Translator untuk mahasiswa

Saya sering menjumpai mahasiswa dan kelompok diskusinya. Pemilihan topik pembicaraannya  berat-berat. Belum lagi penggunaan bahasa pengantar mereka sehari-hari. Kalau sudah berdebat, korupsi, kolusi, nepotisme itu seperti makanan ringan. Ah iya, mahasiswa sekarang pandai-pandai.

Hanya satu yang kurang. Mereka tidak memiliki translator. Di lingkungan akademis mungkin mudah bicara bak dewa sedang bertitah. Namun perlu kita ketahui, di bawah dewa masih ada kawula lainnya. Ada anak-anak dan golongan tak terpelajar yang suatu saat nanti bisa dijumpai di lingkungan masyarakat sebenarnya. Tidak semua hal mereka ketahui seperti apa yang kita ketahui.

Misalnya saja mau bicara tentang tenses, kira-kira kata tenses itu sendiri mudah dimengerti atau tidak. Kalau tidak, artinya kita harus mentranslate kata tenses ke dalam bahasa mereka agar mudah dimengerti oleh semua orang. Kasihan bukan anak-anak yang antusiasnya tinggi justru jadi tidak mengerti apa-apa.

That’s why, mahasiswa yang punya translator itu baru mahasiswa cerdas.

Advertisements

7 thoughts on “Translator untuk mahasiswa

    1. jarwadi

      maka itu akademi kita mengenal analogi, untuk menjelaskan bidang kita yang spesifik, tajam dan sekaligus rumit. analogi berusaha menjawab tantangan untuk menjelaskan apa beda paracetamol, ibuprofen atau mungkin cipro kepada seorang pasien yang berprofesi penjual kangkung di pasar genteng yang tidak pernah lulus sekolah dasar

      Like

      Reply
      1. Cahya

        Tantangan itu sebenarnya di sana, sebagai salah satu Tri Dharma perguruan tinggi, lulusannya memang dituntut untuk itu.

        Tapi kembali lagi, apakah sarjana dicetak sebagai manusia yang lebih baik dari sisi yang diharapkan atau dicetak sebagai mesin pekerja di dunia indistrualisasi modern, ketika kapitalitas hampir ada di semua sisi hubungan sosial manusia.

        Intinya, saya sendiri sering bertanya-tanya dengan kemampuan komunikasi, apa iya benar saya ini sudah lulus sarjana.

        Like

  1. E-One

    Betul Tina, kata dosen saya dulu juga begitu. Seorang yang pintar bisa menjelaskan teori relativitas itu apa, namun tidak semua orang mengerti. Namun orang cerdas bisa menjelaskan teori relativitas dengan cara yang dimengerti oleh orang idiot sekalipun. 🙂 *quote ekstrem* Maka dari itu penting sekali memahami konsep. Kalo sudah paham konsep, menjelaskan dalam bahasa apapun pasti bisa. Betul?

    Like

    Reply
  2. Akbar Ilyas

    Hemat sy dinamakan cerdas jika bisa memanusiakan manusia, mngerti kemauan audien dan tau mngepresikan pengetahuan kepada khalayak. Buktinya kakak sy alumni timur tengah tp kurang mampu memaksimalkan ilmunya dikarenakan kemampuan bahasa daerhnya kurang. istilah dosen sy mengamalkan ilmu itu bak menggunakan bahsa manusia yang mudah dimngerti.

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s