Peran masyarakat dalam penyelenggaraan jalan berkelanjutan

 

IMG_4651

Aku masih ingat bagaimana perjuangan anak-anak sekolah dasar, siswa SDN Karangmojo II, menempuh perjalanan untuk bisa sampai ke sekolah. Di samping jaraknya yang cukup jauh, jalan pada waktu itu masih belum rata. Banyak sekali batu-batu besar mencuat di sana-sini, sehingga seringkali kaki kami harus lecet-lecet karena terseok diantara bebatuan terjal di jalan.

Sepatu kami cepat aus dan rusak karena setiap hari harus begesekan dengan bebatuan lancip dan tajam yang kami lewati. Makanya para orang tua lebih sering membelikan sepatu daripada tas ataupun buku. Apabila hujan, banyak pula genangan air dan lumpur di sana-sini yang menjadikan sepatu kami basah. Sepulang sekolah, kami biasa menenteng pulang sepatu dan membiarkan kaki kami telanjang begitu saja. Sambilan keceh (bermain air dengan bertelanjang kaki), begitulah kami memaknai kondisi seperti ini agar menjadi lebih menyenangkan. Meski kaki kami harus sering terkena kutu air, kami harus tetap melindungi sepatu kami. Mau bagaimana lagi, jalannya memang seperti ini.

Kami tidak mau uang sekolah kami hanya habis untuk membeli sepatu…

Aku masih bersyukur karena anak-anak di sini tidak perlu mempertaruhkan nyawa seperti yang dilakukan siswa-siswi di kampung Tanjung, Lebak, Banten. Mereka hanya perlu berjalan hati-hati agar lutut mereka tidak memar karena tersandung atau terjatuh.

Berbeda dengan mereka yang tinggal di seberang sungai Ciberang, Tanjung. Untuk bisa sampai ke sekolahnya, anak-anak tersebut harus meniti seutas tali di atas sungai yang dalam dan beraliran deras. Salah sedikit saja, mereka bisa terpeleset dan tercebur ke sungai Ciberang, tulis Ita Lismawati F. Malau dalam nasional.news.viva. Sampai saat ini telah banyak yang memberitakan siswa hanyut akibat menyeberang jembatan serupa.

Meskipun demikian, rasa syukur kami bukan berarti kami lantas menerima kondisi tersebut secara berkepanjangan. Kami memahami, infrastruktur jalan berperan penting dalam aktivitas perpindahan barang dan jasa. Adanya jalan yang menghubungkan daerah-daerah, serta jalan yang menyebabkan daerah menjadi dilalui perpindahan barang dan jasa akan membawa dampak pada perubahan perekonomian.

Dalam BalitbangPu, kami pun memahami bahwa jalan merupakan salah satu faktor penting dalam perannya terhadap pemerataan pembangunan. Jalan membuka peluang besar bagi kemudahan akses pendidikan dan kemajuan perekonomian. Untuk itulah, warga dusun Gerjo pun berupaya menyelenggarakan jalan dengan sebaik-baiknya. Harapannya, adanya penyelenggaraan jalan membuat aktivitas masyarakat terkait perpindahan barang dan jasa serta akses terhadap pendidikan tidak terhambat akibat jalan yang tidak memadai.

Perlu kita ketahui bahwa pada musim panen, petani-petani di dusun Gerjo, Gunung Kidul bisa menghasilkan berton-ton gabah, jagung, dan gaplek dalam sekali panen. Maka dari itu, ketersediaan jalan yang memadai menjadi aspek penting bagi keberlangsungan perkonomian masyarakat Gerjo. Bagaimana mereka mengangkut hasil pertanian, bagaimana mereka bisa mendistribusikan bahan pangan, dan bagaimana anak-anak berhasil menembuh pendidikan tergantung kepada akses jalan yang tersedia.

dusun gerjo

dusun gerjo

Tentu saja penyelenggaraan jalan Dusun Gerjo tidak seperti penyelenggaraan jalan di kota-kota besar yang segala sesuatunya telah memadai. Penyelenggaraan jalan di sini masih terhalang keterbatasan dana dan sumber daya sehingga bahan dan peralatan yang digunakan masih sangat sederhana, mengandalkan kepemilikan pribadi, dan cenderung menggunakan subtitusi. Terutama karena aspal tergolong sangat mahal, maka penyelenggaraan jalan di desa-desa dan dusun kecil ditanggulangi dengan sistem corblok.

Sebenarnya, penyelenggaraan jalan adalah tanggung jawab pemerintah mengingat betapa pentingnya peran jalan bagi kehidupan semua orang. Hanya saja, tidak semua pembangunan, baik itu penyelenggaraan jalan, jembatan maupun sarana prasarana lainnya berhasil dengan cemerlang. Tidak semua pembangunan yang dilakukan pemerintah intended dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Kondisi ini disebabkan oleh sulitnya ‘akses’ agen-agen pemerintah pusat dalam menjangkau tempat-tempat yang seharusnya menjadi sasaran pembangunan. Mereka tidak memahami keseluruhan karakteristik wilayah sasaran dengan baik sehingga tidak semua permasalahan pembangunan yang ada di masyarakat dapat ditangkap oleh agen pemerintahan. Terlebih, mereka masih berjalan satu arah, menentukan sendiri apa yang mau dibangun dan apa yang mungkin menjadi hal terbaik bagi masyarakat sasaran tanpa melihat jauh ke dalam masyarakat itu sendiri. Akibatnya, pembangunan lebih banyak mewujudkan keinginan (wants) masyarakat daripada kebutuhannya (needs).

Beruntunglah, hadirnya peraturan otonomi daerah, seperti yang tertuang dalam BalitbangPu, menyebabkan penyelenggaraan jalan didasarkan pada pembagian peran antara nasional dengan daerah. Tanggungjawab yang semula berada sepenuhnya di pusat dapat dipecah menjadi tanggungjawab pemerintah pusat dan daerah.

Dengan kata lain, gagasan otonomi daerah dapat menjembatani ketidaksinkronan antara pemerintah pusat dengan daerah dalam menyelenggarakan pembangunan. Dari sini, pembangunan yang berkaitan dengan penyelengaraan jalanpun akan lebih mengena karena adanya komunikasi yang berjalan dua arah, yakni antara masyarakat setempat dengan pemerintah yang memberikan lebih banyak informasi tentang apa yang sebetulnya dibutuhkan masyarakat.

Hal ini menjadi sangat fundamental karena hanya masyarakat setempat (komunitas setempat)lah yang dapat memahami secara mendetil apa yang mereka butuhkan (needs) dan apa yang mereka inginkan (wants). Needs menjadi lebih penting dibandingkan dengan wants, dan needs hanya bisa lebih dipertimbangkan oleh komunitas itu sendiri. Itu sebabnya agem pemerintah tidak bisa bekerja sendiri.

gerjo, grogol, paliyan

IMG_4655

Terlepas dari ketidakmampuan seorang agen untuk bekerja tanpa masyarakat setempat, Dusun Gerjo pun tidak dapat bekerja tanpa bantuan pemerintah. Masalahnya penyelenggaraan jalan di Dusun Gerjo masih terbilang sangat sederhana dan tradisional. Pelaksanaannya masih berdasarkan kebudayaan setempat, gotong royong atau dengan sistem sambatan (tolong menolong tanpa pamrih).

Sisi baiknya, masyarakat menjadi lebih akrab sehingga mudah mengkomunikasikan maksud dan tujuan dari pelaksanaan penyelenggaraan jalan. Pekerjaan mereka juga mudah selesai dan tepat waktu. Namun, karena masih dilakukan dengan sangat sederhana, kekurangannya adalah pada pembagian tugas, pengaturan, dan pelaksanaan.

Pembagian kerja yang selama ini dilakukan hanyalah berdasarkan ketersediaan kepala rumah tangga atau yang mewakili dari rumah, bukan berdasarkan keahlian. Komando atau aturan yang digunakan tidak mengacu pada standar pembangunan jalan yang baik, melainkan hanya berdasarkan pengalaman. Pekerjaan memang memenuhi waktu yang ditargetkan, namun beberapa kali digunakan, jalan mulai pecah-pecah dan rusak. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat masih kurang pengetahuan dalam proses penyelenggaraan jalan yang baik.

Dusun kecil seperti Gerjo belum mendapatkan sosialisasi yang memadai mengenai pedoman tahapan penyelenggaraan jalan seperti yang tertuang dalam BalitbangPu. Pedoman itu berisi tentang pola pembagian peran masyarakat dan pemerintah dalam penyelenggaraan jalan sekaligus mengatur keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan jalan agar lebih berdaya guna (Balitbang).

Peran masyarakat tersebut dilakukan pada fungsi  pengaturan, pembinaan, pembangunan dan pengawasan (TURBINBANGWAS), secara langsung maupun tidak langsung. Masyarakat dalam melakukan perannya wajib berhubungan dengan penyelenggara jalan di tiap-tiap tingkatan (nasional, provinsi, kabupaten, kota, dan desa) melalui unit yang berfungsi melayani peran masyarakat dalam penyelenggaraan jalan. (BalitbangPu)

 

Meskipun Dusun Gerjo saat ini secara mandiri telah mampu menyelenggarakan kebutuhan akan jalan, keberlangsungannya masih perlu dievaluasi mengingat jalan akan terus digunakan dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Peyelenggaraan jalan yang mereka lakukan akan lebih mantap apabila pedoman penyelenggaraan jalan disosialisasikan secara langsung kepada masyarakat Gerjo sehingga pelaksanaannya akan jauh lebih baik, bahkan jalan tersebut nantinya akan mampu mendorong pengembangkan potensi dusun secara lebih baik.

Selama ini banyak aduan dan keluhan untuk perbaikan jalan di sekitar kita, terutama di kota-kota yang warganya cenderung mengandalkan pemerintah pusat karena kemudahannya mendapatkan perhatian dari pemerintah. Namun saat ini tidak sedikit pula masyarakat yang menyelenggarakan pembangunan atau perbaikan jalan secara mandiri seperti yang dilakukan warga Cempaka Putih Timur beberapa waktu lalu. Mereka juga menerapkan sistem gotong-royong, namun dengan pembagian tugas yang jelas.

Aku hanya berandai-andai, bagaimana jika masalah seperti perbaikan sarana prasarana seperti jalan maupun jembatan dilakukan secara mandiri oleh masyarakat setempat. Bukan berarti pemerintah lepas tangan. Namun bukankah ini merupakan hakikat dari otonomi daerah itu sendiri, yaitu menyerahkan segala kewenangan kepada masyarakat?

Aku ingin semua masyarakat di belahan wilayah yang lain juga mampu mengembangkan kompetensinya seperti yang dilakukan warga Dusun Gerjo maupun Cempaka Putih. Kalau mereka bisa, kenapa yang lain tidak? Pemerintah bisa menurunkan agen-agen untuk membaur dengan masyarakat dan bersosialisasi mengenai penyelenggaraan jalan itu sendiri. Sebagai blogger, akupun senang jika diikutsertakan dalam sosialisasi ini mengingat blogger-blogger di Indonesia terbukti memiliki peran penting dalam mengedukasi dan mensosialisasi masyarakat.

Sekali lagi, kalau sudah terbukti ada yang bisa, yang lainpun pasti lebih bisa!

Advertisements

12 thoughts on “Peran masyarakat dalam penyelenggaraan jalan berkelanjutan

  1. Budi Nurhikmat

    Amazing, budaya gotong royong memang masih terasa kental di pedesaan. Ini lah yang seharusnya dilestarikan akar budaya banga oleh bangsa Indonesia. Strategi modern pun tidak akan menyangkal bahwa budaya gotong royong sudah merupakan TEAM ( Together, Everyone, Achive, More) dan terkandung utamanya ada silaturahim antar penduduk serta saling membantu bagi yang lemah. Cerminan yang sudah lunntur di tenga hiruk pikuk modernisasi. Trmss sudah mengingat kan 🙂

    Like

    Reply
  2. Tiyo Kamtiyono

    Agen, jadi langsung keinget James Bond 😀

    Memang dengan gotong royong pekerjaan yang jadi kebutuhan publik atau pribadi sekalipun seperti memperbaiki rumah banyak yang bisa cepat selesai. Di kampung – kampung masih sering hal ini berlaku, seperti kampung saya.

    Kalau untuk kualitas hasilnya, di tempat saya sih kemarin kalau nggak salah lumayan bagus, tapi untuk memperluas cakupannya, kualitas corblok yang dibuat agak diturunkan dengan mengurangi semen dalam campuran adukan itu.

    Like

    Reply
  3. nurme

    Setuju dengan Mas Hikmat, Amazing 🙂
    Jaman sekarang kayaknya sudah sulit melihat momen seperti ini.

    Jadi rindu masa lalu saat aparat dan masyarakat bekerjasama membangun

    Like

    Reply
  4. mamaniyya

    Hal begini yang harus dicontoh ya mbak..
    banyak sekali kita lihat sekarang kalo di kota2 besar… disuruh gotong royong sebulan sekali gak mau, dan lebih milih nyumbang uang saja…
    padahal hal begini banyak sekali manfaatnya,

    Like

    Reply
  5. airyz

    aih, di sragen tempat nenek saya juga gitu. saling bahu membahu gotong royong dan kontur jalannya hampir mirip kayak gitu. btw berapa lama bikin tulisan ini?

    Like

    Reply
  6. firmansyah

    desa juga merupakan pondasi dari sebuah negara ini, desa yang mandiri mampu membuat negeri ini menjadi lebih berarti 🙂

    btw, saya lagi cari kontributor berita sebuah portal khusus informasi desa, kalau mau nanti bisa kontak saya. niatnya portal ini tidak bertujuan untuk earning seperti portal2 lainnya, tapi memang untuk media informasi bahwa ini lho ada desa yang seperti ini, sehingga masyarakat luas akan mengetahui bahwa indonesia itu kaya

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s