Dikskusi Bersama MPR RI dan Urgensi Pemahaman 4 Pilar untuk Merawat Keindonesiaan Kita

3(4)

PADA 18-19 Maret 2016 lalu, saya berkesempatan menghadiri diskusi bersama MPR RI yang bekerja sama dengan Komunitas Blogger Jogja. Acara bertajuk Netizen Jogja Ngobrol Bareng MPR RI itu diselenggarakan selama dua hari (Jumat dan Sabtu) di hotel East Park, Yogyakarta dengan menyertakan sebanyak 150an peserta.

Keikutsertaan saya dalam acara ini bermula ketika saya berkunjung ke Yogyakarta dan mendapati undangan seleksi yang disebarkan melalui grup Facebook, Komunitas Blogger Jogja. Termotivasi oleh rasa penasaran pada apa yang ingin dikemukakan MPR RI kepada para netizen, sayapun mendaftar. Beruntung saya menjadi salah satu yang mendapatkan tiket masuk untuk mengikuti acara ngobrol tersebut.

“Saat ini tidak banyak lagi diskusi tentang wawasan kebangsaan, cinta tanah air, dan Pancasila”, demikian pernyataan ketua MPR RI, Zulkifli Hasan dalam pembukaan acara Ngobrol Bareng MPR RI, Jumat 18 Maret 2016. Saat mendengar pernyataan tersebut, saya langsung menangkap adanya sinyal keresahan yang berarti dalam pernyataan orang yang menduduki kursi tertinggi di MPR itu.

Zulkifli meresahkankan pemahaman 4 pilar MPR (Pancasila, Undang-Undang Dasar 45, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) oleh masyarakat kita saat ini. Faktanya saat ini masyarakat Indonesia memang telah jauh dari diskusi-diskusi tersebut. Seakan kehilangan roh wawasan kebangsaan, keabsenan dari keempat pilar tersebut membuat masyarakat kehilangan arah dan pegangan sebagai warga negara Indonesia yang sebenarnya. Tak salah jika kemudian berbagai persoalan yang sedang marak terjadi di negeri ini banyak dikaitkan dengan persoalan ketidakpahaman masyarakat terhadap 4 pilar (sebut saja masalah-masalah yang mengarah pada radikalisme seperti Gafatar dan gaya hidup LGBT, atau tindakan konyol yang baru-baru ini dilakukan oleh artis Indonesia, Zaskia Gotik).

Lantas sebuah pertanyaanpun muncul, apakah kita masih orang yang berbudaya dan memiliki nilai-nilai luhur?

Zulkifli mengakuinya sebagai kegagalan MPR. Ia menyatakan bahwa dengan keterbatasan anggaran (tidak ada anggaran untuk sosialisasi 4 pilar) dan kemampuan lembaga, sudah pasti, tidak mungkin jika menyandarkan beban untuk bisa membangun wawasan kebangsaan, mensosialisasikan 4 pilar  kebangsaan, dan menyadarkan orang Indonesia itu, hanya kepada MPR (DPR &DPD).

Zulkifli menambahkan bahwasannya membangun karakter bangsa bukanlah tugas MPR semata. “Mana bisa. Ini tugas semua” jelasnya. Dari sinilah MPR melihat potensi penggunaan media sosial oleh para netizen yang disinyalir dapat membantu MPR dalam membantu mensosialisasikan 4 pilar MPR kepada masyarakat Indonesia dengan metode yang berbeda. MPR melihat bahwa netizen memiliki peran penting dalam membentuk opini rakyat dan menanamkan nilai-nilai bangsa.

Masalah lain yang menjadi keresahan Zulkifli, demokrasi yang selama ini telah berjalan rupanya membawa konsekuensi yang tidak diinginkan (unintended consequences). Ia menilai bahwa demokrasi saat ini (ekonomi pasar bebas) merupakan demokrasi yang hanya menguntungkan kalangan elite. “Oleh karena itu perlu ada norma-norma yang disepakati bersama, bahwa demokrasi itu perlu norma yang kuat agar demokrasi tidak keluar dari sini (dari jalurnya)”, jelasnya. Untuk mensolusikan masalah ini, Zulkifli menekankan bahwasannya perlu apa yang disebut dengan haluan negara.

Halauan negara yang ia maksud adalah haluan negara yang lebih komprehensif. Berbeda dari haluan negara sebelumnya yang hanya terdiri dari garis-garis besarnya saja, Zulkifli mengemukakan bahwa haluan negara yang baru adalah haluan negara yang tidak hanya memuat persoalan ekonomi saja, melainkan merangkai ekonomi, sosial-politik, ekonomi-politik keamanan, dan sosial budaya.

Ia menggarisbawahi pentingnya memiliki haluan negara ini agar Indonesia tidak menjadi negara yang bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh para pendirinya dulu (founding father). Hal ini sekaligus mencegah terjadinya ketimpangan sosial yang begitu jauh. “Kita ingin memiliki sistem kewarganegaraan yang memakmurkan, mencerdaskan seluruh, bukan sebagian”. Untuk itu, MPR RI bermaksud memperluas partisipasi masyarakat dari berbagai lapisan guna membantu merumuskan halauan negara yang baru.

GAGASAN serupa juga terdapat dalam diskusi kedua bersama Sekertaris Jenderal MPR RI, Makruf Cahyono. Di sini, Makruf juga menggarisbawahi pentingnya mensosialisasikan 4 pilar dan peranan netizen dalam sosialisasi ini.

Diawali dengan penjelasan mengenai fungsi dan peranan MPR saat ini, dalam sesi diskusi Makruf menyampaikan bagaimana tugas politik MPR terkait dengan sosialisasi, pengkajian dan sebagai wadah aspirasi masyarakat. MPR memiliki badan pengkajian yang bertugas mengkaji tata negara, konstitusi dan implementasinya. Sementara itu, badan sosialisasi yang dimaksud adalah badan yang bertugas mensosialisasikan 4 pilar MPR.

Yang menarik, di sini negara didapati ingin melakukan sebuah rekayasa sosial melalui keberadaan netizen dan sosial media. Dalam bahasa Makruf, bagaimana netizen dapat menyampaikan masalah ini (sosialisasi 4 pilar) kepada masyarakat dan bagaimana nilai-nilai 4 pilar sampai di masyarakat. Karena MPR bercita-cita ingin menjadikan dirinya sebagai rumah kebangsaan, pengawal ideologi Pancasila dan penjaga kedaulatan rakyat. Dalam hal ini, Makruf menegaskan hal ini jangan sampai menjadi teori saja, tetapi harus diimplementasikan. Adapun menurut Makruf, berbagai langkah yang telah ditempuh meliputi: melakukan rekrutmen terhadap narasumber di berbagai kalangan masyarakat, sosialisasi melalui kegiatan outbound dan sejumlah kegiatan lomba terkait dengan 4 pilar MPR.

2(6)

DALAM sesi diskusi terakhir, Sabtu 19 Maret 2016, acara diisi oleh TB Soenmandjaja dengan bahasan mengenai radikalisme. Bagi saya ini menarik mengingat wawasan kebangsaan, seperti yang telah disampaikan pada diskusi sebelumnya, dilansir sebagai cara yang ampuh untuk menangkal radikalisme.

Mulanya saya mengira diskusi yang dibawakan Soenmandjaja akan berlangsung serius dan sengit. Namun dugaan saya salah. Sosok santai, jenaka dan terbilang romantis yang muncul dari seorang Soenmandjaja mampu mengubah topik berat ini menjadi nyaman diikuti.

Dari keseluruhan diskusi, apa yang saya tangkap dari Soenmandjaja adalah bagaimana melawan radikalisme dengan cara menghidupkan kembali nasionalisme kita sebagai warga negara Indonesia. Apa yang disampaikannya sebenarnya terbilang ringan-ringan saja. Kami banyak diajak mengingat kembali sembari bernyanyi. Mungkin inilah cara Soenmandjaja memberikan sentilan kepada para hadirin, bahwa ketika kita tak lagi tidak hafal dengan lagu-lagu kebangsaan, mungkin kita memang layak mempertanyakan kembali apakah kita masih memiliki jiwa nasionalisme itu.

***

BAIK Zulkifli, Makruf maupun Soenmandjaja, apa yang mereka sampaikan merupakan upaya untuk mensolusikan masalah pemahaman empat pilar oleh masyarakat masa kini. Tujuannya satu: untuk mengembalikan dan menjaga Indonesia tetap berada di dalam lintasannya (on the right track).

Indonesia bukanlah negara Barat. Indonesia adalah negara multikultur yang memiliki ideologi dan halauan negaranya sendiri. Empat pilar MPR merupakan arah dan pegangan yang harus dipahami sebagai sarana untuk menjadikan kita sebagai masyarakat yang berbudaya, menjunjung nilai-nilai luhur negaranya sekaligus merawat keindonesiaan kita. Yang mana untuk mewujudkannya, seluruh peran dan partisipasi warga sangat diperlukan di dalamnya.

©Tina Latief 2016

Advertisements

8 thoughts on “Dikskusi Bersama MPR RI dan Urgensi Pemahaman 4 Pilar untuk Merawat Keindonesiaan Kita

  1. alrisblog

    Menurut saya sih salah satu cara generasi muda paham keindonesiaan adalah ditanamkan sejak dini pemahaman yang bener. Hidupin lagi tuh pelajaran PSPB yang bener, ajarkan sejak sd sampai perguruan tinggi. Orang selesai pendidikan formal rata-rata sudah tidak mau belajar sejarah.

    Like

    Reply
    1. Tina Latief Post author

      Bisa juga mas seperti itu. Cara itu bisa dilakukan oleh para pengajar di sekolah atau orang tua saat mendampingi belajar di rumah. Hanya saja caranya berbeda dengan dulu. Pakai cara yang lebih kekinian kalau menurut Pak Zul..

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s