan pria, bukan wanita. Mungkin bisa dicari deh di Google. 🙂

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      itulah mas, seperti yang saya tuliskan kalau hal itu sebenarnya tanggung jawab ke-2nya. Namun jika dilihat kebanyakan wanita yang mengalami masalah ini diperlakukan berbeda. Cukup banyak yang tersudut karena belum bisa menyelesaikan masalah itu..

      Like

      Reply
  4. sunarno2010

    sebagai alumni biologi dan mencoba menggabungkan dengan keyakinan dan ini sering menjadi pembahasan seru di kelas, bolehlah sedikit urun kata. bayi tabung merupakan sebuah usaha untuk mendapatkan keturunan (salah satu harapan dalam membina rumah tangga tentunya ingin mendapatkan keturunan). Jika cara biasa mengalami hambatan sehingga tidak terjadi pembuahan, maka bayi tabung adalah salah satu alternatif yang bisa dipilih dengan ketentuan sel induk (sperma dan ovum) merupakan milik pasangan suami istri itu sendiri, bukan dari orang lain. Jika salah satunya mandul (memang tak berfungsi sel ovum atau spermanya), maka sebaiknya tidak memilih cara ini, kecuali tak peduli lagi pada nasab anaknya dan juga nasib dirinya dimata hukum agama (bagi pemeluk Islam, agama lain saya tidak tahu)

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Saya memandang hal ini juga dari kaca mata Islam mas..
      Karena saya bukan ahli agama dan biologi, maka saya mencoba melihat dari sudut pandang yang lain. Pada intinya, apa sih yang menyebabkan orang membuat bayi tabung? tentu dibalik dari keinginan untuk memiliki keturunan. 🙂
      terimakasih untuk pendapatnya mas..
      btw, jarang ya main ke sini lagi 🙂

      Like

      Reply
      1. sunarno2010

        kalau konteks Indonesia, penyebab utamanya karena sulitnya mendapatkan keturunan maka bayi tabunglah yang dipilih dan tentu saja didukung oleh kemampuan finansial. kalau faktor melimpahnya finansial belaka mungkin terjadi di barat tapi tidak di negara kita

        Like

  5. ceritabudi

    Kalau bayi tabung antara sperma suami istri saya masih manggut-manggut, mungkin itu jalan terakhir, tapi kalau lain sperma ngak lah..tapi ngomong2 tentang anak, saat saya hendak nikah saya bilang ke istri ” Ma kalau nasib kita kurang beruntung dan tidak punya anak, kita angkat anak dari keluarga saja yach” tapi syukur kami diberkahi dan diijinkan mempunyai anak.

    Pada intinya ini menjadi beban keduanya…bukan sepihak, betul tekanan sosial sering kali membuat sesuatu untuk meletup-letup bahkan menyalahkan satu sama lainnya, sehingga bukan memberikan solusi kepada keluarga tersebut. Yang penting niat baiknya untuk memperoleh keturunan saja deh…

    Berbahagialah bagi mereka yang telah menjadi ibu atau ayah…dan mari kita beri semngat kepada mereka yang belum memiliki keturanan (karena mereka pasti stress berat)…wah..baru muncul saya langsung panjang…absen dulu deh Tin

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      hehehe, selamat datang mas budi..
      baru datang sudah disambut dengan yang berat-berat ya hehe
      betul mas, bagi mereka yang telah berkomitmen membentuk keluarga dan memiliki keturunan, permasalahan di dalamnya adalah dan seharusnya menjadi tanggungjawab bersama. Dari beberapa jawaban yang berkomentar di sini, saya dapat mengatakan kalau masih banyak suami atau laki-laki yang mendukung istrinya.. seperti yang mas budi bilang, intinya adalah tanggungjawab keduanya..

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s