Category Archives: Social life

Surat yang tak kunjung berbalas

Temanku menghilang dari dunia maya. Saat ini aku sedang kehilangan dan berusaha mencari kabarnya.

Sudah hampir enam bulan, yang itu artinya sudah setengah tahun, surat yang kukirim tak kunjung berbalas. Aku tak mau banyak berprasangka, namun di era penetrasi teknologi yang amat pesat yang mana semua hal terjadi serba cepat ini, membuatku jadi tak bisa menahan untuk tidak berperasangka. Ke mana sebenarnya dia? Mengapa ia tak kunjung membalas suratku? Continue reading

The Cat which Waits

HAMPIR SEMINGGU KAKEK SAKIT.
Setelah sempat mengalami masalah tekanan darah, kemarin kakek dibawa ke rumah sakit lagi karena gangguan saluran pembuangan air kecil.

Tidak ada aktivitas di rumah. Kedai kopi miliknya yang biasanya ramai dikunjungi pelanggan sepi, tak berpengunjung. Kedai yang biasa buka setiap pagi hingga sore hari itu kini tertutup rapat.

Hari ini hari ke lima kedai ditutup dan entah kapan akan dibuka lagi…

IMG_20150728_170502

Sudah dua hari kakek di bawa ke rumah paman. Kini rumah kakek kosong tak berpenghuni. Hanya tinggal kucing-kucing kakek yang senantiasa menjaga rumah seraya menanti. Mungkin mereka bertanya-tanya mengapa orang yang selalu memberinya makan tak  kunjung menampakkan diri.

Kakek, lekaslah sembuh dan kembali ke rumah…

©Tina Latief 2015

Crossing Border: Satu Hari Berguru Pada Pak Jenggot

SAYA jadi menyesal tidak menurut kata-kata Lala. Andaikata saya bersabar sejenak, mungkin makan siang yang saya pesan tadi tidak akan mubadzir karena tidak dihabiskan. Kini pikiran saya melayang, betapa arogannya diri saya. Sementara di luar sana masih banyak orang yang kekurangan pangan, di sini saya justru berhura-hura, membuang-buang makanan tanpa merasa berdosa.

***

Semenjak keranjingan Bakmi GM di Margo City Mall, belakangan ini saya jadi kerap berkunjung ke sana. Biasanya, tatkala jam makan siang bertepatan dengan usainya jam kuliah, saya akan menyempatkan ke sana, makan atau mungkin sekedar nongkrong saja.

Entah mengapa saya sempat saja pergi ke sana. Padahal jarak kampus ke Margo cukup jauh. Atau lebih tepat begini: Mengapa saya tidak makan di tempat yang dekat saja? Bukankah justru lebih dekat dan murah?

Inilah kesalahan saya yang pertama. Saya terlalu memaksa untuk bisa makan makanan di restaurant. Saking inginnya makan, saya lupa mempertimbangkan efisiensinya. Harganya, kesehatannya, saya lupakan semuanya.

Kesalahan saya yang kedua, begitu saya memesan makanan dan makan, saya tidak menghabiskannya. Makanan mahal yang saya beli itu berakhir menumpuk, menggunung menjadi sisa-sisa makanan yang sia-sia.

Lala, teman yang menemani saya makan sempat menyeletuk “Tina, hayuk dihabiskan!”, katanya. Namun dengan santai saya menjawab, “Udah kenyang banget, La. Ngga habis,”. Saya tahu, maksud Lala tidak sebatas menyuruh saya menghabiskan makanan. Sayangnya saya tidak menyadari itu.

Saya tidak menyadari pesan tersirat dari Lala sebelum menyaksikan pemandangan di bawah jembatan penyeberangan…
image

image

Adalah Pak Rastim atau akrab disapa Pak Jenggot, seorang pengemis berusia 85 tahun yang selalu mangkal di bawah jembatan penyeberangan Depok Town Square dan Margo City Mall. Selama lebih dari 5 tahun beliau berprofesi menjadi peminta-minta di bawah jembatan itu. Dulu Pak Rastim tidak bekerja seperti ini, melainkan sering menjadi buruh atau kuli di pasar. Namun semenjak tubuhnya tak lagi kokoh memanggul beban, profesi menjadi pengemis dipilihnya sebagai penyambung hidup.

Jauh sebelum pindah ke Depok, Pak Rastim dan isterinya, Bu Tasima, tinggal di kampung halamannya di Indramayu. Dulu Pak Rastim adalah petani penggarap di daerahnya. Dulu ia tinggal bersama dengan saudara-saudaranya.

Malangnya, pertanian tidak lagi menjanjikan bagi kehidupannya. Kalangan petani elite yang menguasai sistem pertanian tidak memberikan kesempatan bagi petani yang tidak bertanah seperti Pak Rastim. Akhirnya Pak Rastim memilih merantau ke kota, mencari penghasilan lain sebagai kuli di pasar. Dengan bantuan salah seorang temannya, Pak Rastim bisa tinggal di Depok, “di kontrakan di belakang kantor Walikota,” begitu sebutnya.

Pak Rastim tidak memiliki anak. Dengan isterinya yang pertama, entah mengapa anak Pak Rastim selalu saja tidak diberi umur panjang. Ketika cerai, bersama isterinya yang kedua pun, ia kembali tidak dikaruniai satupun anak. Sekarang isterinya sudah tua. Terlebih ia juga sakit-sakitan dan tidak bisa melakukan apa-apa.

Maka seperti inilah pekerjaan Pak Rastim setiap harinya. Berangkat pagi dari rumah, menuju bawah jembatan, dan menanti para dermawan memberinya bantuan sambil sesekali memungut sampah yang sekiranya dapat dijual kembali. Berbekal sebotol kecil air rebusan, dan mungkin sebungkus roti, Pak Rastim mampu bertahan seharian di bawah jembatan, menantang panas dan debu yang beterbangan.

Siang itu saya bersama Pak Rastim. Saya bergabung di bawah jembatan, ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seperti Pak Rastim. Namun tak kurang dari dua jam saya menyerah, kepanasan. Diam-diam saya undur diri, menepi ke Detos membeli minuman dingin. Sungguh, dengan panas dan hiruk pikuk kota yang seperti ini, rasanya saya tidak akan kuat menjadi seperti Pak Rastim.

Sambil menyeruput minuman saya mencoba mencerna perbincangan saya dengan Pak Rastim tadi. Pak Rastim mengaku sesungguhnya dia juga punya perasaan malu. Tetapi apa daya, tidak ada lagi pekerjaan yang dapat dia lakukan selain menunggu para dermawan. Usianya telah menjompo, sementara tidak ada anak yang dapat ia mintai bantuan.

“Saya kepengen kerja yang lain, tapi saya sudah tua, sudah tidak kuat. Jadi tidak ada pekerjaan lain yang bisa saya lakukan selain begini (mengemis)…”

Memang benar, di usianya yang sekarang, orang seperti Pak Rastim seharusnya sudah tidak bekerja yang berat-berat. Seharusnya, sudah tidak waktunya lagi baginya bekerja keras memenuhi perekonomian keluarga.

Tetapi kemudian saya terhenyak dengan pernyataannya,

“Tapi meskipun saya sudah tua, saya tidak mau berhenti bekerja. Bukan hanya karena saya perlu makan dan menghidupi isteri, tetapi saya juga ingin membantu. Saya dibantu banyak orang, saya juga ingin balas membantu, apapun itu. Selama nafas ini masih ada, Neng, saya masih mau berusaha…”

Saya jadi teringat kata-kata kakek. Menjadi pelajaran penting bagi saya: sepanjang masih bisa berjalan, masih ada nafas, manusia wajib terus berusaha.

***

Saya menghela nafas panjang dan berkesimpulan, usia bukan halangan manusia untuk terus berusaha menorehkan setitik perubahan pada hidupnya. Where there’s a will, there’s a way, begitu kata pepatah.

Namun saya kembali bertanya, tidak adakah jalan yang lebih baik bagi orang-orang seperti Pak Rastim? Jalan di mana orang-orang seperti Pak Rastim tidak perlu lagi hidup di jalanan sebagai pengharap kedermawanan orang.

Dulu saya percaya pemerintah akan mampu menumpas permasalahan sosial seperti ini. Dulu saya percaya pemerintah benar-benar mengayomi orang-orang lemah seperti Pak Rastim. Akan tetapi kenyataanya pemerintah tidak cukup peduli.Hingga akhirnya tiada jalan lain selain membiarkan Pak Rastim kembali di pelataran jembatan untuk menanti belas kasihan.

Hari itu saya meninggalkan Pak Rastim. Tidak ada yang dapat saya lakukan untuk merubah nasib Pak Rastim. Meskipun demikian di dalam hati saya berjanji. Mulai hari ini saya akan menjalani hidup dengan lebih baik. Paling tidak saya tidak akan mengulangi lagi perilaku hidup hura-hura, terutama terhadap makanan.

©Tina Latief