Secukupnya saja

Orang dewasa itu haram hukumnya jika menyisakan makanan di piringnya. Artinya ia tidak mengetahui porsinya sendiri. Artinya ia masih perlu dibantu untuk menentukan seberapa banyak ia akan makan seperti waktu kecil.

Yang biasa kita dengar, orang tua akan berkata kepada anaknya “makan yang banyak ya, supaya cepat besar”. Benar, memang cepat besar. Besar dalam arti obesitas dan besar porsi makanan yang terbuang karena tidak dihabiskan. Begitu seterusnya sampai dewasa, seseorang akan terbiasa mengambil makanan berlebih. Sebenarnya, apa yang dipahami orang-orang kebanyakan dengan kata cukup? Bukankah filosofi “makan secukupnya” itu sudah luar biasa?

Cukup atau secukupnya yang saya pahami berarti setiap orang memiliki porsinya masing-masing. Dengan berkata secukupnya, artinya kita tidak membatasi seberapa banyak seseorang akan makan tetapi menunjukkan seberapa banyak kebutuhan kita sebenarnya.  Orang yang satu dengan yang lainnya bisa berbeda. Secukupnya sama artinya dengan ambillah sesuatu sesuai kebutuhan kita. Manfaatnya, kita kenyang tanpa meninggalkan sisa makanan. Tidak ada yang mubadzir.

Masalahnya orang terbiasa dengan banyak. Kata cukup diartikan sebagai batas, batasan dan terbatas. Sepanjang eksistensi saya, belum pernah sekalipun saya ditawari makan secukupnya. Selalu saja “makanlah yang banyak”. Jika terdengar aneh, itu hanya karena belum terbiasa. Jika dibiasakan lama-lama akan menjadi biasa. Bukan begitu?

Saya jadi teringat waktu makan bakmi di warung Mbah Wito. Porsinya pas sekali. Berbeda dengan bakmi Mbah Noto yang satu porsinya hampir 2 kali porsi bakmi Mbah Wito. Sama-sama enaknya, tetapi tidak enak bagi makanannya jika akhirnya harus ada yang terbuang. Yang pas memang lebih enak 🙂

Bakmi Jawa Mbah Wito, Piyaman, Wonosari, Gunung kidul

Picture by Fa

Advertisements

7 thoughts on “Secukupnya saja

  1. cumakatakata

    Setuju Mbak, entah kenapa saya jengkel kalau di warung makan yang prasmana dan yang makan tu ngak habis, kan dia yang ngambil sendiri, mask gak bisa ngira kemampuanya gimana. 😛

    hmmm.. saya liah minya aja kepedesan Mbak.. 🙂

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      kalau ingat kepada yang di luar sana rasanya berdosa mas. Ada yang kelaparan sedangkan di sisi lain ada yang makan berlebihan. Paradoks hehehe

      Like

      Reply
  2. milo

    Saya kadang juga ngerasa nggak enak kalo makan nggak diabisin. Kadang awalnya mikir bakal sanggup ngabisin. Tapi, ternyata nggak. Apalagi kalau di restoran yang makanannya sudah diporsi dari sononya, kadang kebanyakan dan nggak sanggup ngabisin.

    Like

    Reply
  3. Tarry Kitty Holic

    Saya juga hampir tidak pernah menyisakan makanan yg saya ambil sendiri. Lebih baik nambah kalau kurang daripada ambil banyak terus ndak dihabiskan. Tapi makan di luar tuch yg repot, kadang2 porsinya super jumbo dan perut saya ndak muat 🙂

    Like

    Reply
  4. zilko

    Aku dari kecil sudah dibiasakan kalau makan harus habis 🙂 . Dan memang kalau makanan kita tidak habis rasanya tidak enak ya, membuang-buang makanan begitu 🙂 . Tapi kadang ada beberapa situasi dimana mau tidak mau ya makanan tidak bisa dihabiskan lho. Misalnya kalau memang lidah tidak cocok dengan rasa makanan itu (pengalaman pribadi nih; pesan makanan eh makanannya pedasnya gila banget. Berhubung ga suka pedas, ga bisa dimakan deh, hehehe 🙂 ).

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s