Bagaimana Menjadi Pemain di Era Media Digital

IMG_20150901_073802“Sekarang, orang memposting apapun yang ditemukannya di jalan, meskipun itu hanya bunga ilalang ataupun botol bekas” (kalimat disempurnakan)

Saya sedang membaca timeline di Facebook saat menemukan tulisan tersebut. Tulisan tersebut milik seorang teman lama, seorang ibu muda beranak satu.

Dalam tulisan itu, ia nampak mengkritisi aktivitas orang-orang di media sosial. Ia menganggap orang-orang sekarang aneh dan berlebihan dalam menggunakan media sosial. Namun jika kita amati, sebenarnya bukan hal yang aneh lagi dengan apa yang terjadi di media sekarang. Dan Gillmor menyebutnya sebagai media warga (citizen media) yaitu sumber informasi baru yang timbul dari partisipasi warga (demokrasi) dalam menggunakan media digital.

Abad ke-21 adalah masa kelimpahan media. Perkembangan teknologi terbaru  telah memungkinkan bagi orang-orang untuk berpartisipasi dalam media. Kini, hampir setiap orang dapat mempublikasikan berbagai hal dan hampir semua yang diterbitkan dapat dengan mudah ditemukan. Baik individu maupun kelompok menggunakan media sosial untuk menghasilkan konten mereka sendiri. Singkatnya, dengan teknologi digital di tangan, kita bukan lagi konsumen media. Kita adalah produsen media itu sendiri.

Namun, kelimpahan informasi dapat menyebabkan kebingungan. Dan inilah yang terjadi sekarang, perkembangan media baru selama dekade terakhir telah menciptakan banjir data yang kebenarannya tidak dapat dengan mudah dinilai. Tidak semua informasi yang diciptakan sama. Akurasi, kualitas dan kehandalan berita dapat sangat bervariasi dari satu sumber dengan sumber lainnya. Meskipun sebelumnya tidak ada outlet media yang pernah menjadi sumber yang sempurna, memutuskan siapa yang harus dipercaya sekarang jauh lebih sulit daripada sebelumnya.

amtina fathul latifah

amtina fathul latifahBisa dikatakan kita hampir tidak berdaya dalam menyortir konten media yang beredar. Berapa ribu bahkan juta orang yang telah tertipu dengan adanya berita-berita omong kosong/ HOAX. Sayangnya meluasnya penggunaan media sosial belum disertai dengan kemampuan untuk memilah dan memilih data. Menurut Dan Gillmor, dalam era produksi media produktif, tanggung jawab untuk membuat informasi berkualitas jatuh tidak hanya pada produsen, tetapi juga pada konsumen untuk menavigasi lingkup media baru secara bertanggung jawab.

Secara lebih lanjut Gillmor menjelaskan bahwa dalam rangka mewujudkan potensi penuh demokratisasi media, konsumen harus mampu membedakan yang baik dari yang buruk dan jelek. Namun, alat yang paling efektif yang tersedia bukanlah teknologi. Sebaliknya, akal, rasa ingin tahu dan kemauan kita untuk mengikuti prinsip-prinsip etika dan intelektual suara adalah aset yang paling kuat untuk menilai informasi di lingkungan media saat ini.

Demokrasi bukan sekedar tentang memberikan suara. Dalam media demokratisasi, partisipasi warga menjadi hal yang sangat penting. Kita harus belajar untuk menggunakan media dengan menjadi peserta aktif dalam cara kita mengkonsumsi dan menciptakan informasi terpercaya untuk kita sendiri. Bagi saya, inilah yang disebut sebagai melek media (media literacy) yang sebenarnya.

Lantas bagaimana kita menjadi melek media? Dalam tulisan Gillmor, setidaknya terdapat lima prinsip fundamental dari melek media yang ia tuliskan. Kelima prinsip tersebut meliputi:

1. Be Skeptical of Everything

Dalam menghadapi derasnya arus informasi, kita tidak dapat menetapkan kepercayaan mutlak pada apa pun bahkan kepada wartawan, teman dan keluarga sekalipun karena mereka semua belum tentu memberitahu hal yang benar.

2. Exercise Judgment

Agar memperoleh informasi yang benar, kita harus menyortir informasi dari sumber-sumber yang kredibel. Dalam tulisan Gillmor dicontohkan, misalnya kita dapat percaya pada surat kabar kredibel seperti The New York Times dan bukan pada blog-blog yang tidak jelas siapa penulisnya.

3. Open Your Mind

Untuk mengetahui informasi yang benar, kita juga perlu keluar dari zona nyaman yaitu belajar membaca dan mendengarkan orang yang bahkan kita tidak setuju dengan pendapatnya. Hal ini berarti kita menantang keyakinan dan bias kita sendiri untuk melihat fakta-fakta baru, tidak perduli seberapa kuat pendirian kita. Hal ini juga berarti secara aktif mencari informasi tentang orang asing dan budaya.

4. Ask Questions

Salah satu sumber saja tidak pernah cukup untuk mengetahui kebenaran informasi. Jika akses pada topik yang ingin kita ketahui lebih lanjut dapat kita jangkau atau dekat dengan kita, maka kita harus mencari informasi yang hilang itu dengan cara mencari informasi di tempat terkait atau berkomunikasi dengan orang-orang yang mungkin tertarik dengan apa yang ingin kita ketahui.

5. Learn Media Techniques

Kita harus belajar menggunakan alat-alat penciptaan media secara akurat, produktif dan kredibel. Sekaligus, kita harus memahami bagaimana supaya media yang kita gunakan dapat mengajak dan memanipulasi agar konsumen dapat secara efektif dan bertanggung jawab dalam menggunakannya.

New games, new rules. Di era yang penuh dengan banjir data ini kita tidak bisa menerapkan aturan yang sama melainkan harus melakukan penyesuaian dan perubahan. Dan bagi saya, kelima prinsip fundamental yang dituliskan Gillmor adalah senjata ampuh yang harus dimiliki siapapun yang terjun ke dalam era digital. Untuk menjadi pemain yang baik di dunia digital, masyarakat harus aktif berpartisipasi dalam menciptakan maupun memeriksa konten-konten yang terpercaya.

Setidaknya itulah yang harus dilakukan agar seseorang tidak sendirian di dalam banjir data yang membingungkan seperti ini.

©Tina Latief 2016

Advertisements

14 thoughts on “Bagaimana Menjadi Pemain di Era Media Digital

  1. Hastira

    betul mabk, harus pinter2 melihat tulisan dan harus pinter cros cek dg media lainnya. nah itu kadang suka bikin males orang cari akhirnya percaya dg berita yg belum tentu kebenarannya. Apalagi judul kadang bombastis

    Like

    Reply
  2. Ira guslina

    Rupanya kita memendam keresahan yang sama. Baru tadi pagi saya dengan sengaja mentrack beberapa akun fb yang saya anggap suka menshare artikel tak bernilai. Saya berharap ada cara ampuh yang bisa menyadarkan para pengguna medsos untuk lebih cerdas. 🙂

    Like

    Reply
  3. cputriarty

    hai mba Tina kalo jelas pasionnya menulis pastinya sudah tahu etika dan kaidah menulis yang baik sebagai seorang “Netizen” tanpa harus menyudutkan pihak manapun.Salam kenal & sukses selalu ya 🙂
    @cputriarty

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Halo mba Putri, salam kenal juga..

      Passion menulis itu mungkin bisa membuat orang bisa menulis sesuai kaidah yang baik, tetapi belum tentu membuat seseorang beretika atau bermoral. Bisa jadi passion menulisnya karena suka menulis yang menyudutkan orang juga 🙂

      Like

      Reply
  4. bersapedahan

    benert tuh tips-nya .. saya setuju bangettt, banyak banget yang asal jeplak .. malas baca data/info2 lain, check and recheck … banyak yang attitude-nya negatif … ngga kenal, ngga pernah bersinggungan tapi .. menyerang dengan negatif … herman 😀

    Like

    Reply
  5. Julia

    Iya ya Mba’, kadang ada berita hoax yang udah dikonfirmasi, eh beberapa tahun kemudian dishare lagi, parahnya pas dijelasin, di mati-matian kekeuh kalo itu benar.. 🙍

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s