Escape to The Pine Forest of Imogiri

IMG_20160321_094517BULAN lalu, saat ibu saya mulai menyinggung-nyinggung soal fenomena alam Equinox, saya mulai memperhatikan perubahan suhu udara di sekitar saya. Waktu itu saya di Yogyakarta. Tepatnya di wilayah bagian yang terkenal dengan pegunungan kapurnya.

Perubahan suhu di sana mendadak begitu terasa. Padahal saat itu seharusnya masih musim penghujan. Wilayah yang sudah terkenal kering itu rasanya semakin panas dan kering. Meski menurut rilis berita BMKG Equinox pertama hanya belangsung satu hari yaitu pada 21 Maret, cuaca yang begitu panas dan menyengat itu rasanya masih terasa sampai berhari-hari setelahnya.

Alkisah karena kepanasan itu, saya dan salah seorang teman saya melarikan diri ke sebuah hutan. Di Kabupaten Bantul, konon terdapat sebuah hutan yang terkenal dengan pinusnya. Berharap dapat melepaskan diri dari gerah dan panas, kamipun tak segan menembus teriknya matahari untuk mencapai hutan tersebut. Berbekal dua buah botol air meneral, melajulah kami ke jalanan yang terik itu.

DERASNYA keringat membanjiri tubuh saya tatkala di perjalanan. Saking derasnya, kaus putih yang melekat di badan saya tak mampu lagi menampung serapannya. Titik-titik kecil keringat itu menembus jaket Cornicle biru saya dan meninggalkan jejak basah di bagian luarnya. Saya hanya bisa menghela nafas panjang, menyerah kegerahan. Saya berharap banyak motor yang dikemudikan Mj segera sampai di tempatnya.

Kurang dari tiga puluh menit, suara skuter matic MJ terdengar dimatikan. Akhirnya, kami sampai di tempat tujuan. Atmosfer udara mendadak berbeda saat kaca helm saya sibakkan ke atas. Saat memandang ke belakang, ratusan pohon pinus melambai, menyambut ramah kedatangan kami yang kegerahan. Diam-diam saya melonjak kegirangan, mengambil nafas dalam dan melepaskannya dengan bebas.

Terima kasih Tuhan, masih ada kesejukan di antara tempat yang panas ini…

IMG_20160321_095013ORANG menamai hutan ini sebagai Hutan Pinus Imogiri. Letaknya berseberangan dengan lokasi Kebun Buah Mangunan. Adapun lokasi hutan ini juga tak jauh dari Hutan Pinus Becici, hutan pinus yang berada di dataran tinggi/puncak. Jika berkunjung ke tempat ini, tak jarang orang menjadikannya sebagai satu paket destinasi wisata.

Tidak ada biaya khusus/retribusi untuk masuk ke hutan ini. Melainkan biaya parkir untuk kendaraan yang kami bawa probadi. Selebihnya, kami dapat menikmati hutan sebagaimana adanya. Untuk saya dan Mj, kami memilih tempat terbaik dan memasang hammock di antara dua buah batang pinus yang kokoh.

IMG_20160321_095811IMG_20160321_095411IDE memasang hammock nampaknya adalah ide yang brilian saat berada di hutan pinus. Ketika mengamati sekeliling, nampak tak hanya kami yang enjoy berada di hutan pinus dengan hammock. Memang, rasanya amazing berayun-ayun pelan sembari menengadah ke atas. Memandangi pola-pola indah kanopi yang terbentuk dari puluhan pohon pinus.  Saat bernafas ataupun bercanda, rasanya juga sangat lepas dan leluasa. Sungguh, ini adalah ide melarikan diri yang hebat saat dikejar hawa panas.

IMG_20160321_100316 IMG_20160321_100615Saat menengadah ke atas, tidak ada sedikitpun berkas sinar matahari yang masuk ke hutan ini. Semuanya teduh, dipayungi dahan dan ranting lebat milik sang penjaga langit itu. Kedudukan hutannya pun sangat tenang, hanya ada suara-suara khas angin yang kadang bertiup sepoy mempermainkan pucuk-pucuk pinus. Ah, betapa menyenangkannya datang ke Hutan Pinus Imogiri ini.

Selain saya terbebas dari serangan hawa panas, di sini saya juga bisa belajar mendengarkan suara alam.

©Tina Latief 2016

Hutan Pinus Imogiri
Dlingo, Bantul Regency, Special Region of Yogyakarta
Koordinat: -7.923338, 110.429435

Advertisements

12 thoughts on “Escape to The Pine Forest of Imogiri

  1. nbsusanto

    duh baca ini jadi kangen bantul. terakhir ke pinus akhir taun lalu, ya namanya hari minggu suasananya rame banget. cocok sih buat wisata keluarga. lha di jogja kalo nggak disini tempat terbuka untuk keluarga memang terbatas. 😀

    Like

    Reply
      1. nbsusanto

        kalo suasana alam yang ada paling pantai mbak, menurut saya sih, soalnya tempat terbuka dengan suasana alam di jogja minim, lha wong taman kota aja nggak ada. atau mungkin kemaren saya eksplornya terlalu mengabaikan itu yak. 😀

        Like

      2. Tina Latief Post author

        Ah engga kok. Di Jogja banyak sekali suasana alamnya. Ada gua, ada pantai, danau, persawahan (desa wisata), resto berbasis alam dan edukasi, pun taman kota juga banyak. Taman kota di Jogja bagian Wonosari juga sudah ada, taman kuliner juga sudah dibangun 🙂

        Like

    1. Tina Latief Post author

      Berat saya 47 kg sama dengan teman saya. Waktu kami pakai berdua hammocknya kuat mba. Kebetulan kami memilih hammock yang cukup bagus. Saya kira untuk berat hingga 100kg masih kuat. Tapi memang lebih ideal jika digunakan sendirian saja hehe

      Like

      Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s