Lelah…

20140619_082539

Hari ketiga, Kamis, 19 Juni 2014

Pasir Buncir, Caringin

Drama antara Sulaeman dan Eman….
 

Balada si perut kembung belum usai hingga pagi tadi pukul 5.30. Di saat diluar masih gelap gulita, tergopoh-gopoh saya menuruni tangga menuju kamar mandi di seberang camp. Beruntunglah gejolak di dalam perut ini terasa di saat orang-orang masih tenggelam bersama mimpi. Bayangkan jika gejolak itu muncul di saat padatnya antrean mandi di kamar mandi yang cuma satu itu. Oh no… saya tidak ingin melakukan hal paling gila di saat seperti ini..

Saya tidak banyak mengambil foto-foto pemandangan pagi ini. Pasca hujan semalam, kabut tebal membutakan keindahan pemandangan bukit dan pegunungan di sekitar sini. Maka sayapun hanya mengambil foto makanan yang baru saja diantar pagi ini. Nasi kuning ala Pasir Buncir ditambah segelas teh manis hangat, penyemangat pagi sebelum perjalanan panjang hari ini

Agenda saya dan tim seharian tadi adalah mencari responden. Berdasarkan teknik penarikan sampel, RT1/RW3 dan 4 menjadi tempat yang akan saya kunjungi pertama kali. Bersama salah seorang teman seperjalanan, saya mencari kediaman responden kami. Dan di sinilah drama pencarian responden dimulai. Akibat kesalahan data dari kelurahan dan mungkin listing yang dilakukan salah seorang teman kami, responden yang telah ditentukan tak kunjung saya temui. Jadi, waktu sesiangan tadi hanya saya habiskan untuk bolak-balik memastikan siapa sebenarnya Sulaeman dan Eman.

Adalah Sulaeman dengan Isnawati, putrinya yang di saat penarikan sampel menjadi responden kami. Dan adalah Eman dengan putri bernama Leni yang menjadi responden Amy, sesama teman pencari responden. Kedua kepala keluarga Sulaeman dan Eman ini berada di dalam satu RT, namun entah angin apa yang mengaburkan kebenaran data ini, di saat ketua RT menyatakan keberadaan responden tersebut, kenyataan di lapangan menyatakan sebaliknya. Parahnya lagi sesungguhnya Pak Eman tidak memiliki putri bernama Isnawati.

Sial, macam mana pula keabsahan data dari kantor kelurahan ini…

Selama setengah hari lebih, saya tak kunjung mendapatkan informasi mengenai kedua responden tersebut. Satu-satunya harapan yang bisa saya gantungkan hari ini adalah datangnya pesan dari salah seorang ibu responden terkait remaja yang menjadi responden saya. Responden pertama telah diganti dengan responden cadangan, sementara responden kedua masih menunggu kepastian. Menjelang matahari terbenam, saya baru menyelesaikan satu responden dan masih menunggu janji responden yang kedua.20140619_084955

Sejuknya air sore mendinginkan gerah yang tertampung selama seharian. Badan kembali segar, bugar, namun kepala agaknya tak kunjung bisa bersantai. Di dalam kepala saya masih berkecamuk segerombolan pekerjaan: field note belum dibuat, catatan perjalanan belum rampung dituliskan, responden. Hhhhh…

Rasa-rasanya saya mulai lelah dalam penelitian ini… tinaa

Advertisements

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s