Dari Senen, Baturraden, Hingga Pulau Nusa Kambangan Bagian 2

IMG_20160712_140435

SEBELUM melanjutkan perjalanan ke Pulau Nusa Kambangan, bus rombongan terlebih dulu membawa kami ke penginapan, di perumahan Holcim, Cilacap. Di sana saya dan ke-43 mahasiswa lainnya menginap semalam sebelum esoknya melakukan perjalanan ke lapas.

Malam itu saya sulit terpejam, membayangkan bagaimana nanti saat saya menyeberang ke Nusa Kambangan. Hati saya sudah membuncah, tak karuan. Segera ingin menjelajah misteri Nusa Kambangan yang menurut kabar menyimpan sejuta kisah terpendam di tengah stereotipe masyarakat yang kental akan bau kriminalitas.

IMG_20160712_135826

IMG_20160712_140947

Kapal yang membawa kami serombongan segera merapat di dermaga. Segera saya turun dari kapal, menjejakkan kaki di tanah Nusa Kambangan. Suasana di sana begitu tenang, bahkan permukaan air di sekitaran sana nampak begitu datar, tak beriak. Tiada angin yang berhembus, menerpa wajah-wajah kami yang mulai kepanasan. Nusa Kambangan, nampak begitu anggun dalam kediamannya tatkala kami berkunjung di sana.

Nusa Kambangan

Seperti yang saya duga, ada banyak petugas dan satuan pengaman di sana. Semua khas dengan kesiap-siagaannya, namun tetap berusaha nampak ramah kepada para pendatang. Hamparan hijau belantara membentang sejauh mata memandang. Jika melihat sekeliling hampir tidak akan kita jumpai sebuah bangunan. Hanya ada sedikit aktivitas warga di sana. Beberapa nampak seperti kediaman biasa namun  difungsikan pula sebagai warung-warung/kedai kecil. Selebihnya Nusa Kambangan adalah sedikit tanah pertanian dan sebagian besar adalah tempat di mana para narapidana direhabilitasi.

Tentu saja para napi tidak ditempatkan di dekat dermaga. Untuk bisa melihat di mana para napi ditempatkan, kami masih harus menumpang bus dan berjalan sejauh puluhan kilometer. Namun sebelum sampai di sana, rupanya kami sudah disediakan serangkaian acara. Seperti misalnya acara menanam pohon jati yang diiukuti oleh sejumlah pejabat lapas dan tentu saja kami para mahasiswa.

20141115_091228Setelah mengikuti tanam pohon, perjalanan kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi kebun buah naga. Kebun buah naga ini merupakan bentuk perubahan pertama yang saya saksikan di Nusa Kambangan. Nusa Kambangan merupakan tanah negara yang kaya namun terabaikan karena kurangnya sumber daya manusia. Sementara stereotype di luar terus memperburuk keadaan, ada banyak inovasi yang sebetulnya dapat diupayakan untuk membantu keberlangsungan Nusa Kambangan sebagai lembaga permasyarakatan.

20141115_094718Kebun buah naga ini adalah gagasan yang dibuat untuk membantu permasalahan para napi dan selebihnya satu bagian dari lembaga permasyarakatan. Banyaknya permasalahan seperti kurangnya sumber daya manusia dalam hal pengelolaan lembaga permasyarakatan menyebabkan lapas terlalu bergantung kepada pemerintah pusat. Selain itu permasalahan seperti stereotype buruk masyarakat, kurangnya kesejahteraan napi, semakin banyaknya orang Indonesia yang masuk penjara turut menjadi masalah urgent yang perlu segera ditanggapi. Dari sekian banyaknya permasalahan tersebut, maka buah naga yang juga merupakan komoditi ekspor dipilih sebagai solusi yang mana apabila gagasan kebun buah ini berhasil, Nusa Kambangan akan menjadi pulau pemasok buah dan pemasukan sendiri. Adapun saat ini, kebun buah naga di sana baru mencapai sedikitnya 1 hektare, dan dalam waktu dekat ini, kebun buah direncanakan akan diperluas dan lengkapi dengan tata kelola yang lebih memadai.

Beruntung, kunjungan kami ke sana bertepatan dengan matangnya buah naga. Pada saat saya ke sana, buah naga yang belum lama ditanam itu sudah memerah beberapa. Alhasil selain menyaksikan pemetikan buah, saya juga berkesempatan mencicipi manisnya buah naga itu bersama Pak Dirjen dan para stakeholders lainnya. Meskipun hanya secuil, merasakan kesegara buah naga di siang yang mulai terik itu memberikan optimisme pada diri saya bahwa di tanah ini akan ada perubahan besar bagi kehidupan yang lebih baik.

Meskipun demikian, optimisme ini juga menyisakan tantangan tersendiri. Keyakinan bahwa usaha perkebunan buah naga ini akan berhasil dibayang-bayangi oleh otoritas negara yang dimungkinkan tidak berpihak. Pasalnya, usaha ini didirikan di tanah negara, sementara setiap usaha yang didirikan di tanah negara harus selalu melaporkan keuanganya kepada negara. Yang dikhawatirkan adalah bagaimana jika hasil kebun buah naga ini tidak kembali ke menjadi milik Nusa Kambangan? Jika masalah ini tidak dapat diatasi dengan baik, maka upaya memandirikan Nusa Kambangan menjadi terhambat.

Perjalanan diteruskan menuju lapas kusta, begitu saya menyebutnya. Lapas kusta merupakan tempat yang dulu pada masa pendudukan Belanda dihuni oleh orang-orang yang menderita kusta. Sekilas mata memandang, lokasi di mana bekas tahanan penderita kusta ini hanyalah sepetak dinding yang telah usang. Di dalamnya hanya terdapat semak belukar dan kotoran sapi yang tersebar di mana-mana. Meskipun demikian, di sinilah sebuah gagasan baru di mulai. Siang itu saya turut menjadi saksi bahwa di tanah ini sekali lagi akan dibuat perubahan yang berbentuk kebun sayur dan peternakan sapi.

Seiring dengan langkah Mas Imam, saya mengekor mendengarkan diskusi panjang tentang konsep kebun sayur dan peternakan sapi ini. Di sana diantaranya terdapat Ibu Sari dari Bank Indonesia, mas Didi Efendy dari East West (Perusahaan bibit sayuran pertama di Indonesia), Pak Dirjen lapas, pihak Holcim, dan hampir seluruh pejabat yang diundang terkait program ini. Gagasan utama di sini adalah untuk merubah lokasi lapas kusta ini menjadi layak dan menghasilkan. Adapun dengan hasilnya kelak, tidak lain adalah untuk Nusa Kambangan itu sendiri.

20141115_115347

Ketika jam menunjukkan pukul 11.30, saya dan rombongan diberi kesempatan untuk mengunjungi Pantai Pasir Putih. Dari lapas kusta, letaknya hanya beberapa ratus meter saja. Rupanya Nusa Kambangan memiliki pantai yang tak kalah indah dengan pantai-pantai di Yogyakarta, tempat di mana saya tinggal. Pantainya bersih, putih, dan sejuk. Memandangi keindahan pantai ini seketika menyingkirkan prasangka seram saya akan Nusa Kambangan. Sebaliknya Nusa Kambangan memang nyata indahnya.

Kami diberi aba untuk segera kembali ke bus tatkala jam makan siang sudah dekat. Saat itu kami memang sudah sangat kelaparan, untuk itu tanpa berpikir panjang kami segera menaati perintah.

IMG_20160712_161959Sekembalinya dari pantai, kami masih mengikuti sesi diskusi bersama dengan seluruh stakehorders dan tamu undangan. Di dalam diskusi inilah nantinya keputusan akan dibangunnya sebuah sinergi untuk memajukan Nusa Kambangan disepakati bersama. Seperti yang diagendakan, diskusi ini berisikan pembahasan langsung bagaimana kebun sayur dan peternakan sapi akan diciptakan. Yang menjadi istimewa bagi saya di dalam diskusi ini adalah bagaimana mudahnya menjalin hubungan, menciptakan trust untuk sebuah perubahan di tempat yang masih baru. Mungkin inilah yang selama ini ditutup-tutupi mas Imam selama di kelas Kewirausahaan dan Inovasi, bagaimana beliau mengajarkan kami bagaimana memulai sinergi inilah acara puncak dari kunjungan kami ke Nusa Kambangan.

IMG_20160715_092119Apa yang dapat saya simpulkan dari diskusi besar tersebut adalah bahwasannya tidak ada sebuah masalah bagi seorang entrepreneur. Bagi seorang entrepreneur, tantangan memang ada di setiap langkah, namun bukan berarti tidak dapat diatasi. Bagi saya, membangun mimpi di Nusa Kambangan mulanya adalah sesuatu yang abstrak, bagaimana cara memulainya? Namun di dalam diskusi ini semua persepsi saya rubuh. Mas Imam berhasil menunjukkan bagaimana sebuah masalah dapat disolusikan hanya dengan berani memulai dan bersinergi.

Lagi-lagi saya ingat apa yang dikatakan beliau di kelas: hanya orang gila yang bisa merubah dunia. Bayangkan saja bagaimana jika kita hanya menjadi orang biasa yang berpikir betapa sulitnya membuat terobosan di tengah keterpurukan dan stereotype masyarakat yang sudah terlampau buruk. Saya saya dan para mahasiswa lainnya pun akhirnya menyadari bahwa untuk membuat perubahan perlu pemikiran yang tidak biasa. Memang seperti itu bukan hakikatnya, sebuah inovasi adalah sesuatu yang tidak biasa.

Jadi jika ingin berinovasi, jangan berpikir yang biasa-biasa saja! Think big and different!

©Tina Latief 2014

Advertisements

8 thoughts on “Dari Senen, Baturraden, Hingga Pulau Nusa Kambangan Bagian 2

  1. Pingback: Dari Senen, Baturraden, Hingga Pulau Nusa Kambangan Bagian 1 | Tina Latief

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s