Komunitas “Konco Deso”

komunitas konco desoSaya ingin bercerita mengenai salah satu komunitas online yang saya ikuti di Facebook. Namanya “Konco Deso” (Teman Desa). Mungkin biasa ketika seseorang join pada sebuah group kemudian diikuti pula oleh beberapa orang lain di belakangnya. Tetapi ini menarik ketika orang-orang yang tergabung di dalamnya kemudian bertindak dan bersikap atas dasar komunitas.

Grup ef be meniko kadamel utaminipun kangge ngrumaketaken pasedherekan kagem rencang – rencang lan sanak kadhang…

Demikian admin tersebut memperkenalkan komunitasnya. Hingga saat ini aggota komunitas Konco Deso telah mencapai lebih dari 400 orang yang masih terus bertambah setiap harinya. Adapun post-post yang dibuat para anggotanya umumnya mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitaran desa, kabar dari perantauan, atau topik-topik nasional yang sifatnya memicu minat diskusi.

Pada awalnya anggota masih bertindak sesuai keinginan diri mereka, masih banyak sifat-sifat asli yang mereka bawa di dalam interaksi komunitas seperti misalnya kebiasaan memposting iklan, curhatan, keluhan, sesuatu yang berbau alay dsb. Namun, dalam kurun waktu tertentu, tampak para anggota komunitas mulai menyadari nilai-nilai yang menjadi  atmosfer di lingkungan komunitas tersebut. Mereka kemudian membuat penyesuaian diri dan bersikap seperti harapan komunitas dengan membuat postingan yang lebih bermutu, santun, dan berusaha menggunakan kaidah bahasa yang benar. Seakan-akan, ada yang memaksa mereka untuk menanggalkan sifat-sifat asli mereka saat berinteraksi di komunitas.

Ada yang mengatakan group tersebut menginspirasi anggotanya sehingga anggota cenderung berubah karena ada inspirasi yang mereka dapatkan saat berada di komunitas. Namun saya lebih setuju jika komunitas ini dikatakan membentuk sikap dan perilaku individu yang menjadi anggotanya. Seorang anggota kelompok bisa saja tidak setuju/ tidak nyaman dengan gaya posting yang ia buat. Namun adalah sebuah fakta sosial jika ia tetap melakukan sesuatu yang tidak ia suka atas dasar komunitas.

Asumsinya, setiap individu cenderung berkeinginan menjadi anggota dari banyak kelompok. Untuk dapat diterima kelompok, maka seseorang harus bersikap seperti yang diharapkan kelompok. Melalui interaksi yang sering, perlahan-lahan nilai-nilai komunitas tersosialisasi ke masing-masing anggotanya. Sehingga anggota kelompok cenderung mengikuti pola-pola yang mapan yang tercipta di dalam komunitas.

Hal ini mengingatkan saya pada seorang ibu yang menyalahkan sekolah karena anaknya terlibat kebiasaan merokok di sekolah. Si ibu tidak menyadari bahwa anaknya juga terlibat dalam komunitas-komunitas yang mungkin menjadi penyebab anak memiliki kebiasaan merokok. Komunitas, pada dasarnya, tidak hanya menjadi wahana bertemu dan beriteraksi bagi anggota-anggotanya. Entah sadar ataupun tidak, komunitas juga membentuk sikap dan perilaku anggotanya.

Advertisements

One thought on “Komunitas “Konco Deso”

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s