“The Impossible Dream”, Can We Make It Possible?

Baru-baru ini saya tertarik dengan isu-isu tentang gender. Saya bertambah aware ketika dikemudian hari mendapati ada banyak teman sepermainan yang kini telah menikah.

Perhatian saya terfokus pada isu wanita di dalam rumah tangga. Wanita, seperti yang kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari, begitu terdiskriminasi dengan perannya yang melulu di rumah tangga.

Entah sadar entah tidak, perempuan tidak hanya terdiskriminasi namun juga tereksklusi. Sehingga dalam kaca mata pembangunan dan pemerintahan, posisi perempuan dipertanyakan. Di manakah posisinya berada?

Menonton film animasi The Impossible Dream membuat saya tercengang. Dalam sekejab, bayangan saya akan indahnya kehidupan di dalam rumah tangga musnah ketika film tersebut mengungkapkan realitas yang sesungguhnya. Saya jadi tersenyum kecut, jadi seperti inilah akhir masa depan perempuan? Agaknya sangat tidak salah jika suatu ketika saya pernah berkeinginan untuk tidak menikah.

Film animasi produksi Dagmar Doubkova dari Kratky Film, Cekoslowakia, mencoba mengangkat masalah yang dihadapi oleh perempuan di berbagai belahan dunia: beban kerja ganda, bekerja penuh, dan menjadi ibu rumah tangga. Film ini menunjukkan bagaimana beban seorang perempuan yang mengurus seorang bayi dan dua anak usia sekolah, masih ditambah pula dengan tuntutan kerja atas perekonomian yang kurang baik. Sementara itu, ia masih harus mengurus suaminya juga. Dengan kata lain, perempuan bertanggungjawab penuh atas semua tugas rumah tangga.

Dewasa ini, posisi perempuan mulai dipertanyakan di dalam pembangunan. Terutama dalam konteks pembangunan berkelanjutan yang pelaksanaannya harus memperhatikan pemerataan, orang miskin, lingkungan dan wanita.

Karena faktanya baik itu akses, pastisipasi, dan kontrol perempuan dalam pembangunan masih sangat terbatas. Pembangunan, terutama di sektor perekonomian, selalu mengesampingkan perempuan dengan menempatkannya dalam posisi antara ada dan tiada.

Perempuan selalu ditempatkan pada posisi pinggiran, seolah-olah invisible di dalam pembangunan. Akibat relasi gender yang timpang, peran perempuan menjadi tidak dipertimbangkan.

a woman and her childDi film, jelas terlihat bagaimana sebenarnya tenaga perempuan lebih banyak terforsir dalam sumbangsihnya terhadap pembangunan. Namun nyatanya, peran perempuan tidak pernah diperhitungkan sehingga ia hanya dianggap sebagai penyumbang kemiskinan.

Negara mungkin telah berupaya mengentaskan perempuan dari kemiskinan. Tapi sayangnya pengentasan kemiskinan oleh negara selalu saja tidak pernah mengurai langsung ke akar permasalahannya. Perempuan terlilit masalah masalah struktural, seperti faktor budaya, sosial dan politik. Akibatnya tidak hanya mengalami kemiskinan saja, perempuan juga sangat tereksploitasi dan teropresi.

The Impossible Dream membuat saya kembali berpikir, mungkinkah mewujudkan mimpi ini?

Jika melihat perkembangan isu perempuan di tataran dunia, saya optimis bahwa pada akhirnya perempuan akan terlepas dari belitan kemiskinan, memiliki hak kemerdekaan dalam berekspresi serta mampu  mengakses pilihan-pilihan hidup yang ingin dicapainya.

Lantas bagaimana caranya?

Bagi saya, yang terpenting adalah kebijakan negara harus konsisten sehingga masyarakat dunia mampu secara serentak mengangkat permasalahan dan isu-isu perempuan. Upaya ini tidak hanya penting bagi penyadaran masyarakat mengenai peran perempuan sebagai agen ekonomi dan pemberdayaan masyarakat, tetapi juga sebagai upaya mensejajarkan posisi perempuan di masyarakat sebagai individu yang memiliki posisi yang setara dan dengan laki-laki.

Advertisements

18 thoughts on ““The Impossible Dream”, Can We Make It Possible?

      1. dizaz

        Hamil itu porsinya perempuan, nangis2 laki2 pengen hamil, tetap ga bisa. Membesarkan anak, kerjasama.
        Laki-laki pemimpin, perempuan jg bisa memimpin, tp satu kapal 2 pimpinan yg sama kuat, haluannya dua arah dong. Harus tau kapan mau take over. Lihat waktu dan tempat untuk menjalankan porsi masing2.
        Perempuan itu istimewa dan jauh lebih tangguh dari laki-lakikan.

        Like

  1. Ferdy Lpu

    Bener kAta mas dizaz perempuan itu istimewa, dan memang sudah dikodratkan seperti itu..
    Lagipula, sekarang kan sudah jamannya emansipasi wanita, jadi perempuan bebas berekspresi.

    Kunjungan perdana, salam kenal mbak 🙂

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Salam kenal juga mas…

      memang benar kodrat perempuan itu melahirkan, tetapi bukan kodratnya menerima perlakuan yang semena-mena dalam arti menyebabkan perempuan terdeskriminasi. Benar, sudah ada gerakan emansipasi wanita. Tetapi sejauh mana emansipasi wanita itu memberikan ruang terbuka dan kesempatan seluas-luasnya masih dipertanyakan..

      Terimakasih atas kunjungannya mas..

      Like

      Reply
  2. Triyanto Banyumasan

    “Perempuan selalu ditempatkan pada posisi
    pinggiran, seolah-olah invisible di dalam
    pembangunan.”

    Kalimat di atas mungkin persepsi dari ketidakfahaman atau karena sebenarnya belum mengalami.

    saya laki-laki, kepala rumah tangga. saya bekerja mencari nafkah, kerap memandikan anak ke-3 yg baru 1 tahun. Nyapu ngepel, njemur pakaian adalah hal biasa. Sesekali nyuci sendiri. karena kami tidak punya pembantu.

    Pernyataan pada kutipan kalimat di atas jelas tidak relevan dengan keluarga kami.

    Perempuan baik bagi laki-laki yang baik. pernyataan yang juga perlu sudut pandang tepat. Demikian juga film yang Mbak Tina tonton. Kalo film tersebut menampilkan dari satu sudut pandang, ya pandangan penontin akan seperti Mbak Tina.

    coba sesekali tonton sinetron Taiwan di Daai TV, cukup inspiratif dan tidak picisan macam sinetron lokal lho.

    Semoga Mbak Tina Latief mendapat jodoh yang tepat. Amin

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Tulisan yang saya buat ini berdasarkan kajian yang kami lakukan di kelas terkait tulisan Vivienne dan Noeleen tentang Gender, Poverty, and Sustainable Development. Jadi perlu saya luruskan bahwa pernyataan tersebut bukan lagi persepsi melainkan pernyataan yang sudah ada datanya. Data realnya bisa dibaca di jurnal perempuan.

      Kemudian, ketika mas mengutip kalimat saya dan memberikan contoh tentang kehidupan rumah tangga mas, sepertinya juga kurang relevan karena berbeda konteks.

      Tentang sudut pandang, bukankah sudah jelas bagaimana penulis memandang fenomena ini memakai sudut pandang apa? Jika mas melihatnya dari sudut pandang lain tentu saja bisa berbeda.

      Uhmm DAI TV, memangnya ada apa ya dengan DAI tv?

      Like

      Reply
      1. Triyanto Banyumasan

        Ga pa pa, cuma yg saya tangkap, seolah ada kesan takut menjadi seorang isteri.
        Maaf kalo malah agak OOT. Mungkin saya salah tangkap dengan pesan yg ingin disampaikan. Maklum tiap pembaca memiliki persepsi yg berbeda. Piss

        Like

      2. Tina Latief Post author

        ngga apa-apa mas, saya malah seneng ada yang komen panjang seperti ini. Saya juga masih belajar kok, pasti juga ngga luput dari salah..

        Terimakasih 🙂

        Like

  3. isnuansa

    Manggut-manggut lihat videonya. Meskipun mau bilang ‘kenyataannya tidak seperti itu’, tapi tak mampu. 😆

    Yang makin miris lagi, sejak masih anak-anakpun, sepertinya laki-laki sudah dididik ‘mengikuti’ gaya ayahnya ya. 😀

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      aku kemarin kaget mba sama pernyataan keponakanku yang usianya belum ada 5 tahun. Dalam percakapannya dg budhenya, ia berkata “kalau cewek ngga kerja kaya gitu, itu kan kerjaan cowok”. Pada saat itu budhenya ingin bantu suaminya mengangkat karung berisi pasir yang sedang membetulkan corblok di depan rumahnya.

      Aku jadi geleng-geleng, anak sekecil ini sudah bisa bilang seperti itu hehe…

      Like

      Reply
  4. Beby

    Kalok menurut ku sih wanita itu bisa setara dengan laki-laki dalam hal pekerjaan, kecuali yang menyangkut fisik. Karena biar gimana pun tenaga dan kekuatan fisik antara wanita dan pria itu berbeda. Mau ngga mau emang mesti diakui. 😀

    Tapi kalok untuk urusan yang ngandelin otak, harus setara doooongs.. 😀

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      kesetaraan gender itu untuk semua aspek Beb..
      kan ada juga perempuan yang kekuatannya bisa melebihi laki-laki. Misalnya para petinju-petinju perempuan itu atau sederhananya Agent Romenoff di film Iron Man 2.

      Ngga cuma otak aja, tapi semua. Kalau masih dibeda2in namanya belum kesetaraan gender hehe

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s