Kocok! Uncut, It is About Community

Kocok! versi Uncut adalah buku yang pernah disebutkan Mba Linda Darmajanti dalam kuliah Sosiologi Komunitas. Saat itu kami sedang belajar mengenali komunitas-komunitas  yang ada di desa maupun perkotaan mulai dari bagaimana komunitas terbentuk hingga bagaimana komunitas mengelola aset untuk keberlangsungan anggotanya. Termasuk komunitas arisan urban yang turut menjadi topik diskusi kami. Bagaimana arisan yang dikenal diikuti ibu-ibu yang datang berantakan, bau dapur, menjadi sebuah ajang untuk show off, eksis, dandan total, hingga menemukan kesenangan dalam mengocok undian.

***

Brand bisa membuat seseorang merasa bisa upgrade status! Meskipun secara sosiologis tidak, banyak yang beranggapan begitu. Makanya demi sejajar dengan teman-teman elitenya, seseorang berusaha mati-matian mendapatkan tas keluaran rumah mode terkenal yang harganya puluhan hingga ratusan juta. Padahal tujuannya satu, hanya untuk ikut arisan. Tentu kita jadi bertanya, arisan seperti apa yang sedang dilakoninya itu.

IMG_20140215_210550.resizedArisan seperti yang saya kutip dari buku Kocok! adalah sekelompok orang (umumnya kaum hawa) yang berkumpul dan mengumpulkan uang secara teratur tiap periode tertentu. Uang yang terkumpul kemudian diambil nama pemenangnya secara bergiliran sampai periode putaran arisan berakhir yakni bila setiap anggota telah memenangkan undian.

Melalui definisi tersebut, agaknya tidak ada beda pengertian antara arisan di desa dengan di kota. Namun siapa sangka jika wanita-wanita urban mampu menyajikan arisan yang tadinya hanya menarik dan mengundi pemenang menjadi sebuah aktivitas rutin yang bisa membuat orang berdecak kagum, iri, hingga geleng-geleng kepala. Karena arisan yang isinya kebanyakan para sosialita itu merupakan sebuah wadah yang juga menyalurkan hasrat kreativitas mereka. Sebut saja kreativitas berbisnis, berdandan, narsis, hingga keinginan untuk mendapatkan ‘hasil kocokan’ yang wah dari si empunya acara. Saking kreatifnya, arisan juga tak lagi sekedar wadah sosialisasi dan silaturahmi keluarga melainkan juga wahana bagi si social climber yang ingin pamornya naik ke strata sosial berikutnya.

Saya jadi teringat fenomena narsis dan foto selfie yang dulu sempat menjadi bahan olok-olok di sosial media. Di arisan wanita urban dan sosialita, hal itu sudah biasa dan justru digunakan sebagai sarana mendongkrak pamor. Instagram dan BB adalah andalan untuk show off koleksi foto-foto narsis bersama koleksi barang-barang branded mereka. Setiap kali selesai berfoto, para anggota arisan beramai-ramai mengganti profil picture di BB. Untuk apa? Just wanna show you, this is who we are! Kurang puas dengan jepretan kamera ponsel, tak kurang akal para anggota arisan membawa fotografer profesional untuk mengabadikan momen masing-masing anggota arisan. Sayang kan dandan berjam-jam jika tidak diabadikan. Meskipun sebetulnya menggelikan, bergaya sangat narsis seperti cicak di dinding hingga pose ala stripper tetap dilakoni juga. 

Yang menarik adalah ketika sosialita kini menjadi sebuah profesi yang kemudian dapat dicantumkan di dalam selembar kartu nama. Bukankah sosialita adalah sebuah imej atas apa yang dilihat orang terhadap kedudukan dan kinerja seseorang di lingkungan sosialnya? Saya terkikik membaca pendapat salah seorang yang mengaku sosialita mengenai sosialita itu sendiri, “Sosialita ya kayak kita-kita ini. Sering datang ke event gaya hidup dan diburu fotografer”. Jadi seperti itukah mereka? 

Soal arisan berondong yang katanya menjadi sorotan kebanyakan pembaca buat saya ya… itu bisa saja. Toh ada pula yang arisannya dengan dollar, emas, berlian, hingga arisan yang anggotanya menggunakan jet pribadi untuk bolak-balik ke luar negeri. Yang menjadi pertanyaan, dari manakah mereka mendapatkan stok berondong? Apakah mereka punya kenalan seorang germo?

Membuat kepala bergeleng kan? mulanya sayapun demikian. Dibesarkan di tengah keluarga yang biasa saja membuat saya mengenal arisan sebagai kegiatan yang terlalu kaku, membosankan, bahkan cenderung memberatkan. Namun membaca hasil penelitian Joy dan Nadia membuat pola pikir saya berbalik 180 derajat. Tetapi ini nyata dan benar-benar ada di kehidupan kita. Arisan tak lagi kaku, tetapi sesuatu yang elastis, mudah dimodifikasi menjadi sesuatu yang fun dan juicy.

Di akhir kata, Joy dan Nadia sempat bertanya bagaimana pandangan tentang arisan setelah membaca bukunya. Bagi saya sendiri, inti dari kegiatan arisan adalah sarana untuk memenuhi kebutuhan berkomunitas. Barang-barang branded, dandanan heboh, kostum seragam, untuk apa semua itu kalau bukan untuk komunitas. Melalui persamaan visi, misi, needs, karakter dan sense of belonging, orang bisa ngumpul ke dalam sebuah komunitas yang sama. Tidak masalah apabila arisan yang diikuti lebih dari 30 karena sudah hakikatnya manusia ingin menjadi bagian dari banyak komunitas.

Yang terpenting adalah bagaimana arisan menjadi wadah yang bermanfaat bagi diri sendiri dan tidak merugikan orang-orang sekitar. Jangan sampai gegara ingin tampil total di arisan, imej personal yang berkedudukan di korbankan. Tidak lucu jika imej jatuh gara-gara diperkosa barang branded. 

Advertisements

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s