Belajar Mengarahkan Diskusi

Semalam saya bermain-main dengan sosial media, tepatnya saya sedang uji coba (eksperimen). Eksperimen yang saya lakukan sederhana, yakni dengan membuat sebuah group di FB (yang kebetulan sudah saya buat beberapa minggu yang lalu), lalu mengajak anggotanya diskusi tentang suatu topik.

Nampaknya diskusi di sosial media sudah terdengar biasa, namun yang ini lain. Bagi saya ini adalah tantangan. Mengapa? Karena saya di sini dihadapkan dengan orang-orang dari berbagai kategori pendidikan dan profesi yang sama-sama menggunakan sosial media untuk membicarakan suatu hal namun tidak menggunakannya sebagai sarana diskusi yang baik. Nah, tujuan saya di sini adalah untuk menjadikan group tersebut menjadi group yang memiliki kultur diskusi/berbicara yang baik. Baik dari segi penulisan, bahasa, dan bahasan. Untuk itu di sini saya mencoba berperan sebagai pengarah diskusi.

Pada kesempatan malam itu, saya mencoba melontarkan sebuah topik kepada anggota di dalam group. Topik yang saya angkat sederhana saja, yang sedang hangat-hangatnya terjadi, yakni tentang banjir di Jakarta dan bagaimana solusinya. 

Setelah saya memposting topik tersebut di wall, banyak anggota yang memberikan tanggapan. Mau tau apa jawaban para anggota group?

“Cintaku untukmu tak akan pernah habis seperti banjir Jakarta” kata salah seorang anggota diskusi. Saya jadi tekikik. Mereka malah mengalihkan diskusi tentang banjir tersebut ke arah modus dengan cara mengkambinghitamkan kata “banjir” di situ.

Namun segera menyadari bahwa tujuan saya melontarkan topik banjir tersebut bukan untuk tertawa terpingkal, saya mencoba fokus kembali dengan berusaha mengembalikan diskusi ke jalur yang benar.

Berkali-kali saya berusaha mengembalikan perbincangan di sosmed tersebut agar kembali ke topik Banjir tadi tanpa terlihat mencurigakan dan aneh bagi mereka tetapi gagal. Anggota diskusi lebih tertarik menanggapi modus dari salah seorang peserta terhadap peserta lainnya tersebut. Akhirnya pada kesempatan malam itu saya berkesimpulan bahwa saya masih belum bisa mengarahkan group ini ke arah diskusi yang baik.

Saya masih menimbang-nimbang mengenai kemungkinan topik yang saya lontarkan masih terlalu sulit bagi mereka, ketidakmengertian mereka pada topik, atau memang keengganan mereka membahas topik tersebut. Seandainya demikian, maka saya harus menurunkan level topik diskusi tersebut ke level yang lebih mudah dan sekiranya menarik bagi mereka. Kemudian baru mempelajari bagaimana mereka menyampaikan pendapat agar selanjutnya perbincangan bisa lebih terarah.

Perlu diketahui bahwa group yang menjadi percobaan saya adalah group dengan anggota yang memiliki usia rata-rata setara, namun berbeda dari segi pendidikan, profesi, dan tempat tinggal. Satu-satunya yang menyamakan mereka adalah mereka pernah duduk di bangku sekolah yang sama dan memiliki budaya yang sama.

Advertisements

6 thoughts on “Belajar Mengarahkan Diskusi

  1. xrismantos

    Hahahaha jadinya modus-modusan ya tin…mungkin perlu dipancing kaya gini : kalo ada yang pendapatnya bagus dapet bonus candlelight dinner sama saya, dijamin diskusinya langsung fokus deh 😀

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      hehe iya nih mas, malah bergosip..

      sebetulnya mereka bukannya tidak mau duduk sama rendah, masalahnya mereka tidak punya kultur diskusi/ berbicara dg baik. Awalnya saya berharap mereka mau menimpali topik meski timpalannya agak ngawur. Setidaknya mereka berpikir dan mau bicara..
      nyatanya ya ngga hehe..
      Masih perlu dorongan..

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s