Tekanan-tekanan Menjelang Final

Hari Keenam, Minggu, 22 Juni 2014

Pasir Buncir, Caringin

Setelah makanan itu membunuh selera makan kami, tekanan-tekanan itu mulai datang dua hari sebelum final…

Hari keenam di Pasir Buncir,artinya tinggal  2 hari lagi saya berada di desa ini. Jadwal pencarian responden telah usai sore tadi, sementara sesi pengolahan data tengah berlangsung hingga malam ini. Sisanya, tinggal dua kegiatan lagi sebelum saya dan teman-teman merampungkan LPMPS kali ini. Masih ada dua hari lagi sebelum saya benar-benar meninggalkan lokasi penelitian ini dan menyongsong libur panjang semester genap. Bayangan liburan, merayakan Ramadhan, bertemu keluarga sudah begitu nyata di depan mata. Keinginan untuk pulang sudah tak terbendung. Sayangnya justru di detik-detik akhir inilah saya harus benar-benar fokus pada penelitian ini.

20140618_231134Hari ini briefing berlangsung lebih berapi-api. Lebih banyak tekanan yang datang seiring dengan padatnya jadwal kegiatan menjelang final. Pengmas dan presentasi menjadi tajuk utama pembicaraan kami. “Semua harus sudah selesai, semua harus dikerjakan dengan baik” begitu paling tidak tekanan yang terekam di kepala saya. Kata selesai itu mungkin terdengar melegakan jika diucapkan di saat terakhir. Sayangnya untuk mencapai selesai itu sendiri tidak mudah. Saya bisa membayangkan seberapa banyak tenaga yang akan dikeluarkan. Mungkin dengan mengorbankan beberapa jam dari waktu tidur kami…

Sejujurnya saya merasa tereksklusi. Bagaimanapun juga saya adalah manusia yang memerlukan aktivitas normal layaknya manusia seutuhnya. Makan makanan yang sehat, tidur cukup, makan tepat waktu, kesempatan mengakses informasi, dan melaksanakan ibadah adalah hak saya sebagai manusia. Tak peduli di mana saya.

Termasuk di dalam penelitian ini tentunya. Bukan berarti penelitian ini menjadi hambatan bagi saya untuk menjadi manusia seutuhnya yang bisa melakukan kegiatan normal manusia. Di dalam penelitian ini saya tidak kerja rodi atau romusha, apalagi prodi menjamin keselamatan kami. Penelitian bukan berarti kami harus mengalami masa-masa sulit akibat kurang makanan sehat ataupun mengalami berbagai macam tekanan lainnya. Sungguh saya tidak ingin pulang dengan badan kurus kering…

Pukul setengah sebelas malam, listrik di Pasir Buncir padam. Kegelapan total melanda seluruh wilayah desa. Untuk kesekian kalinya desa ini merenggut hak-hak saya sebagai manusia. Sudah ketinggalan nonton debat capres (satu-satunya tayangan menghibur malam ini), sekarang direnggut pula hak kami untuk mengerjakan tugas-tugas dengan lebih baik. Grrrrrr…20140618_231107

Di dalam kekesalan malam, saya mberbaring di kasur tua keras sambil melamun. Di dalam lamunan itu saya jadi curiga. Sepersekian menit yang lalu sebelum listrik padam, saya sempat bersorak-sorai menyemangati kandidat capres pilihan saya. Kemudian pasca sorak sorai itu, listrik padam. Saya jadi berpikir, jangan-jangan ada pendukung atau simpatisan capres lain yang ngambek gara-gara mendengar saya berteriak-teriak mendukung capres pilihan saya. Mengingat poster dan baliho kandidat dengan nomor ganjil ini begitu mendominasi Pasri Buncir, agaknya saya memang benar. Ada tangan-tangan jahil yang sengaja mengerjai saya.

Duh, saya jadi ke mana-mana…

 tinaa

Advertisements

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s