Drama yang Tak Sempat Dituliskan di Dalam Buku Sejarah Masa Sekolah

Saat ini saya sedang membaca buku Selo Soemardjan, Perubahan Sosial di Yogyakarta. Saya berniat menuliskan reviewnya setelah selesai membaca, namun sebelum selesai, saya telah lebih dulu tertarik pada bagian yang akan saya ceritakan berikut.

Di buku tersebut, ada sebuah drama yang tidak sempat disebut-sebut atau dituliskan di buku-buku pelajaran sejarah semasa sekolah. Drama itu mengisahkan tingkah laku seorang inspektur pamong praja Belanda di Gunung Kidul, yang salah membuat kutipan saat mengumumkan penyerangan Jerman ke Belanda di konferensi Belanda dengan pejabat Jawa.

Dari buku Selo kutipan tersebut saya tulis kembali:
“Jerman telah menyerbu negeri Belanda. Perang telah pecah antara kita dan Jerman. Orang Belanda dan orang Jawa harus bersatu, karena seperti diucapkan oleh Sultan Agung, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.

Mengapa salah? Karena sang inspektur mengatakan sesuatu yang tidak ada buktinya. Tidak ada sumber atau buku tentang Sultan Agung yang mengucapkan seperti itu. Dan lagi, Sultan Agung dari Mataram adalah musuh Belanda terbesar dan terkuat pada pertengahan abad 17. Merupakan satu-satunya sultan Jawa Tengah yang mempu melancarkan serangan berat ke Batavia. Lantas mengapa ia mengatakan bahwa orang Jawa harus membantu Belanda?

Kesalahannya yang dilakukan inspektur tersebut menyebabkan yang hadir di dalam konferensi, pamong praja Jawa, mengetahui kedudukan Belanda yang saat itu tidak stabil. Kejadian itu menjadi pertanda akan berakhirnya kekuasaan Belanda di Indonesia. Selebihnya, peristiwa itu kemudian meruntuhkan mitos supremasi orang Belanda atas orang Jawa. (Dituliskan kembali dari buku Selo Soemardjan, Perubahan Sosial in Yogyakarta)

Cerita konyol ini tidak pernah saya dengar dari buku-buku sejarah semasa sekolah. Padahal peristiwa yang memang konyol ini turut berperan dalam mengukuhkan kembali kekuatan orang Jawa untuk berjuang merebut kemerdekaan. Seharusnya cerita ini turut diceritakan di buku-buku sejarah.

Karena cerita ini, yang mana bagian dari kisahnya adalah penting dan tidak dapat dipisahkan dari sejarah Indonesia. Dan lagi cerita ini sangat membuka wawasan kita pada pentingnya berkata sesuatu yang benar, pasti dan terbukti. Sebagai seorang akademisi, cerita inipun menjadi petuah tersendiri bagi saya. Karena bagi akademisi, haram hukumnya melakukan kesalahan serupa, salah dalam melakukan pengutipan, memberikan data yang salah, dan tidak ada bukti. Maka adalah sesuatu yang harus diingat betul bahwa membuat kutipan tidak bisa sembarangan. Jika diabaikan, akibatnya bisa sangat fatal.

Cerita konyol nan penting ini seharusnya dibaca, diinformasikan dan diinternalisasikan. SUpaya tidak ada yang melakukan kesalahan serupa..

Advertisements

3 thoughts on “Drama yang Tak Sempat Dituliskan di Dalam Buku Sejarah Masa Sekolah

  1. Pingback: Menapak Tilas Pemikiran Durkheim dalam “Perubahan Sosial di Yogyakarta” | Latief Hendraningrat

  2. Pingback: Menapak Tilas Pemikiran Durkheim dalam “Perubahan Sosial di Yogyakarta” | Wind, Grass & The Dancing Tree

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s