Category Archives: Random Things

Petualangan Menemukan Pencerahan

Film tentang aksi kejahatan berbalut olahraga ekstrim yang sukses mengulang versi lamanya. Membangkitkan kekaguman penonton pada keindahan alam serta aksi yang menantang.

PASCA peristiwa maut yang dialami temannya di jalur lintasan, pemotorcross, Jhonny Utah, memutuskan untuk berhenti dan memilih bergabung ke dalam FBI. Peristiwa itu membuat dirinya terpukul dan merasa bertanggungjawab atas insiden tersebut. Satu-satunya cara untuk membuatnya move on dari kehidupan lamanya adalah dengan menjadi anggota FBI dan menemukan jati diri yang baru. Continue reading

My Lovely Auntie

JIKA DISURUH MEMILIH SIAPAKAH ORANG TERKASIH DI ANTARA semua anggota keluarga, mungkin aku akan sangat bingung. Yang pasti aku tidak bisa memilih. Karena setiap dari mereka, baik Mum, Kakek, Nenek, atau anggota keluarga yang lain semua sangat berarti bagiku.

20141025_071150Tidak terkecuali bibiku. Bibi Yanti. Dia sudah seperti ibu kandungku sendiri. Apalagi sejak aku memutuskan untuk tinggal di Jakarta dan Mum di Jogja merawat Kakek dan Nenek, Bibi Yanti selalu menjadi orang pertama yang aku cari selama di sini.

Dan bibiku itu, tahukah kalau dia sangat hafal dengan makanan kesukaanku. Acapkali pulang dari kantor dan mampir ke rumah, bibiku selalu siap dengan tepung terigu, tauge, wortel, bahan-bahan pembuat bakwan. Tak lupa, makanan lainpun juga selalu disiapkan. Dia tahu kalau aku akan makan sangat lahap jika di rumah ada tumis. Aku selalu memuji masakannya. Yah meskipun hanya tumis biasa, tumis kangkung dan sejenisnya, bagiku masakannya sudah seperti makanan dewa.20141025_071434

Yang sering membuatku terharu, bibiku itu perhatiannya tidak pernah kurang. Meskipun aku sudah besar, aku selalu dikhawatirkan seperti anak kecil yang belum bisa menjaga diri. Seperti misalnya kemarin sewaktu aku hendak pulang ke Depok. Sebelum pulang, bibiku masih sempat menanyaiku tentang jadwal bus kuning di UI. Dia khawatir kalau-kalau aku terlambat mendapatkan bus. Bibiku berpesan supaya tidak naik ojek sembarangan…

Padahal jika dipikir-pikir, bibiku itu juga punya banyak anak, bahkan ada yang masih kecil-kecil. Bisa dibayangkan bukan bagaimana hebatnya ia jika dalam kerepotannya mengurus rumah tangga dan anak-anaknya pun masih sempat memikirkan orang lain. Maka tidak bisa dipungkiri lagi kalau bibiku itu memiliki kasih sayang seluas lautan. Ah bibiku… semoga kasih sayangmu akan membawa kebaikan untukmu..

©Tina Latief 2015

The End of The Hunger Games: Mockingjay 2

Setiap perjuangan selalu diikuti dengan pengorbanan. Seperti menelan pil pahit, namun untuk sembuh dari kekacauan semua itu harus dilakukan. Keluarga yang tewas, saudara, dan orang yang dicinta selamanya akan menjadi kenangan. Hanya satu yang akan benar-benar mereka lupakan, tidak akan ada lagi Hunger Games.
***

Katniss Everdeen dan distrik 13 masih terus berjuang untuk menjatuhkan pemerintahan Presiden Snow. Sementara itu, Peeta yang masih menjalani perawatan medis pasca dicuci otaknya oleh Capitol terus berupaya mengingat apa saja memori kebenaran yang pernah terjadi dalam hidupnya. Bersama dengan Katnis, ia mengikuti unit untuk menjalankan misi membunuh Snow. Namun seperti kembali ke dalam Hunger Games, mereka harus menghadapi Capitol yang kini telah diubah menjadi arena dengan ribuan ranjau mematikan.

Satu persatu dari anggota unit tewas dalam pertempuran. Dalam misi itu, tim harus kehilangan Finnick, Boogs dan sejumlah anggota lainnya. Pada penyerangan berikutnya, senapan dan bom semakin membabi buta, warga Capitol pun dijadikan sasaran. Pada saat bom kedua dijatuhkan, Katniss baru menyadari bahwa adiknya, Prim, berada di sana dan turut menjadi korban.

Katniss segera mengetahui bahwa penyerangan itu didesain oleh Coin untuk kemenangannya sendiri. Setelah Capitol dikuasai, Coin mengangkat dirinya menjadi Presiden Panem dan berniat menyelenggarakan Hunger Games untuk anak-anak Capitol. Katniss sekali lagi menjadi Mockingjay, tepat di bawah Presiden Coin berdiri, ia akan melakukan eksekusi terhadap Snow. Dengan mata memandang tajam, ia mengarahkan mata panahnya tepat di mana Snow diikat. Namun tanpa diduga, ia mengalihkan panahnya dan  melepaskannya tepat ke arah Presiden Coin.

Saya akui, buku trilogi terakhir Suzanne Collins membuat saya berekspektasi tinggi. Seperti yang biasa saya harapkan dari film yang mengangkat cerita dari buku, penggarapan filmnya, setidaknya harus bisa lebih hidup dan merebut perhatian publik.

Sejauh ini, penggarapan Mockingjay Part 2 tidak buruk. Musik, kostum dan make up artistnya seperti biasa, keren. Hanya saja film ini cenderung tergesa-gesa. Seolah penonton tak diizinkan berlama-lama berfantasi di dalamnya. Ketergesaan ini tentu saja tidak menguntungkan karena mengurangi feel dari si film itu sendiri. Jika diingat-ingat, bahkan saya tidak merasakan bagaimana sedih dan hancurnya Katniss saat Prim tewas dalam pertempuran.

Adegan yang paling terasa ketergesaannya adalah di bagian akhir cerita yaitu di mana Katniss dan Peeta menikah dan memiliki anak. Poin utama di sini seharusnya menunjukkan bagaimana kehidupan masyarakat pasca revolusi dan Hunger Games. Namun lagi-lagi sang sutradara terlalu tergesa dalam mengeksekusi cerita sehingga endingnya terasa begitu janggal. Pada saat closing scene ini muncul, penonton banyak yang tertawa. Entah hanya penilaian saya saja atau apa, tetapi bayi yang digendong Katniss itu memang sangat kontras sekali jika dipilih sebagai model untuk anak Katniss dan Peeta.

©Tina Latief 2015

Puasa yang Banyak Maunya

Beberapa hari ini saya puasa. Tetapi bukan itu yang penting. Yang menjadi penting, mengapa pada saat puasa saya banyak maunya?

Beberapa hari yang lalu saya terbayang makan bubur ayam. Kemarin, saya kepingin ubi cilembu. Hari ini beda lagi, saya kepingin makan bakwan dengan sambal. Wah puasa kok banyak maunya ya. Padahal puasa itu soal menahan diri dari nafsu.

Saya jadi mempertanyakan, bagaimana kualitas puasa saya. Hmmm…

©Tina Latief 2015

Jumat yang Sangat Kenyang

SAYA TIDAK SEMPAT SARAPAN sebelum berangkat ke kantor kemarin. Saya berpikir, mungkin saya akan sarapan di jalan saja.

Benar, saat masuk ke kompleks, saya membeli bubur ayam. Kebetulan saya sedang kangen makan bubur ayam. Maka pagi itu saya sarapan dengan sangat bernafsu.
2015-08-09_12.28.13
Saya baru ingat agenda hari ini adalah rapat dengan narasumber. Sayapun mendapatkan jamuan yang tidak sedikit:secangkir teh panas, sekotak snack dan makan siang.
2015-08-09_12.30.25

2015-08-09_12.34.58
Alhasil sebelum sarapan tadi pagi benar-benar dicerna seluruhnya, saya sudah makan dan makan lagi. Jumat ini menjadi Jumat yang sangat kenyang. Saking kenyangnya saya menjadi terkantuk-kantuk saat rapat dan memutuskan tidak makan malam karena masih kenyang.

©Tina Latief 2015

Greeting from Jakarta

1438590416355

JAKARTA, The city of struggle and courage

Many people said that living in Jakarta is hard and full of competition. People must fight with the expensive of living cost, traffic jam, pollution, and sometimes flood.

Well maybe they’re right about Jakarta. And I’ve proved it.

That’s why, the man who can lived in Jakarta is must be the chosen one.

They must be strong, full of courage, brilliant and independent

Are you that man?

I am

#Jakartatoday #HelloJakarta #HappyMonday

©Tina Latief 2015

1st Day in Office After Holiday

HARI PERTAMA KEMBALI KE KANTOR ternyata tidak seburuk yang saya kira. Jalanan Jakarta masih cukup ramah, meskipun memang telah padat kendaraan. Meskipun ramai, ruas jalan ini pagi ini tidak macet.

Saya bisa sampai kantor lebih cepat…
IMG_20150727_075703Sesampainya di kantorpun saya tidak langsung disambut dengan tugas. Karena masih lebaran, kami masih -menyempatkan diri bersalaman, bermaaf-maafan. Tidak lupa dengan sajian kue-kue sisa lebaran.

IMG_20150727_190746Kantor relatif masih sepi. Masih ada beberapa orang, termasuk salah seorang teman, yang belum hadir hari ini. Meskipun demikian rundown kegiatan ke depan sudah jelas. Setelah persiapan penelitian matang, kami akan segera turun lapangan. Mungkin dua minggu lagi saya dan tim akan berkunjung ke Indonesia bagian Barat. Semoga saja penelitian kami dimudahkan.

Selamat bekerja kembali!

©Tina Latief 2015