Perempuan yang Melukis Wajah, Keterlambatan yang Menyita Perhatian

Perempuan yang Melukis Wajah bukanlah buku yang seharusnya saya baca di tahun ini melainkan 2012 lalu. Bersamaan dengan tahun di mana buku ini terbit, Mj-lah yang lebih dulu membacanya dibanding saya. Kala itu ia berjanji akan memberikannya pada saya usai membacanya. Makanya saya tak segera membacanya meski menemukannya di Gramedia. Sayang buku ini musti terselip entah di mana. Hingga dua tahun berselang, barulah buku itu ditemukan dan diberikan Mj tepat 3 hari yang lalu saat saya main ke rumahnya.

***

20140205_160829.resizedMulanya saya bertanya-tanya mengapa buku yang berisi sebelas cerita pendek oleh Kak Ainun, Hanny, Ndoro Kakung, Mas Karmin Winata, Aan Mansyur, Mumu, dan Wisnu Nugroho, diberi judul Perempuan yang Melukis Wajah, cerpen karya mas Karmin? Mengapa tidak menggunakan milik Hanny atau yang lain?

Hehe, nampaknya saya menunjukkan keberpihakan. Secara, sebelum membaca karya ke-7 penulis lainnya, saya telah lebih dulu mengenal tulisan Hanny.

Namun, saya tak langsung berkesimpulan. Saya cermati dulu daftar isi buku tersebut. Saya melihat ada beberapa karya Hanny di sini. Di bagian pertama saya membaca tulisan Hany yang berjudul Humsafar (kekasih, belahan jiwa, teman hidup, kawan seperjalanan), sebuah istilah dalam bahasa Urdu yang layak ditiru untuk menyebut seorang pacar. Seperti biasa, membaca tulisan Hanny membuat saya terbawa ke dalam alur cerita yang begitu memainkan emosi. What if I became Julia? Or Nai, or Ella? Damn, why she talked about loosing people we love?. Saya jadi berpikir, sudah berapa pembaca yang direbut hatinya oleh tulisan ini? ah saya tidak perlu memuji Hanny lagi.

Di cerita ketiga, saya menemukan cerpen karya Ndoro Kakung. Dari awal saya sudah sangat penasaran, bagaimana seorang blogger sekaligus aktivis Twitter tersebut menulis cerpen. Saya pikir Om Wi akan menghadirkan romantisme yang begitu lekat pada kebiasaannya menulis, menggombal di Twitter. Namun entah, membaca tulisannya kali ini benar-benar berbeda dari kebiasaannya menulis di Twitter maupun di blog. Mungkin karena kali ini beliau tidak sedang membahas politik ataupun sekedar menggombal manis.

Kisah Rafi dan Banyu oleh Mumu Aloha juga sempat menyita perhatian saya. Tetapi benarkah kedua lelaki ini hampir terlibat dalam sebuah hubungan sesama jenis? Karena inilah imajinasi yang melayang di kepala saya saat membaca kisah duo pendaki gunung tersebut. Sayangnya ceritanya harus berakhir di lembaran ke-12. Andaikan ceritanya tak hanya sepenggal, mungkin saat ini saya masih menikmati jalan cerita kedua lelaki tersebut. Bagaimana akhir kisah mereka?

Well, tak lebih dari 2 jam saya menyelesaikan lembar-demi lembar cerita tersebut. Menarik, karena dalam waktu yang sedemikian singkat tersebut saya bisa terbawa ke dalam imajinasi 8 penulis cerpen tersebut.

Jika saya diminta memilih tulisan siapakah yang paling menarik, mungkin saya akan bingung sendiri. Masing-masing penulis memiliki nyawa dan karakter menulis masing-masing. Baik tulisan Kak Ainun, Aan Mansyur, dan Wisnu Nugroho yang tidak saya tuliskan secara langsung pun memiliki kekhasan masing-masing.

Di awal, saya sempat bertanya-tanya mengapa tulisan mas Karmin dipilih menjadi judul kumpulan cerpen ini dan mengapa tak menggunakan karya Hanny? Karena bagi saya, Humsafar, sebagai karya pertama dan memiliki istilah yang cukup menjual adalah judul yang bisa menjadi pilihan. Namun sebelum membaca tulisan mas Karmin tentang Perempuan yang Melukis Wajah, tentu saya tidak dapat berkesimpulan. Orang tentu tak mengira, dibalik sosok mas Fanabis yang pendiam itu, dia bisa menuliskan cerita dengan ide yang luar biasa. Nyatanya, cerita cinta seorang gadis yang akhirnya mendiami rumah sakit jiwa itu benar-benar menyita perhatian saya.

Jadi, jika pertanyaannya mengapa menggunakan karya mas Karmin sebagai ujung tombak cerita, saya tetap sepihak.

Advertisements

7 thoughts on “Perempuan yang Melukis Wajah, Keterlambatan yang Menyita Perhatian

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s