Zero Rupee Note, How Civil Society Promote Transparency Using Technology

IMG_20170505_195650_995“Access to information helps citizens hold their own governments accountable, generates new ideas, encourages creativity and entrepreneurship.” —Secretary of State Hillary Rodham Clinton

Saat ini, diskusi mengenai civil society atau masyarakat sipil telah menjadi semakin populer tidak hanya di bidang politik atau bisnis tetapi juga media populer, terutama di media internet. Sekarang ada banyak organisasi yang memanfaatkan teknologi untuk memberikan suaranya (give a voice to the voiceless). Ada banyak definisi yang diajukan, tetapi intinya civil society atau masyarakat sipil adalah hasil dari individu di luar keluarga, negara atau perdagangan yang datang bersama-sama dari berbagai lintas negara dan budaya untuk mencapai tujuan bersama (Sarinath).

Tujuan civil society bisa bermacam-macam. Cs bisa masuk ke dalam tataran pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup bahkan dalam mempromosikan perdamaian dunia. Dalam banyak kasus Cs menjadi jembatan bagi masyarakat, membuat kondisi lebih baik ketika pemerintah dan swasta tidak dapat memenuhi kebutuhan konstituen masyarakat. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa Cso (Civil Society Organisation) hadir sebagai pengisi kesenjangan.

Sejarah menunjukkan pentingnya masyarakat sipil dalam mempertahankan masyarakat vibrant baik di dalam maupun diluar batas negara (Sarinath). Organisasi masyarakat sipil termasuk LSM, gerakan sosial, serikat buruh, dan organisasi berbasis masyarakat membantu memastikan keterwakilan semua suara di muka pemerintah dan swasta. Masyarakat sipil melengkapi pemerintah dan swasta dalam mencari solusi inovatif untuk masalah kompleks yang kita hadapi. Seperti yang dilakukan Vijay Anand di India, ia menemukan terobosan untuk memerangi korupsi di negaranya.

Vijay Anand merupakan salah seorang aktor yang memanfaatkan potensi teknologi untuk memberikan respon terhadap maraknya korupsi di India. Ia mendirikan 5th Pillar, sebuah LSM yang bertujuan memberdayakan warga Indoa untuk menentang dan memberantas korupsi.

Menggunakan perangkat lunak editing gambar dan website untuk promosi dan distribusi, Anand menciptakan senjata ampuh untuk membela warga dari pejabat yang melakukan suap. Ia menyebutnya sebagai Zero Rupee Note.

Zero Rupee Note Vijay Anand

zero rupee note

Zero Rupee Note merupakan sebuah bentuk visual untuk memobilisasi masyarakat untuk mengatakan TIDAK pada pejabat yang melakukan suap. Bentuknya sederhana, yaitu kertas yang dicetak menyerupai mata uang 50 Rupee tetapi tidak ada nominalnya, yang di halamannya diberi catatan dalam bahasa Inggris dan Tamil yang berbunyi “Eliminate Corruption at all levels” and “I promise to neither accept nor give a bribe” (Menghilangkan Korupsi di semua tingkatan dan Saya berjanji untuk tidak menerima atau memberikan suap). Cara menggunakannya adalah dengan memberikan note tersebut ketika ada pejabat yang ingin menyuap.  Di bagian belakang note tersebut juga ada kontak dan alamat situs 5th Pillar.

“By relying on mobile phones, mapping applications, and other new tools, we can empower citizens and […] address deficiencies in the current market for innovation.” —Secretary of State Hillary Rodham Clinton

Kita tahu bahwa perkembangan teknologi memberikan manfaat bagi orang-orang untuk berbagi informasi, berkomunikasi dan mengatur kepentingan mereka. Namun teknologi saja tidaklah memecahkan apa-apa. Berbeda ketika digunakan oleh individu dan organisasi yang bekerja untuk perubahan sosial, teknologi bisa menjadi sekutu yang kuat (Donahey, 2011). Sementara sekedar teknologi tidak bisa membawa perubahan sosial, teknologi koneksi memiliki potensi yang luar biasa untuk mendorong dan memperkuat masyarakat sipil.

“I realized corruption is affecting everyone, rich and poor, in a vicious cycle. To fight it I knew that we would need to focus not just on a small group of activists but on getting all citizens involved.” —Vijay Anand (archive.informationactivism.org).

Dari waktu ke waktu, orang di dunia semakin banyak yang memiliki akses ke komputer, dan ada jutaan orang yang sekarang membawa ponsel yang dapat menangkap dan mengirimkan gambar, audio ataupun video. Namun, untuk memanfaatkan potensi penuh dari teknologi sebagai alat yang memungkinkan dan mendorong aksi sipil, orang harus menggunakannya secara terampil, produktif dan kredibel (Donahey, 2011). Teknologi tersebut dapat memfasilitasi perubahan sosial, tetapi tidak dapat menciptakannya. Orang-orang masih di kursi pengemudi. Sehingga organisasi masyarakat sipil seperti Zero Rupee Note perlu menyebarkanluaskan teknologi koneksi tersebut dengan kreatif dan bertanggung jawab untuk memicu perubahan positif dalam komunitas mereka.

Media elektronik memungkinkan terjadinya percakapan antara masyarakat dunia yang satu dengan yang lainnya. Ini berarti bahwa hari ini kita memiliki potensi media digital untuk membangun masyarakat sipil yang cukup besar. Perkembangan ini akan sangat potesial untuk memperkuat masyarakat sipil. Dengan teknologi digital di tangan, orang yang sebelumnya tidak dapat bersuara, dapat diberdayakan untuk berpartisipasi dalam ruang publik dan memperluas keragaman ide yang tersedia.

Bagi saya, Zero Rupee Note telah membuktikan bahwa teknologi dapat digunakan untuk membantu mereka yang tidak dapat bersuara menjadi dapat berbicara. Zero Rupee Note memberikan kesempatan bagi orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk dapat memperjuangkan hak mereka. Pada akhirnya, Zero Rupee Note dan mungkin berbagai LSM yang tumbuh dari koneksi teknologi adalah masyarakat sipil baru yang saya sebut sebagai masyarakat sipil maya sekaligus merupakan modal sosial yang baru.

©Tina Latief 2015

Advertisements

3 thoughts on “Zero Rupee Note, How Civil Society Promote Transparency Using Technology

  1. Blogger Indonesia

    Bono U2, Lionel Richie, Michael Jackson, dkk pasti senang membaca tulisan ini, hehehe.. bila memang CS bisa jadi pendekatan untuk menuju perdamaian dunia, dunia dimana tidak ada lagi darah tertumpah sia-sia tak sekadar utopia.. O:)

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Kalau Bono U2 atau Michael Jackson saya ngga tau sih mas..
      Tapi berdasarkan sejarah Filipina dan Indonesia, civil society sudah terbukti membantu mempromosikan demokrasi dan tentunya perdamaian itu sendiri… (baca Alagappa)

      Tapi perlu dicatat juga kalau CS tidak selalu memberikan dampak positif. Dampak yang ditimbulkan tergantung ide, tujuan, dan distribusi power..

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s