Rossi & Marlena

Menjadi orang yang dianggap penting adalah kebahagiaan karena kita menjadi sangat dihargai di sana. Namun, menjadi orang yang dianggap penting sekaligus menjadi masalah yang paling mendasar karena peran kita juga dipertanyakan.

Kemarin, kabar bahagia Ibu Puki (aku sering memanggilnya Mommy Puki :)) atas kelahiran dua orang anaknya pun sampai ke telingaku. Betapa bahagianya aku mendengarnya, sudah lama aku menanti kelahiran mereka sejak Agustus lalu aku ke Jogja.

Yang membuatku sangat gembira: pertama karena kehadiran mereka adalah rizki yang berlimpah.Yang kedua, Profesor dan Doktor kini tidak sendirian lagi. Mereka punya adik baru yang bisa diajak bercandaan. Mereka tidak akan kesepian dengan kehadiran anggota keluarga baru.

Bersamaan dengan berita kelahiran itu, aku juga diinformasikan untuk memberikan nama untuk kedua bayi itu. Wah.. ini dia masalahnya. Aku tidak mahir memberikan nama. Nama seperti apa yang akan ku pilihkan untuk kedua anak tersebut?

Sembari jalan ke kampus aku berpikir keras. Jangan sampai aku ngawur memberikan nama, bisa dikemplang aku sama ibunya. Seperti yang kita tau, setiap nama adalah doa. Maka, aku berusaha memberikan nama yang di dalamnya ada sejumlah doa dan kebaikan untuk mereka.

Akhirnya, ku putuskan nama Marlena dan Rossi untuk kedua bayi mungil itu. Marlena untuk adik yang perempuan, sedangkan Rossi untuk yang laki-laki.

Menurutku Marlena adalah nama yang cocok untuk anak perempuan yang cantik. Aku berdoa agar adik bayi itu nantinya akan menjadi perempuan yang cantik dan disukai banyak lelaki.

Sedangkan Rossi, adalah nama yang pantas untuk laki-laki yang gagah. Bukan seperti pembalap Valentino Rossi. Bayanganku tentang Rossi adalah lelaki yang tangguh, kuat dan hebat. Aku harap dia nanti akan tumbuh seperti itu.

Ku kirimkan usulan nama itu melalui SMS ke nomor ibuku. Beberapa saat kemudian, smsku dijawab. Ternyata nama Marlena ditolak karena terlalu panjang. Mereka menginginkan nama panggilan yang hanya terdiri dari dua suku kata.“Jangan Marlina, nanti salah panggil nama tetangga. Yang dua suku kata aja!” 

Aku bagaikan tertohok di sana, usulanku ditolak? ya ampun. Padahal aku sudah memikirkannya masak-masak, ku curahkan doaku di sana. Mengapa musti ditolak? Bahkan merekapun salah menyebut namanya, seharusnya Marlena, bukan Lina.

Kenapa sih memberikan nama saja selalu menjadi masalah? Bukankah yang penting adalah doanya? 

Ku jelaskan filosifi nama itu secara terperinci bahwa nama Marlena mengandung segenap kebaikan dari nama-nama yang mungkin diusulkan untuk bayi mungil itu. Ku yakinkan bahwa dengan nama itu bayi itu akan tumbuh gemilang karena di dalamnya ada doa dari orang yang menyayanginya. Akhirnya usulku diterima, nama Marlena menjadi nama sah untuk adik Profesor dan Doktor.

Aku lega. Beberapa saat kemudian nama Rossi dan Marlena pun mulai digunakan dalam perbincangan kami. Aku menjadi semakin yakin kalau nama Rossi dan Marlena adalah nama yang sesuai untuk mereka. Selain karena kedua anak itu layak mendapatkannya, doaku selalu menyertai mereka.

Oh iya, Mommy Puki adalah induk kambingku, Profesor dan Doktor adalah anak pertamanya, lalu Marlena dan Rossi adalah anak kambingku yang baru. 🙂

Kini aku benar-benar menjadi gembala ha ha ha. Hidup Amtina Farm &Laboratory!!

Advertisements

39 thoughts on “Rossi & Marlena

      1. punyaliana

        haha, itu juga yang ngasi nama suami ku,
        aq blum pernah liat kambing nya,
        baru beli lebaran kemaren, itu juga nggak di bawa kesini, di urus sama sodara di bogor.

        Like

      1. tikamustofa

        dipecat jadi anak kalau protes ganti nama 🙂
        Bukan namanya sih tapi huruf awal T, all of my family member name begin with T, hihihihihi….

        eh aku juga pengen loh punya perkebunan 😀

        Like

  1. delia

    hahahhaha..
    suprise dengan endingya…
    selamat mbak atas kelahiran yang baru.. sukses dengan peternakannya …
    waktu kurban kemarin.. anak lia berani megang kambing.. mamaknya aja takut diseruduk hahha..

    salam kenal mbak Tina… ^_^ .. makasih udah mampir ke blog lia… 🙂

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      terimakasih Lia..
      Iya, aku pengen mengembangkan pertanian nih..
      wah tapi kambing yang masih hidup kan ya? aku malah takut kalau lihat proses penyembelihannya..

      salam kenal juga Lia.. sama-sama ya..

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s