Tentang Seorang Nenek

“Aku hanya ingin tahu bahwa tidak semua nenek baik. Nenek juga manusia dan ada yang jahat. Mungkin bukan jahat dalam arti suka memukul atau mencaci maki, melainkan tidak menyayangi cucunya dan egois setengah mati….” (Lie Charlie, 2012:115)

an old woman i met on the bus

an old woman i met on the bus

Saya sedang membaca buku kumpulan cerpen Dari Salawat Dedaunan Sampai Kunang-Kunang di Langit Jakarta saat menemukan cerita-cerita tentang seorang nenek.

Di dalam cerpen karya Lie Charlie yang berjudul “Nenek” dikisahkan seorang nenek yang begitu dibenci oleh keluarganya akibat perilakunya yang tidak bersahabat. Diceritakan di sanana nenek yang selalu marah-marah, suka membeda-bedakan anak, nenek yang begitu jahat di mata anak dan cucunya.

Di dalam cerpen “Ibu Pulang” oleh Dewi Ria Utari juga dituliskan gambaran seorang nenek yang begitu digdaya dibandingkan anggota keluarga lainnya. Nenek yang begitu berpengaruh terhadap keluarganya. Nenek yang setiap permintaannya harus dituruti oleh siapapun yang ia minta.

Dari kedua cerita diatas, agaknya menyiratkan sebuah pesan bahwa sosok nenek erat kaitannya dengan karakter-karakter jahat. Bahkan tidak jarang kita jumpai sosok nenek digambarkan ke dalam sosok nenek sihir yang seram. 

Memang tidak hanya terjadi di dunia khayalan (cerita), melainkan ada di dunia nyata. Nenek yang pemarah, kasar, dan suka memaksakan kehendak, sayapun kerap menjumpainya.

Tidak perlu jauh-jauh. Belum lama ini saya dimarahi nenek. Saya diomeli dan begitu disalahkan olehnya. Perkaranya sederhana. Nenek marah gara-gara saya mendadak pulang ke Jogja. Padahal sebenarnya dia lupa kalau sebelumnya saya telah berpamitan. Ketika saya mencoba menjelaskan duduk perkaranya, dia tetap menyangkal kalau kepulangan saya ke Jogja bukan sebuah kesengajaan untuk pergi tanpa berpamitan.

Cerita lainnya terjadi saat saya menginap di rumah teman. Waktu akan pulang, saya lupa mematikan lampu kamar. Alhasil, nenek teman saya tersebut marah-marah dan mencaci luar biasa. Bahkan nenek itu juga sempat menceramahi saya tentang besaran biaya listrik yang dibayarkan oleh keluarganya.

Memiliki seorang nenek yang pemarah, terkadang membuat saya berpikir mengapa nenek tidak seperti nenek yang ada di dalam imajinasi saya. Karena sebagai sebagai sosok yang dituakan di dalam keluarga, seorang nenek seharusnya membawa karakter lembut dan penyayang, begitu dielu-elukan oleh anak maupun cucunya.

Sayapun kerap membayangkan nenek adalah sosok yang setiap sore duduk-duduk di beranda rumah sambil dikelilingi oleh cucu-cucunya. Menceritakan setiap pengalaman hidupnya, berbagi nilai-nilai luhur atas apa yang telah dipelajarinya sepanjang hidupnya.

Namun belakangan ini saya mulai menyadari, setiap nenek pastilah berbeda dan membawa karakternya masing-masing. Bagaimana nenek sekarang adalah nenek yang dididik oleh orang tua dan lingkungannya semasa muda. Jika mungkin nenek bukanlah nenek yang penyabar, suka marah-marah, maka sayalah yang harus memahami nenek dan mengambil pelajaran dari apa yang terjadi dalam hidupnya. Kelak saat tua nanti, saya bisa menjadi nenek yang lebih baik, jauh lebih baik daripada nenek yang sekarang.tinaa

Advertisements

One thought on “Tentang Seorang Nenek

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s