Mendaki Gunung, Lewati Lembah

Hari kedua, Rabu, 18 Juni 2014

Pasir Buncir, Caringin

Makanan dan perut kembung yang sesuatu itu…

Seberkas cahaya jingga keemasan dari ufuk Timur memberikan sambutan hangat pagi hari ini. Sekelompok burung layang-layang saling berputar di atas hamparan jingga langit itu. Sepersekian detik kemudian warna jingga itu berubah menjadi cahaya-cahaya lembut yang berusaha menerobos gugusan awan yang melintas di sekelilingnya. Di sinilah saya melihat detik-detik pergantian antara batara surya yang baru saja terbit, pagi, dan menjelang siang hari… 20140618_055100

20140618_062525

Burung-burung yang tidur di balik pepohonan mulai menampakkan batang hidungnya. Kicauannya riuh seiring dengan kepakan-kepakan sayapnya. Tak lama, wajah-wajah kuyu, kusut, yang semula terbaring kaku di atas 3 lembar kasur tua pun mulai mengikuti jejak sang burung, mengeliat, bergerak. Beberapa turun untuk bergegas mandi, semetara sisanya tidur-tidur ayam sembari menanti giliran. Hari kedua di Pasir Buncir tidaklah buruk setelah semuanya dapat beristirahat. Dengan wajah yang lebih segar dan bersemangat, pagi ini kami ber-18 menyebar ke seluruh penjuru desa dalam rangka mengkonfirmasi  data responden yang telah kami olah pada malam sebelumnya…20140618_085801

Seakan sambutan hangat pagi itu hanyalah halusinasi belaka setelah apa yang terjadi kemudian di lapangan. Saya mulai merasakan kelelahan yang sangat pasca menaiki dan menuruni kontur tanah yang sangat tidak merata di sana. Pencarian rumah RT dan RW 02 (bagian tugas listing populasi kami) ternyata memang tidak semudah yang kami bayangnya. Bak orang buta yang meraba-raba, saya dan salah seorang teman lainnya memang hanya bisa meraba dan menerka bagian-bagian dari desa yang terpisah menyebar tak tentu arah itu.

20140618_125525

Tebak! harga makanan ini berapa? 😥

Kesalahan saya selama di lapangan adalah tidak menanyakan ukuran jarak tempuh kepada warga dengan ukuran baku yang biasa digunakan untuk mengukur jarak. Ketotolan saya, di sini saya justru sering berpatokan pada pendapat orang tentang jauh-dekatnya sebuah jarak wilayah bukanya pada ukuran baku yang semestinya. Tidak terlintas pula di pikiran saya bahwa jarak relatif yang dipatok di sini berbeda dengan yang dipatok di tempat saya berasal. Di sini, di daerah yang terbagi atas beberapa wilayah yang tersebar diantara pegunungan ini, wajar jika masyarakatn menganggapnya sebagai sebuah jangkauan yang cukup dekat. Sayangnya, saya terlambat menyadarinya. Sehingga seringnya saya merasa tertipu ketika mendapati jarak yang sesungguhnya berbeda dengan yang dikatakan orang-orang. “Deket kok, mba. Ngga jauh kok mba”. Padahal jaraknya bisa  berkilometer. Grrrrr…

Lelah mendaki dan mencari ataupun dijuteki oleh salah seorang warga mungkin bukanlah hal yang begitu urgent untuk diberi perhatian saat ini. Disamping menjaga kesehatan pencernaan, perut kembung yang sudah terjadi selama dua hari inilah yang betul-betul perlu diwaspadai. Udara dan air di sini memang sangat dingin, tidak ada pilihan lain selain mandi pagi karena kegiatan berlangsung mulai pagi hingga malam hari. Ditambah dengan tidak adanya keramahan warga dalam menyediakan makanan dengan anggaran yang menurut kami sudah masuk akal (terlalu mencari keuntungan), maka sesungguhnya kesehatan berada di dalam kewaspadaan.

Inilah yang terpenting karena 6 hari lagi kami berada di sini…tinaa

Advertisements

2 thoughts on “Mendaki Gunung, Lewati Lembah

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s