Menjejakkan Kaki di Negeri Sawit

SETELAH sempat kalap oleh buruknya cuara —berkali-kali terguncang sangat keras, bahkan sempat diliput suasana gulita— akhirnya, pesawat Boeing yang saya tumpangi berhasil mendarat dengan mulus.

Saya masih ingat bagaimana suasana saat masih di atas, kabin begitu sepi, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut para penumpang. Semuanya diam, membisu menunggu datangnya titik terang. Hingga saat cahaya remang-remang terlihat dari jendela pesawat barulah terdengar hela nafas lega dari para penumpang. Gugusan berwarna hijau tua mirip terumbu karang yang nampak dari jendela kedua sisi pesawat menjadi pertanda bahwa kami sebentar lagi tiba di Riau.

Sultan Syarif Kasim International Airport, Pekanbaru, Riau

Pertamakali menjejakkan kaki di Pekanbaru, Riau, memandangi pemandangan alam hutan yang hijau disepanjang bandara Sultan Syarif Kasyim II terasa begitu menyenangkan. Luasnya bandar udara yang ditata dengan begitu apik seketika menyingkirkan persepsi saya tentang bandar-bandar udara yang ada di Indonesia. Teramat berbeda jika dibandingkan dengan dua bandara yang sering menjadi destinasi saya selama di Jawa, yang selalu padat dan terbilang sempit. Di sini, saya yakin orang akan begitu menikmati saat-saat bepergian dengan pesawat.

Akan tetapi, ada perasaan gugup yang menyelimuti perasaan saya tatkala sampai di sini. Bukan karena penerbangan sempat terganggu cuaca buruk, akan tetapi karena saya sama sekali tidak memiliki pengalaman apapun tentang tentang kota ini.

Tatkala bus rombongan membawa saya keluar dari bandara, jalanan yang kami lewati dikelilingi pohon-pohon yang tidak biasa. Batangnya besar-besar, sebesar lingkaran tangan orang dewasa, di mana di atasnya tumbuh subur tanaman paku-pakuan. Daunnya menjuntai panjang ke bawah. Beberapa nampak sudah berbuah, jingga kemerah-merahan. Rupanya inilah penampakan alam yang sempat saya lihat beberapa saat sebelum landing tadi. Hamparan hijau lebat menyerupai terumbu karang itu rupanya kebun kelapa sawit.

Ada pula yang lain dari yang biasa saya jumpai. Selama kurang lebih dua jam di dalam bus, tak satupun angkutan umum nampak di perjalanan. Tidak seperti di Jakarta yang begitu padat kendaraan, jalanan itu nampak sepi sehingga buspun dapat melaju dengan kencangnya. Hanya ada beberapa taksi yang sempat terlihat berlalu-lalang beriringan dengan bus yang saya tumpangi. Dari sini saya dapat menduga, biaya transportasi di sini pastilah sangat mahal.

Kompleks perumahan di Pangkalan Kerinci

Bus yang kami tumpangi bermaksud membawa kami ke Pangkalan Kerinci. Kecamatan bagian dari Kabupaten Pelalawan ini merupakan kawasan yang terdiri dari areal perumahan, perhotelan dan sentra industri penghasil bubur kertas dan produk kertas Paper-One milik PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Di sinilah kami beserta 200 lebih mahasiswa undangan akan menghabiskan malam hingga berkegiatan selama 4 hari ke depan. Adapun agenda kegiatan yang telah dijadwalkan adalah mahasiswa berkesempatan mengunjungi tempat seperti pabrik kertas, nursery, sekolah alam, dan kebun kelapa sawit. Tidak ketinggalan, ada kegiatan outbond menantang yang akan kami mainkan selama gathering.

Badges

Sekolah berbasis alam, Sekolah Global Andalan Pelalawan State

Nursery, tempat dibiakkannya bibit Akasia bahan baku pembuat bubur kertas dan kertas

Melihat skema proses pengolahan kelapa sawit menjadi minyak sawit

Bisa dibilang acara yang digelar dengan mengundang mahasiswa dari berbagai universitas se-Indonesia ini adalah acara traveling. Karena meskipun kegiatan diatur dalam serangkaian acara TSG2014 (Tanoto Scholars Gathering 2014), kami juga berkesempatan mengeksplor situasi dan kondisi di sana sendiri.

Namun acara sesungguhnya dari gathering ini adalah untuk belajar dari kesuksesan seorang tokoh inspiratif yang merupakan founder dari Tanoto Foundation, Bapak Sukanto Tanoto. Tentang bagaimana beliau mencari peluang bisnis, memulai bisnis, hingga cara mensukseskan usahanya, lantas muncul inisiatif beliau untuk berbagi kesuksesan dengan kami para mahasiswa di Indonesia.

Berikut poin-poin penting yang beliau sampaikan saat talkshow:

  1. Mulai bisnis sejak lulus SMA, memulainya bisa dari common sense saja.
  2. Worse case-base case selalu menjadi landasan berpikir dalam bisnis
  3. Mulai usaha apapun dengan melihat pasar terlebih dulu.
  4. Support keluarga sangat penting karena hidup melewati masa jatuh bangun. Keluarga adalah savety net.
  5. Reputasi menentukan bisnis, apakah bisnis bisa berjalan panjang ataukah tidak. 
  6. Apapun profesi kita, identifikasi key factor untuk bisa sukses
  7. Pahami profesi/ bisnis, investasikan waktu untuk mempelajarinya. 
  8. Kita harus tau seberapa besar tenaga kita. Don’t give up! Cari jalan keluarnya dengan bertanya kepada yang ahli.
  9. Pahami bisnis modelnya, kemauan untuk belajar dan gigih adalah modal awal memulai bisnis, bukan uang. 

Selama empat hari di negeri sawit, ada banyak pengalaman dan pelajaran yang saya dapat dari sini. Tidak hanya tentang bagaimana memulai bisnis, tetapi juga tentang bagaimana saya akan menjadi seseorang di kelak kemudian hari.

Karena tidak lama lagi saya akan lulus. Sudah semestinya ada yang bisa saya lakukan usai lulus dari bangku universitas. Lantas apakah yang bisa saya lakukan di kelak kemudian hari? Akan menjadi apakah saya nanti? Tantangan!

Nah mahasiswa, apa yang bisa kalian lakukan?

ui new

tinaa

Advertisements

2 thoughts on “Menjejakkan Kaki di Negeri Sawit

  1. Raaifa

    Pekanbaru.. Jadi ingat kalo 5 thn lewat saya pernah mencari sesuap nasi selama satu tahun disana. Karena adanya kebijakan dari kantor pusat, saya harus dipindah lagi ke cabang lain di salah satu kota di Sulawesi. Namun setelah mikir beberapa lama dan setelah konsultasi, akhirnya saya putusin saya resign saja dari perusahaan tersebut. Di Pekanbaru itu selain budaya dan kultur masyarakat sana sesuai dengan saya, jaraknya dari kampungpun dekat.. maklum, propinsi kami tetanggaan. Cuma 8 jam perjalanan darat 😀

    Like

    Reply

Any comments? just post!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s