Selamatkan Hutan, Selamatkah Keberlangsungan Hidup Kita!

Terkagum pada pemandangan alam yang tersaji di puncak kebun buah Mangunan, Bantul pada kunjungan pertama membuat saya tak segan mengunjungi untuk yang kedua kalinya. Bediri menghadap pegunungan nan hijau seraya menikmati hembusan udara segar di sana memang sungguh menyenangkan. Namun di benak saya sempat terselip sebuah tanya terkait apa yang saya lihat saat itu. Masihkah hamparan kehijauan pegunungan beratus kilometer di depan itu hutan?

Belakangan ini isu lingkungan terkait ketahanan hutan belantara kita semakin memprihatinkan. Sebut saja Sumatra, Jambi atau Riau, yang dari tahun ke tahun harus kehilangan tutupan hutannya. Terhitung dari tahun 2000-2009, laju deforestasi semakit meningkat. Permasalahan hutan yang dikonversi menjadi lahan tambang dan perkebunan ilegal juga turut mewarnai isu tentang lingkungan. Belum lagi masalah perubahan iklim yang tidak alami, terancamnya satwa dari kepunahan, dan bencana alam di berbagai wilayah yang hampir selalu bisa dikaitkan dengan aktivitas penebangan liar dan pembukaan areal perhutanan sebagai lahan komersil. Saya jadi pesimis kehijauan yang saya lihat waktu itu adalah hutan.

hutan indonesia

hutan4

Berpuluh tahun yang lalu, Indonesia adalah zamrud khatulistiwa. Tempat beradanya surga kehijauan dan kelestarian alam yang membentang dari 6oLU – 11oLS dan 95oBT – 141oBT. Perannya sebagai organ penting dunia berkontribusi besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan menyumbang nafas segar bagi sistem pernapasan umat manusia. Kemampuannya menopang kehidupan dan menghidupi perut-perut kelaparan berjuta umat sempat mendongkrak citra Indonesia di mata dunia melalui program swasembada pangan di tahun 1984.

Akan tetapi, kondisinya mulai berubah ketika manusia tak lagi puas dengan apa yang sudah diberikan alam. Berbagai upaya instan dilakukan untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memerdulikan akibatnya. Dimulai dari intensifikasi penggunaan zat-zat kimia pada pertanian hingga perambahan areal hutan menjadi lahan perkebunan yang perlahan merampas kelestarian alam. Anak cucu yang seharusnya mewarisi kekayaan alam kita, justru tak sempat mencicipi keramahan hutan Indonesia yang dulu dibanggakan. Indonesia tak lagi mampu berswasembada pangan, juga tak lagi mampu menghembuskan nafas segar kepada mahkluk-mahkluk yang tinggal di dalamnya. Yang tersisa kini hanyalah seenggok lahan yang rentan, sakit-sakitan akibat digerogoti ketamakan manusia. Hutan Indonesia kini layaknya paru-paru terserang virus kanker mematikan yang menunggu hitungan detik untuk menjemput ajal.

Saya berpendapat dijamahnya hutan sebagai sarana pertanian dan perkebunan berkaitan dengan program Revolusi Hijau pada masa Orde Baru. Dulu sebelum muncul program penyeragaman bibit tanam dan penggunaan bahan-bahan kimia di pertanian, petani masih menggunakan ani-ani sebagai alat pemanen padi. Beramai-ramai dengan sistim sambatan mereka menyelesaikan petak demi petak sawah berisi padi berjenis batang tinggi. Aktivitas berladang kemudian berubah ketika muncul padi berjenis batang pendek. Yang selanjutnya, padi dipanen dengan sistim babat dan dirontokkan di tempat dengan menggunakan mesin perontok padi.

Perubahan penggunaan teknologi mengakibatkan peran masyarakat petani berkurang. Sebagian tak bisa lagi ikut dalam kegiatan produksi dan pengolahan padi. Sharing poverty yang selama ini dijalankan untuk mengatasi pengangguran di desa tersendat begitu saja. Akibatnya, tenaga kerja di desa melimpah. Bagian terburuknya, perubahan teknologi menyebabkan desa dililit masalah pengangguran dan involusi.

Kaitannya dengan hutan yang dijamah, dalam kurun waktu tertentu pekerjaan dari sektor non formal di kota-kota besar seperti salah satunya menjadi buruh perkebunan meningkat sejalan dengan masalah pengangguran di perdesaan. Banyak orang berbondong-bondong mendatangi perkebunan demi sebuah penghidupan atas pertanian di kampung halaman yang tak lagi menjanjikan. Kesempatan ini kemudian dipergunakan para majikan dan pemilik perkebunan untuk memperluas areal perkebunan mereka. Dengan dalih menampung tenaga kerja, mereka rampas hak-hak hidup pepohonan dan satwa di hutan demi memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, bahkan dengan cara-cara yang tidak dilegalkan. 

Pada akhirnya, perkebunan-perkebunan yang didirikan di atas areal perhutanan memang menolong masyarakat dari desakan kebutuhan hidup yang begitu mengikat. Namun, bagaimana nasip hutan kita selanjutnya? Sementara kita terus menerus mendesak hutan untuk lahan perkebunan, kebutuhan kita akan pangan dan kelestarian lingkungan hidup tidak terjawab . Tentunya menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa jumlah lahan hutan yang dikorbankan untuk pertanian tidak mampu mencukupi pangan rakyat. Mengapa pula jumlah petani setiap tahunnya terus menghilang sementara lahan perhutanan yang dibuka semakin meningkat?

Turut bersuara dalam kompetisi blog hutan Indonesia ini adalah salah satu bentuk kepedulian saya pada keberlangsungan lingkungan hidup yang asri. Seperti halnya misi aksi Protect Paradise, saya dan teman-teman yang tergabung dalam yayasan pecinta lingkungan Lantan Bentala berusaha menyelamatkan dan menyelenggarakan lingkungan hidup yang sehat dan lestari. Jika Anda tergerak untuk mengikuti jejak kami sumbangkan kepedualian Anda dengan bergabung dengan aksi Protect Paradise di SINI

Mari selamatkan hutan, selamatkan Indonesia!

Sumber referensi:

1. http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/melindungi-hutan-alam-terakhir/Hasil-Temuan-Perjalanan-Tim-Mata-Harimau/
2. http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/perubahan-iklim-global/
3. http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/melindungi-hutan-alam-terakhir/hutan-dan-perubahan-iklim/
4. http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/melindungi-hutan-alam-terakhir/Membakar-Iklim/

Tambahan
E-newsletter karya Lantan Bentala dapat diunduh di SINI
E-newsletter terakhir dapat diunduh di News-175 Papabum di Festival Budaya Kampung JB

Advertisements

One thought on “Selamatkan Hutan, Selamatkah Keberlangsungan Hidup Kita!

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s