Seharian tanpa Air Bersih

20140222_154740.resizedSaya duduk termagu di dekat jendela memandang ke arah luar di mana langit dengan leluasa memuntahkan airnya ke bumi. Sambil melamun, saya bingung antara menyesap the tubruk yang baru saja saya buat ataukah mengunyah beberapa permen mint terlebih dulu.

Beberapa menit yang lalu saya memanasi air dari galon untuk membuat the. Hujan yang turun sejak pagi tadi membuat saya menggigil kedinginan, membuat saya ingin sesuatu yang hangat untuk memanaskan badan. Permen mint dari Yura sebenarnya tak ingin saya makan, karena bila dimakan saya tambah kedinginan. Tetapi mulut yang tidak tersentuh pasta dan sikat gigi selama seharian ini benar-benar sudah tidak nyaman lagi. Pahit dan yuck… bau. Tapi kemudian saya lebih memilih menyesap the terlebih dulu. Sepertinya kali ini saya tidak peduli dengan bau-bau yang keluar dari badan saya. Badan lengket, ketiak asam, dan celana dalam yang sejak kemarin belum saya ganti pun sebenarnya sudah sangat tidak nyaman. Namun apa mau di kata, sejak subuh tadi air di asrama mahasiswa tidak menyala juga. Mandi dengan air hujan? Agaknya itu bukan pilihan yang tepat. Saya memutuskan untuk kembali menekuni buku, the, dan tetap berada di dalam kamar saja. Lagipula ini weekend, dan diluar hujan turun dengan derasnya.

Saya sudah tidak kaget lagi bila 1-5 jam air di asrama tidak menyala. Pengalaman tahun lalu, mahasiswa di satu gedung, di gedung E, harus ikut mengantre mandi di gedung sebelah. Namun kejadian ini berlangsung lebih dari waktu yang biasanya. Seharain, bayangkan! Dan tidak hanya dialami oleh satu gedung, tetapi terjadi di semua gedung asrama baik pria maupun wanita.

Saya tidak tau secara pasti. Namun nampaknya UI tidak menggunakan jasa PAM untuk mencukupi kebutuhan air bersih di asrama. Di beberapa titik di asrama terdapat semacam kilang-kilang air yang berada di dalam tanah yang setiap periode waktu tertentu dibuka untuk diperiksa. Tahun lalu di gedung E, kilang tersebut dibuka untuk dibersihkan karena saluran airnya mampat, terhambat pasir yang saya perkirakan bisa digunakan untuk membangun satu sisi tembok berukuran 3x2m. Apakah peristiwa air mati ini hanya terjadi sesekali? Bisa dibilang sesekali, sih. Tetapi cukup sering juga dan dampaknya wah.. bayangkan saja jika aktivitas yang membutuhkan air seperti masak, minum, mandi, shalat tidak didukung oleh ketersediaan air bersih! Terutama karena mahasiswa kan mau berangkat ke kampus…

Untuk peristiwa kali ini, nampaknya bukan disebabkan oleh mampatnya selang-selang dan pipa air. Menurut keterangan anak-anak yang bertanya ke petugas asrama, ada sambungan kabel yang putus yang karena kondisi hujan belum bisa diperbaiki hingga saat ini. Tetapi kabel di mana-nya pun saya tidak tau menahu. Tidak ada pemberitahuan resmi dari pihak asrama. Padahal mengkonfirmasi setiap permasalahan seperti matinya air di asrama,peringatan keamanan, atau listrik padam dengan cara mengumumkan melalui pengeras suara kan tidak ada salahnya. Semua akan tau dan tidak ada yang kebingungan. Kami semua pasti juga maklum.

Sementara menunggu air menyala, saya membaca-baca berita di Twitter. BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait adanya kemungkinan hujan lebat yang akan terjadi di wilayah Jabodetabek. Hujan inilah yang ia maksud. Memang sangat lebat dan lama turunnya. Namun saya bersyukur, air yang Tuhan turunkan ini adalah berkah buat kami yang kebingungan tidak ada air. Beramai-ramai kami mengumpulkan ember, menadahkannya di air hujan seember demi seember demi memenuhi kebutuhan air bersih. Meskipun tidak menggunakannya untuk mandi, tetapi aktivitas bab, bak, dan khususnya ibadah sangat tertolong dengan air hujan ini.

Semoga tak lama kemudian air segera menyala..

Advertisements

3 thoughts on “Seharian tanpa Air Bersih

  1. Ujang Sundana

    Ah, repot kalau gak ada air bersih mah, mbak…
    Saya pernah mengalami di kontrakan saya ini. Listrik mati lama banget, Dari jam 2-an dini hari. Pagi masih ada air, jadi masih bisa mandi. Pulang kerja jam 5-an sore ternyata listrik masih mati juga. Mulai deh gak bisa mandi. Air cuma cukup untuk wudhu saja. Betapa gak enak malam gak mandi. Entah listrik nyala lagi jam berapa, tapi bangun subuh listrik sudah nyala dan airpun kembali mengalir.

    Ngomong-ngomong tentang air, jadi kangen mandi dan berendam di kali seperti masa kecil saya waktu di kampung. Sekarang air sungainya sudah mengering…

    Salam kenal, mbak…

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s