Turut Serta dalam Hiporia Ritual Grebeg Mulud 1435 H

20140114_110916.resized

Kedatangan saya ke acara Grebeg Mulud, Selasa 12 Rabiul Awwal 1435 H kemarin bukanlah dimotivasi oleh keinginan ngalap berkah dari gunungan raksasa yang dipanggul prajurit Keraton Yogyakarta yang nampak gagah dalam balutan khas keraton itu. Saya datang ke acara istimewa tersebut lebih karena saya ingin menikmati masa liburan semester saya di Jogja yang kebetulan bertepatan dengan acara Grebeg Mulud. Untuk itu saya datang ke alun-alun Utara pagi itu dengan menggandeng orang yang tepat untuk diajak jalan. 

Gunungan ke-2 Grebeg Jogja

20140114_101503.resized

20140114_102813.resized

20140114_104331.resized

Namun tanpa disangka, begitu sampai di alun-alun Utara keraton keinginan saya untuk sekedar jalan-jalan berubah yakni ingin turut merasakan hiporia dalam nuansa sakral ini bersama sebagian besar warga Yogyakarta dan wisatawan yang datang. Di siang hari yang terik itu, saya bersama dengan ribuan orang lainnya dengan sukarela turut berdesak-desakan demi menunggu arak-arakan prajurit keluar dari dalam keraton.

Panas, bau keringat menyengat ataupun petugas yang mendorong-dorong layaknya mengusir demonstran itu tak saya perdulikan lagi. Demi melihat lebih dekat abdi dalem keraton beserta arak-arakannya itu, saya berusaha memposisikan diri di depan agar tetap bisa mengamati dengan jelas jalannya upacara. Satu-satunya yang saya waspadai adalah keselamatan kaki saya yang beberapa kali terinjak oleh sepatu-sepatu lancip milik ibu-ibu yang sangat antusias dengan gunungan di depan saya.

Kalau kaki saya sampai terluka, saya jadi tidak bisa menikmati acara Grebeg ini sampai selesai kan…

20140114_112448.resized

Luar biasa. Di tengah modernisasi yang mengglobal, acara kebudayaan seperti ini masih menjadi perhatian besar masyarakat dari banyak wilayah. Bahkan ada yang rela datang jauh-jauh dari luar wilayah hanya untuk menyaksikan acara ‘rebutan gunungan’ ini. Tidak tua, tidak muda, semua menikmati acara. Melihat antusias masyarakat pada Grebeg Mulud kemarin membuat saya ragu, benarkah masyarakat mulai melupakan tradisi dan kebudayaan? Nyatanya perhatian mereka pada acara seperti ini masih begitu besar. Tak kalah dari menonton acara konser musik.

Padahal kalau dilihat dari esensinya, upacara Grebeg seperti layaknya upacara bendera, masih sering dilakukan namun sudah mulai kehilangan maknanya. Pelakunya sebenarnya sudah meninggalkan tujuan budaya, hanya masih tetap berpegang pada cara-cara yang telah digariskan oleh masyarakat.

Bagi saya, acara Grebeg di Keraton Yogyakarta kemarin membuktikan betapa besarnya perhatian masyarakat pada kebudayaan Yogyakarta. Dalam sekejab mampu menarik ribuan pengunjung untuk datang ke Jogja hanya untuk menyaksikan upacara ritual yang berlangsung beberapa jam tersebut. Yang lebih mengherankan, serpihan dan potongan-potongan kecil dari si gunungan itu ludes tak berbekas.

“Ini mau saya pendam di rumah, biar saya dapat berkah”, kata ibu-ibu yang mendapat pelepah pisang dari gunungan.

20140114_115115.resized

Masjid Kauman yang lokasinya dijadikan acara utama di mana acara rebutan gunungan berlangsung pun menjadi daya tarik tersendiri. Masjid ini memiliki arsitektur yang sangat indah, khususnya langit-langitnya yang didesain apik dan sangat Jawa. Corak warna dan ukiran pada langit-langit serambi masjidnya juga memadukan warna yang cantik sehingga saya tidak henti-hentinya mendongak ke atas.

Sekilas, masjid Kauman tidaklah nampak seperti masjid. Bentuknya seperti balai-balai dan tidak memiliki mustaka seperti masjid kebanyakan. Kalau Anda masih ingat, masjid inilah yang digunakan untuk syuting film Sang Pencerah, yang dulu shafnya diluruskan oleh Khj. Ahmad Dahlan.

20140114_121949Usai panas-panas menyaksikan arak-arakan Grebeg, shalat sambil ngadem di masjid ini benar-benar menyenangkan. Saya jadi tidak sabar menyaksikan Grebeg tahun depan 🙂

Nah, bagi temans yang belum pernah menonton dan tahun depan kepingin mencoba ikut serta dalam hiporia Grebeg Mulud tahun depan, jangan lupa sebelum nonton persiapkan dulu keperluan selama di sana. Temans perlu menyiapkan kondisi badan yang prima, sunblock, topi, tas ransel, obat-obatan pribadi, air mineral, dan tas ransel yang tidak mudah lepas jika digunakan saat berdesakan. Dan yang paling penting, jangan lupa sarapan karena berdiri lama di atas terpaan sinar matahari bisa membuat mudah lemas dan pingsan.

Kebetulan kemarin saya sempat mencicipi sarapan nasi gureh di warung makan Bu Pah. Rasanya seperti namanya, gurih dan enak. Cocok sekali bagi wisatawan yang tidak terlalu suka makanan manis atau memiliki masalah maagh pada perut. Nasi Gureh Bu Pah cocok dinikmati sebelum jalan-jalan.

Selamat mencoba 🙂

Advertisements

22 thoughts on “Turut Serta dalam Hiporia Ritual Grebeg Mulud 1435 H

  1. muhammad khoirudin

    saya rasa jika kita menyakini hal hal seperti ini bisa bisa menjadi kufur karena syirik mempercayai sesuatu selain Allah walaupun itu bersifat kebudayaan dan masih terlihat kental ajaran islam tapi menyeleweng jauh dari tuntunan syariat

    salam

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      salam juga mas..

      Saya sih tidak mau memperdebatkan percaya atau tidaknya. Bagi yang mau percaya silakan, bagi yang tidakpun tidak masalah..

      Saya hanya menuliskan bagaimana kebudayaan seperti ini masih menarik bagi banyak orang. Menjadi bukti kalau masyarakat masih punya perhatian pada Jogja 🙂

      Like

      Reply
    1. Tina Latief Post author

      bener ya datang 🙂
      jangan lupa persiapkan segala sesuatunya,
      yah minimal latihan nonton konser biar anti desak-desakan hehe

      Like

      Reply
  2. edi padmono

    Muludan yang sering di sebut pesta sekaten bagi masyarakat jogja dan solo memang menarik, dan menurut saya saat ini murni budaya tanpa embel-embel agama walaupun acara ini dikhususkan memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW.
    Terkadang orang terlalu berlebihan membuat doktrin sebuah ajaran tanpa membedakan mana budaya dan mana ajaran agama.

    Like

    Reply
      1. edi padmono

        sekali waktu masih kecil sebelum SD, tapi masih ingat betapa meriahnya pesta sekaten di solo terutama pesta gunungannya dan tentunya namanya anak-anak ya yang penting mainannya.

        Like

      2. Tina Latief Post author

        kalau yang mas ingat apa bedanya dengan gunungan yang di jogja? bayangan saya gunungan itu lebih meriah..

        Like

      3. edi padmono

        saya belum pernah lihat uang di jogja, tapi kalau di solo itu pesta gunungannya meriah banget ada arak-arakan diiringi beberapa kesenian lokal terus puncaknya rebutan makanan gunungan itu. kemudian juga ada pasar malamnya yang banyak sekali permainan untuk anak-anak.

        Like

      4. Tina Latief Post author

        saya membayangkan gunungannya itu lebih besar dan lebih meriah, namun ternyata tidak begitu wah..
        atau memang designnya berbeda ya tiap tahun hehe

        Like

  3. alief

    ntah kenapa aku kurang tertarik sama acara seperti itu.
    rasanya kurang sreg aja, apalagi kalau sudah ada pernyataan macam “ini mau disimpan agar membawa berkah”.

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      oh kalau itu terserah bagi yang mempercayainya mas..
      kalaupun tidka percaya ya tidak apa-apa. Bukan halangan untuk menikmati acara 🙂

      Like

      Reply
    1. Tina Latief Post author

      Di bakar rasa semangat dan keinginan untuk ikut andil lebih besar dlm acara saya kira..
      sehingga perhatian keselamatan diri jadi tidak fokus..

      Like

      Reply
  4. Budi Arnaya

    trima kasih Tin, bangga dg kemajemukan budaya sendiri adalah pertanda kita mencintai diri, masyarakt, bangsa dan negara..trus informasikn budaya selagi kita diberi kesempatan Tin… smga bisa ke Yogya ya

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Yup mas..
      Tahun depan kalau ada grebeg ke jogja mas, desak-desakannya menantang fotografer untuk bisa menghasilkan foto terbaik.. hehe

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s