Road to Jakarta Marathon 2016, This Year is My Turn!

Jakmar 2016

MATAHARI belum menyingsing tatkala saya dan teman-teman Derby mulai disibukkan dengan sejumlah aktivitas di WS kilometer 29. Kami harus mendirikan tenda, menyiapkan meja dan mengatur bahan-bahan logistik yang diperlukan selama perlombaan. Hari itu, waktu memang masih pagi. Arloji di lengan kiri saya bahkan belum genap menunjukkan pukul setengah enam. Meskipun demikian, kami semua harus bergegas. Setelah bendera start mulai dikibarkan, kami harus siaga menyambut ribuan pelari di jalanan yang berpartisipasi dalam ajang Festival City Jakarta Marathon 2015. Continue reading

Menaklukkan Tanjakan Setan di Jalur Lari Bukit Sodong

img_20161126_115021Ketika KA Senja Solo merapat di Stasiun Tugu, kembali saya menghirup udara Jogja yang beberapa minggu terakhir begitu saya rindukan. Udara pukul enam di Jogja tercium begitu khas. Ketika menghirupnya banyak-banyak, saya dapat merasakan bau kedamaian yang langsung menjalar ke sekujur badan. Continue reading

On Journey with Fellow Runners Situ Gunung Fun Trail Run

img_20170220_173148_822SAYA masih ingat bagaimana raut muka Sayyid, teman semasa SD dulu,  waktu kami mengobrolkan cabang olahraga yang setahun terakhir ini menjadi favorit saya di setiap akhir pekan. Waktu itu ia menatap saya tanpa bergeming. Mimik mukanya nampak serius, jelas kentara bahwa ia tidak sekedar melontarkan pertanyaan basa-basi. Ia merasa heran dengan saya yang sekarang, bagaimana bisa seorang Tina menggemari olahraga lari, demikian ungkapnya. Apalagi tidak sekedar road run melainkan juga trail run, tambahnya. Saat menjawab keheranannya, saya pun tersenyum lebar. Rupanya ia masih ingat, dulu saya sempat tidak menyukai olahraga yang satu ini… Continue reading

Derby Last Samrui 2015

img_20160924_163146SAYA tidak pernah menyangka, upaya saya mencari komunitas lari pada 20 Maret 2015 lalu akan membawa saya berada di tengah-tengah komunitas lari besar seperti Depok Running Buddy (Derby). Komunitas lari yang terus berkembang dengan jumlah anggota yang terus bertambah dari waktu ke waktu. Dalam kurun waktu satu tahun, setidaknya Derby telah merekrut puluhan pelari dari berbagai kalangan usia dan wilayah. Continue reading

Berlaga di Ajang Lari Jalan Raya, Jakarta International 10K

LAGI-LAGI HAL YANG TAK TERDUGA TERJADI DI DALAM HIDUP SAYA. Tidak ingin tertinggal dalam hiporia para atlet nasional dan internasional yang datang ke Jakarta, tanggal 31 Mei 2015 kemarin saya turut mendaftar dalam ajang lari jalan raya, Jakarta International 10K yang diselenggarakan di Silang Monas.

Apakah saya sebegitu inginnya bersaing dengan para atlet tersebut? weitss, tunggu dulu. Saya hanyalah pelari biasa yang bulan Desember lalu baru mulai belajar menjejakkan kaki. Jadi, sudah pasti bersaing dengan para atlet bukanlah tujuan saya. Seperti yang saya ungkapkan di akun instagram saya “I just want to run for fun!”

Karena bagaimanapun juga, rasanya sudah terlambat jika saya ingin menghindari event-event lari seperti ini. Kalau memang serius berlatih, saya tidak akan mengelak. Saya ingin mencoba berlomba. Untuk itu, sehari sebelum berlomba saya berusaha mempersiapkan segala sesuatunya.

running shoes and my bib number

running shoes and my bib number

Tulisan ini saya buat sebagai penanda sekaligus untuk merekam pengalaman, memberikan kritik hingga saran untuk JI10K 2015.

Beberapa jam sebelum berlaga
Malam tanggal 31 Mei, saya sulit sekali untuk tidur. Di satu sisi saya takut terlambat bangun, di sisi lainnya ada perasaan gugup terkait masalah teknis di perlombaan.

Pertama, saya sama sekali tidak punya pengetahuan apa-apa tentang lari jalan raya ini. Adalah pertama kalinya saya mengikuti kompetisi lari yang bersifat publik seperti JI10K. Yang kedua, saya belum pernah sekalipun berlari sejauh 10km, bahkan di saat latihan bersama Derby. Dalam record latihan saya, 8km adalah jarak terjauh yang pernah saya tempuh, itupun hanya sekali. Nah, bisa dibayangkan bukan bagaimana risaunya saya malam itu. Apakah ini berarti saya tidak bunuh diri?

Alhasil, ketika seharusnya badan dipersiapkan sebaik mungkin alias tidur nyenyak, saya justru melakukan sebaliknya. Pukul 12.30 pagi saya sudah terjaga dan lanjut tidak tidur. Setelah packing, saya dan rombongan (Kang Uban, Mas Soni dan Bang Arief) berangkat menuju Monas.

Meskipun jam baru menunjukkan pukul 4.30, sudah banyak orang yang berdatangan mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Pagi itu Monas telah ramai. Suasananya begitu gemilang, dipenuhi warna hijau muda lengkap dengan sepatu lari yang nampak berkilat-kilat.

Menuju start
Matahari yang meninggi mulai mempertegas wajah-wajah peserta lari yang telah memenuhi pelataran. Beberapa diantaranya mulai terlihat melakukan pemanasan, stretching hingga lari-lari pendek. Saya sendiri melakukan hal yang sama, mulai meregang-regangkan otot badan yang masih kaku kedinginan. Sambil sesekali menarik nafas dalam. Fyuh, nervous newlywed… 😀

Menjelang pukul 6.30, ribuan pelari bergerak memadati sekitaran garis start. Orang mulai berdesakan untuk mendapatkan tempat paling depan. Mendadak udara tak lagi segar. Sesaat kemudian saya merasa chaos.

20150531_055950

Saya terpisah dari teman-teman. Selain terjepit di tengah kerumunan, saya sama sekali tidak bisa melihat ke depan. Beruntung saya menemukan Bang Arsy, yang kemudian mengajak saya menyusup ke depan. Sekitar 10 meter dari garis start, di sana saya berdiri. Begitu terdengar suara pistol ditembakkan, di situlah saya tidak bisa lagi memikirkan di mana teman. Pelepasan pelari dimulai pada pukul 6.30. Dan saya harus mulai berlari! Continue reading

Zero Rupee Note, How Civil Society Promote Transparency Using Technology

IMG_20170505_195650_995“Access to information helps citizens hold their own governments accountable, generates new ideas, encourages creativity and entrepreneurship.” —Secretary of State Hillary Rodham Clinton

Saat ini, diskusi mengenai civil society atau masyarakat sipil telah menjadi semakin populer tidak hanya di bidang politik atau bisnis tetapi juga media populer, terutama di media internet. Sekarang ada banyak organisasi yang memanfaatkan teknologi untuk memberikan suaranya (give a voice to the voiceless). Ada banyak definisi yang diajukan, tetapi intinya civil society atau masyarakat sipil adalah hasil dari individu di luar keluarga, negara atau perdagangan yang datang bersama-sama dari berbagai lintas negara dan budaya untuk mencapai tujuan bersama (Sarinath). Continue reading