Membangun Minat Baca Pada Anak, Project Pertama di SDN Srengseng Sawah 14 Pagi

IMG_20140427_084227

MENJALANKAN project kemasyarakatan, seperti halnya pengabdian kepada masyarakat bukanlah pertama kalinya bagi saya. Terhitung sejak tahun 2004, saya telah mulai belajar bekerja di masyarakat bersama organisasi-organisasi sekolah dan organisasi kemasyarakatan setempat. Bahkan, saya mulai berani berinisiatif merintis kegiatan pengmas secara mandiri di Yogyakarta yang tahun ini akan memasuki tahun kedua dari 6 tahun yang direncanakan. Ditambah dengan project yang baru-baru ini kami garap bersama teman-teman TF dan TSA, maka sudah cukup lama saya menekuni bidang kegiatan sebagai pekerja masyarakat.

Keberuntungan menjadi salah satu penerima beasiswa Tanoto adalah berkesempatan mengikuti kegiatan-kegiatan berbasis kemasyarakatan yang diselenggarakan oleh Tanoto Foundation (TF) dan Tanoto Scholar Asosiation Universitas Indonesia (TSA UI). Seperti tumbu memperoleh tutup, Tanoto menjawab kebutuhan saya dalam rangka mematangkan kemampuan bekerja di masyarakat. Terutama karena project yang dijalankan TSA mengenalkan banyak hal- hal baru. Bagi saya sendiri, kegiatan bertajuk “Menumbuhkan minat baca pada anak” yang telah diawali pada minggu lalu, selain merupakan project yang baru dari segi esensi kegiatan, juga baru dari segi sasaran.

Meskipun bekerja bersama anak-anak bukan yang pertama, kegiatan yang berlangsung Selasa Siang di Sekolah Dasar Negeri Srengseng Sawah 14 Pagi, merupakan pengalaman pertama sebagai pelaksana kegiatan dengan sasaran yang berada pada cakupan institusi pendidikan formal. Tentu berbeda antara bekerja dengan lingkungan masyarakat lepas dengan sasaran yang berada di bawah institusi formal. Pengalaman saya bekerja di masyarakat lepas—seperti di desa-desa di mana saya telah menjalankan pengmas sebelumnya misalnya— tantangannya terletak dalam bagaimana menerjemahkan kebutuhan masyarakat sekaligus mengkomunikasikan pendekatan kita agar tidak bertentangan dengan nilai dan norma masyarakat setempat. Sementara, menjalankan kegiatan di dalam institusi formal — terlebih dengan sasaran anak-anak usia sekolah dasar— yang terbesit di benak saya saat itu lebih kepada bagaimana mengkomunikasikan esensi kegiatan tersebut dengan anak-anak.

Menghadapi beberapa anak-anak toddler dalam pengalaman saya mengajar di sebuah sekolah, mungkin masih relatif mudah karena secara biologis mereka masih muda. Namun, dihadapkan pada sekitar 30an anak usia kelas 3 sekolah dasar sekaligus bukanlah perkara mudah. Karena meskipun saya tidak sendiri, ada 9 TSA dan 2 TF yang mendampingi, masalah yang kami hadapi tidak berbeda, yakni bagaimana menumbuhkan minat baca pada anak-anak tersebut. Masalah renovasi ruang baca/perpustakaan mungkin tergolong masalah teknis yang dengan sekejap dapat diselesaikan dengan tangan-tangan andal. Nah, masalahnya bagaimana merespon kebiasaan anak yang tidak memiliki budaya membaca?

Masalah inilah yang berusaha kami pecahkan melalui kegiatan di SDN Srengseng Sawah 14 Pagi kemarin. Bayangkan saja, dari dialog kami dengan anak-anak di kelas, tidak ada separuh yang memiliki hobi membaca. Hampir semua anak, terkhususnya laki-laki, lebih menggemari bermain daripada membaca. Untuk itu, tahapan pertama yang saya dan teman-teman lakukan adalah menarik minat anak pada buku cerita dengan cara bercerita kepada mereka. Berbekal buku-buku cerita yang telah kami kumpulkan sebelumnya, saya dan teman-teman mulai membentuk kelompok-kelompok kecil untuk memandu anak-anak ke dalam kelompok cerita.

Tak berhenti pada sesi bercerita saja, anak-anakpun diminta recalling melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pencerita. Mereka juga diminta menggambar tokoh-tokoh favorit mereka di dalam cerita. Hasilnya menarik. Anak-anak begitu antusias mendengarkan, menceritakan, dan menggambarkan kembali isi cerita. Mereka juga nampak senang saat hasil karya mereka dipajang. Bagi saya, pendekatan ini efektif dilakukan untuk menarik minat baca anak-anak. Terutama cerita-cerita yang disampaikan dengan mimik muka lucu membuat mereka terhibur. Saya jadi terpikir, mungkinkah anak-anak ini terlalu jenuh dengan materi pelajaran yang dibebankan kepada mereka setiap hari?

Pertemuan dengan anak-anak masih akan berlanjut hingga beberapa waktu kemudian. Ada beberapa tahapan lagi yang perlu dilalui dalam rangka menumbuhkan minat baca. Memang kelihatannya tidak mudah, menumbuhkan kebiasaan baru bagi anak siapa bilang perkara mudah. Meskipun demikian, saya ingin terus mencoba. Di sela-sela kesibukan kuliah saya ingin meluangkan waktu untuk mereka. Menekan ego dan kemalasan juga bukanlah hal yang mudah bagi saya. Tetapi, kalau bukan sekarang kapan lagi saya bisa turut berkontribusi?

Advertisements

2 thoughts on “Membangun Minat Baca Pada Anak, Project Pertama di SDN Srengseng Sawah 14 Pagi

  1. Justin Edgar

    Slamat malam kak, kenalkan nama saya edgar, TSA UI 2016 FTUI 2014 diamanahkan thn ini sebagai PO Rumah Baca di SDN 14 Pagi Srengseng Sawah. Apa sy bisa kontak kakak? Terima kasih

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Halo Edgar. Wah kamu jadi penerus program TSA 13 ya. Bisa, bisa banget 🙂 kamu ke page CONTACT di atas ya. Ada email dan semua sosmedku. Nanti aku kasih kamu nomor yang bisa dihubungi

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s