Tag Archives: Reviews

Salonpas Gel-Patch Ngobrol Bareng Tabloid Bola: Dari mulai belajar lari sampai solusi mengatasi cidera yang benar

Pada dasarnya, orang berlari karena memang suka berlari. Namun terkadang, orang mau bersungguh-sungguh berlari hanya karena mereka ingin sehat. 

SABTU, 25 Maret 2017 lalu aku dan temanku, Oji, berkesempatan menghadiri acara Salonpas Gel-Patch Ngobrol Bareng Tabloid BOLA di The Hook Restaurant, Senopati. Acara bertajuk “Run as a Lifestyle Run as a Life” itu membuatku bersemangat untuk panas-panasan menembus jalanan padat Jakarta. Aku penasaran saja dengan acara ngobrol ini, karena Salonpas dan Tabloid Bola mengundang dua runners yang berbeda dari segi karakter dan style, sebagai narasumber di acara tersebut.  Continue reading

Press Conference Maybank Bali Marathon 2017 dan apa saja yang perlu kamu tahu

“Saya memastikan rute ini lebih indah dan menantang karena 60 persen melewati jalur tanjakan”, —Taswin Zakaria

KAMIS, 16 Maret 2017 kemarin, aku dan temanku, Uki, berkesempatan menghadiri undangan Press Conference Maybank Bali Marathon mewakili komunitas lari Indorunners Depok (Derby) di Sentral Senayan III. Ada beberapa agenda penting yang disampaikan dalam press conference itu: yang pertama dan yang paling ditunggu-tunggu yaitu tentang waktu pelaksanaan Bali Marathon, apa saja yang baru di Bali Marathon dan tentunya pengumuman-pengumuman lain terkait dengan teknis pelaksanaan marathon di Pulau Dewata itu sendiri. Continue reading

Lesson from a Mockingbird

img_20170217_091305_397

Sungguh berdosa membunuh Mockingbird. To Kill A Mockingbird mengajarkan tentang makna kehidupan, lebih dari itu, kedamaian dan keadilan.

DI AWAL Februari, saat aku telah menyelesaikan novel pertama Harper Lee, To Kill A Mockingbird, aku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta pada buku-buku bergenre klasik. Aku tidak tahu pasti apa yang membuatku begitu─mungkin karena aku memiliki jiwa masa lalu, old soul. Tapi aku pikir, buku terbaik apapun masa kini memang tidak ada yang bisa mengalahkan pesona buku-buku klasik. Continue reading

Dikskusi Bersama MPR RI dan Urgensi Pemahaman 4 Pilar untuk Merawat Keindonesiaan Kita

3(4)

PADA 18-19 Maret 2016 lalu, saya berkesempatan menghadiri diskusi bersama MPR RI yang bekerja sama dengan Komunitas Blogger Jogja. Acara bertajuk Netizen Jogja Ngobrol Bareng MPR RI itu diselenggarakan selama dua hari (Jumat dan Sabtu) di hotel East Park, Yogyakarta dengan menyertakan sebanyak 150an peserta. Continue reading

Bagaimana Menjadi Pemain di Era Media Digital

IMG_20150901_073802“Sekarang, orang memposting apapun yang ditemukannya di jalan, meskipun itu hanya bunga ilalang ataupun botol bekas” (kalimat disempurnakan)

Saya sedang membaca timeline di Facebook saat menemukan tulisan tersebut. Tulisan tersebut milik seorang teman lama, seorang ibu muda beranak satu. Continue reading

Menemukan Kenyamanan dalam Pembangunan Alun-Alun Pemda Wonosari yang Baru

8BEBERAPA BULAN tidak main-main ke Jogja khususnya di wilayah Wonosari rupanya cukup membuat saya pangling. Dulu penampakan alun-alun Pemda Wonosari cenderung tertutup dan didominasi oleh pedagang, pengamen serta kumpulan genk anak-anak muda. Kini tempat tersebut nampak berbeda, terlihat jauh lebih tertata, rapih dan terbuka.  Continue reading

Korupsi Politik di Uni Soviet

WednesdaySETELAH MEMBAHAS KORUPSI DI THAILAND, saya bermaksud membahas korupsi yang terjadi di Uni Soviet (USSR). Melalui paper John M. Kramer, saya menemukan dua bentuk korupsi  yaitu korupsi yang dilakukan untuk kepentingan pribadi dan korupsi yang dilakukan untuk kepentingan birokrasi. Suap, penggelapan, dan spekulasi merupakan bentuk bentuk umum dari korupsi untuk kepentingan pribadi. Sementara korupsi untuk keuntungan birokrasi berbentuk manipulasi data dan penggunaan pengaruh ilegal yang dirancang untuk meningkatkan efektivitas organisasi untuk kepentingan karyawan organisasi.

Korupsi untuk kepentingan pribadi
Korupsi untuk kepentingan pribadi di Soviet dijelaskan Kramer melalui beberapa kasus. Pertama, korupsi yang terjadi di sektor perumahan. Hal ini terjadi saat Uni Soviet menghadapi kekurangan perumahan yang serius, terutama di daerah perkotaan. Sehingga banyak pejabat publik yang menggunakan cara-cara ilegal untuk menggelapkan bahan-bahandari negara untuk membangun rumah pribadi mereka sendiri.

Kedua, korupsi di Uni Soviet terjadi akibat kesulitan mendapatkan mobil. Untuk membeli mobil, calon pembeli harus menunggu dua sampai tiga tahun, bahkan di beberapa kota sampai sepuluh tahun. Oleh karena itu, banyak pembeli mempercepat pengiriman mobil mereka dengan cara menyuap pejabat. Bahkan hal ini turut memicu pencurian terhadap bahan bakar dan suku cadang.

Kesulitan memperoleh buah dan sayur turut menyebabkan terjadinya korupsi di Soviet. Ada banyak pejabat yang mencuri buah dan sayur untuk diperdagangkan secara ilegal sehingga menguntungkan bagi banyak pejabat. 

Selain itu, korupsi juga terjadi akibat sulitnya mengakses sarana pendidikan tinggi. Adanya persaingan yang ketat untuk masuk ke lembaga pendidikan tinggi (VUZ) sementara kuota penerimaan tidak diimbangi dengan pendaftar  menyebabkan banyak orang tua berusaha meningkatkan prospek masuk anak-anak mereka dengan cara menekan administrator VUZ dengan cara ilegal.

Korupsi untuk kepentingan birokrasi
Untuk memahami korupsi tipe ini, kita perlu memahami lingkungan di mana personil produksi bekerja. Hal ini karena 1) mereka sering menghadapi ketidakpastian yang bukan hanya karena target rencana yang kadang-kadang berubah selama periode rencana, tetapi juga karena adanya aliran yang tidak menentu dari perusahaan, 2) para pekerja ini berada di bawah tekanan berat untuk meningkatkan produksi dan efisiensi perusahaan. Sementara itu, perencana sering menggunakan kriteria kuantitatif (misalnya, jumlah unit yang diproduksi) untuk mengevaluasi keberhasilan suatu perusahaan. Oleh sebab itu, korupsi yang dilakukan oleh para pejabat perusahaan biasanya dilakukan dengan cara memanipulasi data produksi untuk menunjukkan keberhasilan kerjanya.

Bagaimana korupsi terjadi?
Menurut Kramer, seorang pejabat publik harus memiliki peluang dan insentif untuk terlibat dalam korupsi. Jika kedua hal ini tidak ada, korupsi tidak mungkin dilakukan.

Insentif dan peluang itu muncul melalui 1) insentif keuangan yang kuat yang bertemu dengan tindakan ilegal yang berkaitan dengan upaya pemenuhan kebutuhan konsumen, 2) regulasi di Soviet yang terlalu terpusat sehingga sulit bagi administrasi tertentu untuk mengikuti aturan tersebut, 3) kurangnya partisipasi kelompok atau individu dalam perumusan kebijakan sehingga memicu upaya-upaya untuk menggagalkan kebijakan tersebut, serta 4) banyaknya pejabat yang tidak memiliki stigma moral terhadap tindakan rezim yang korup. Continue reading