Ketika Dinamika Kerja Menjadi Tantangan Mengatur Liburan

Ketika aku bukan seorang mahasiswa lagi, mencari waktu liburan pun menjadi tantangan.

PERNAHKAH kamu merasa bahwa ketika sudah bekerja, mengatur waktu liburan menjadi lebih sulit dibandingkan saat masih bersekolah? You know what, I feel that. Tahun ini khususnya, saat aku telah lulus kuliah dan aktif bekerja, aku benar-benar mengalami kesulitan mengatur jadwal liburan.

Dinamika yang baru ini jelas sangat terasa bedanya. Tahun lalu setidaknya aku masih seorang mahasiswa yang mana liburan bukanlah menjadi masalah. Aku bisa libur semester sampai berbulan-bulan, atau jika merasa kurang libur, aku bisa bolos jika itu diperlukan, heheh. Sementara, saat ini aku sudah bekerja, yang itu artinya jadwal dan porsi liburanku akan sangat tergantung oleh adanya hari libur atau ketika aku mengajukan cuti. Tidak ada bolos, tentunya! Itu kalau kau tidak ingin dipotong gaji atau paling buruk, dipecat.

Tantangan lainnya, yang biasanya membuatku harus mengulur usus kesabaran lebih panjang adalah ketika mendapati waktu liburan ternyata tidak sejalan dengan budget yang tersedia. Misalnya saat liburan tapi jatuh tanggal tua. Sialnya bagi orang kota yang ingin liburan adalah selain harus punya waktu yang tepat, juga harus punya uang yang banyak.

Persoalan lainnya, biasanya waktu yang tersedia untuk liburan sangat sedikit. Kadang-kadang, akan susah sekali mencari hari senggang yang durasinya cukup lama untuk liburan. Biasanya, faktor inilah yang membuat liburan paling menyebalkan. Belum sempat melakukan apa-apa, kerjaan di kantor sudah datang memanggil-manggi. Hal seperti ini membuat liburan kita seperti dikejar anjing!.

Aku bisa menjamin prediksiku tidak salah akan hal tersebut. Itu sebabnya, ketika hendak mengadakan liburan, aku mencoba mempersiapkan semuanya dengan sebaik-baiknya. Pertama, aku memilih waktu yang tepat untuk liburan, lalu mempersiapkan budget yang diperlukan, menabung. Nah, sekarang tinggal pikirkan, bagaimana caranya menikmati waktu liburan yang tidak panjang itu? Di sini, aku akan membagi sedikit pengalaman bagaimana aku mengatur waktu liburan singkatku selama ke Jogja kemarin.

Sometimes, I can be a very detail women on everything that excites me. Mulai dari penentuan hari liburan, pemesanan tiket, hingga apa-apa yang hendak aku lakukan di sana, semua aku jadwalkan dengan rapih. Mungkin bagi sebagian orang, perencanaan (planning) tidaklah penting—orang dengan tipikal seperti ini biasanya akan lebih mengandalkan improvising.  Tapi bagiku tidak. Improvisasi bisa dilakukan ketika perencanaan yang dibuat tidak bisa dilakukan secara maksimal. Jadi tetap, the key is on the plan!

Menentukan waktu liburan
Kebetulan, kali ini aku tidak liburan sendiri melainkan bersama temanku, Yani. Karena kami berdua sudah bekerja, maka jauh-jauh hari aku dan Yani sudah mencari hari baik untuk liburan. Kamipun menentukan liburan pada bulan April.

Di bulan itu, kami memilih tanggal yang berdekatan dengan akhir pekan sekaligus tanggal yang memungkinkan untuk cuti kerja. Sesuai kesepakatan kami memilih liburan pada tanggal 14-19 April 2017. Setelah mengajukan cuti, kamipun memilih armada yang cukup nyaman untuk keberangkatan ke Jogja. Karena kami berdua anti bus—kami sama-sama suka mabuk ketika naik busmaka kami sepakat untuk naik kereta.

Memesan tiket
Karena arus liburan di akhir pekan selalu tinggi, maka akupun membiasakan diri untuk mem-booking tiket jauh-jauh hari, kalau perlu pre order. Pada liburan kali ini pun, aku membooking tiket lebih awal, yaitu tiga bulan sebelum hari H keberangkatan, bulan Februari. Tidak lupa, tiket yang kami beli pun kami atur sesuai budget namun tidak melupakan kenyamanannya. Kami memilih kereta api kelas Bisnis. Berdua kami menghabiskan budget sebesar 400 ribu rupiah.

Membuat agenda liburan
Yang tidak kalah pentingnya, seperti yang telah aku sampaikan di awal, adalah tentang apa saja yang ingin aku lakukan selama liburan. Untuk mengetahui hal tersebut, aku membuat holiday set plan seperti di atas. Hal ini untuk meminimalisasi pemborosan waktu. Ingat, aku hanya memiliki waktu 3-4 hari untuk benar-benar menikmati liburan.

Intinya adalah don’t waste your time!  Karena liburan kerja berbeda dengan liburan semester. Di sini aku memasukkan agenda apa saja yang mungkin bisa kulakukan selama 3-4 hari tersebut. Sampai hari H-nya, barulah rancangan tersebut aku lakukan persis dengan yang sudah kurencanakan.

Lalu bagaimana hasil liburanku? Well, 70% planningku berhasil dan selebihnya improvising. Beberapa terkendala memang seperti misalnya aku tidak sempat ke pantai dan ke Telaga Biru. Tapi hal ini disebabkan kondisi cuaca di Jogja yang ternyata super extreme. Aku tidak menyangka jika matahari di Jogja akan seterik itu…

Kondisi ini membuatku urung untuk melakukan kegiatan outdoor. Sebagai gantinya, aku hanya jalan-jalan sore ke tempat teman-teman lamaku dan menikmati sunset di hutan. Bukan karena takut hitam, tetapi lebih karena takut sakit. Benar saja, saat aku kembali ke Jakarta, aku sakit di perjalanan, demam tinggi.

Jadi begitulah caraku menyiasati liburan singkat agar efektif. Tidak 100% berhasil memang tetapi mungkin bisa menjadi referensi bagi kalian yang baru menjalani kehidupan awal kerja seperti aku. Sekedar tambahan pesan saja, jika kamu sedang mempersiapkan liburan, jangan hanya mempersiapkan apa yang ingin kamu lakukan, tetapi persiapkan juga daya tahan tubuhmu. Ingat, liburan kerja tidaklah panjang. Jangan sampai jatuh sakit karena itu tidak asyik!

©Tina Latief 2017

Advertisements

2 thoughts on “Ketika Dinamika Kerja Menjadi Tantangan Mengatur Liburan

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s