Etnisitas dalam Perkenalan

13921298425030

Chihiro Hayashi, student exchange from Japan

Ketika memperkenalkan diri, apakah yang mewakili Anda dalam perkenalan? Kenegaraan kah? tanah kelahiran? etnis? atau  tempat tinggal?

Hari ini di kelas Relasi Etnis, kami kedatangan dua mahasiswa program exchange yaitu Chihiro Hayashi dan Jhon Choe. Mereka berdua akan belajar di UI hingga beberapa waktu ke depan salah satunya mengenai etnisitas.

Tak banyak yang mereka perkenalkan di kelas. Namun dari sana saya tau bahwa Chi, begitulah dia disapa adalah mahasiswa dari Jepang dan Sung Ho merupakan mahasiswa pasca sarjana dari Korea yang sebelumnya telah menyelesaikan studinya di Kanada.

Pilihan mereka tepat karena dengan belajar di UI mereka akan berkesempatan bertemu mahasiswa Ui dari beragam wilayah dan budaya. Melalui perkenalan saja, mereka sudah mengantongi banyak konsep bahwa Indonesia terdiri dari banyak wilayah dengan etnis yang bermacam-macam pula.

Jawa, Cina, Batak, Minang, Madura, Papua, dsb semua bisa dijumpai di UI.

Tetapi ada yang unik dari perkenalan di kelas tadi. Dari sekitar 25 mahasiswa, hampir seluruhnya memperkenalkan diri dengan menyebutkan golongan etnis dan tempat keahiran mereka. Maksud saya, mengapa mereka menyebutkan itu? Mengapa tidak tempat tinggal atau kenegaraan saja misalnya? Mengapa hampir semua orang memention etnis sebagai perwakilan identitas mereka?

Karena berbeda dengan Chi dan Sung Ho, mereka memperkenalkan diri hanya dengan menyebutkan kenegaraan mereka. Apakah ini karena mereka mahasiswa exchange? Mereka menjawab tidak. Bagi Chi dan Sung Ho, mereka sudah terbiasa memperkenalkan diri dengan menyebutkan Korea/ Jepang sebagai identitas mereka meskipun mereka juga berasal dari wilayah terkecil bagian dari Korea ataupun Jepang.

Kembali lagi ke Indonesia, mengapa bukan Indonesia yang menjadi wakil identitas?

Saya sendiri tidak begitu memperhatikan hal ini. Namun mengapa saya menyebutkan Jogja dan Jawa sebagai perwakilan identitas saya karena Jogja dan Jawa merupakan istilah yang lekas pada saya sedari kecil. Saya lahir di Jogja, dan secara ascribe merupakan bagian dari etnis Jawa.

Pertanyaannya selanjutnya, mengapa saya tidak menyebutkan Indonesia atau Jakarta? secara beberapa tahun lalu saya sudah mengubah status kependudukan saya menjadi penduduk Jakarta. Namun, sekali lagi ini tidak ada hubungannya dengan bagaimana saya memperkenalkan diri kepada mahasiswa asing. Meskipun Indonesia dan Jakarta merupakan bagian saya sekarang, namun Jawa telah lama merangkul saya, dan lebih dulu memberikan social identity pada saya.

Jadi jika seseorang menyebutkan golongan etnis sebagai perwakilan dalam perkenalan, tentu kita jadi tau apa maksudnya.

Advertisements

10 thoughts on “Etnisitas dalam Perkenalan

  1. Ranger Kimi

    Mungkin gak begini: Ketika kita memperkenalkan diri kita sesama orang yang kita tahu “Indonesia”, kita merasa perlu menyebutkan kita berasal dari daerah mana atau kita bersuku apa. Semacam penekanan identitas diri. Dan menurutku juga, kita sebagai orang Timur, identitas kelompok kita melekat kuat sih. Sementara, kalau kita berkenalan dengan foreigner, kita cukup memberitahu bahwa kita dari negara mana kita berasal. Kita gak terlalu open up sama orang asing (asing di sini maksudnya foreigner), kan? Kalau ingin mengenal lebih lanjut mengenai suku/etnis kita, bisa lewat obrolan berikutnya. Ya gak sih?

    Btw, kalau saya sih, gak terbiasa berkenalan dengan orang baru menyebutkan suku saya apa. Saya cukup memperkenalkan diri saya dan asal daerah. Sudah, itu saja.

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Masing-masing orang memang berbeda tergantung dari identitas sosial yang mereka bawa. Orang lain jika ditanya mungkin bisa menjawab menyebutkan kenegaraan, orang Indonesia misalnya, suku, orang Jawa misalnya, bahkan ada juga yang menyebutkan profesi dan sesuatu yang unik di dalam diri seseorang. Sesuai dengan apa yang mewakili mereka.

      Seperti yang kamu sebutkan, asal daerah. Itu berarti asal daerah merupakan identitas yang mewakili kamu.

      Nah, bagi Chi dan Jhoe, berdasarkan bincang-bincang kami di kelas, mereka tidak biasa menyebutkan asal daerah/ bagian terkecil dari negara mereka meskipun mereka saat ini di negeri orang. Aku masih ingat apa yang dikatakannya “I always mention Korea in my introduction without any specific district”

      Wa, aku baru tau..
      Berbeda sekali dengan teman-teman yang tidak menyebutkan Indonesia dalam perkenalan mereka. Hehe.. unik ya..

      Like

      Reply
  2. xrismantos

    Dulu waktu aku di Jepang, kejadiannya malah terbalik. Aku memperkenalkan dengan nama dan Indonesia aja. Sedangkan mereka, nama dan tempat asalnya. Kalau dari pemahamanku sih, ketika berada di negeri orang, cukup pakai identitas negara asal aja. Toh, kita sebutkan asal daerah kita pun mereka ga bakal paham. Begitu sih kira2 kalo aku mikirnya simple aja hehehe…

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      akupun belum berkesimpulan kalau semua orang jepang maupun korea seperti dua temanku di atas mas, cuma menyebutkan identitas kenegaraannya. Yang aku tuliskan hanyalah penjelasan mereka saat di kelas. Entah itu kebiasaan mereka atau keinginan subjektif mereka, aku sendiri belum tau. Tapi ketika dosen menanyakan hal itupun pengakuan mereka sama seperti apa yang telah aku tuliskan di atas..

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s